KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor data center global diperkirakan terus ekspansi signifikan. Berdasarkan laporan Global Data Center Outlook 2026 terbaru dari JLL, kapasitas global data center di tahun 2030 diperkirakan hampir dua kali lipat. Dari 103 gigawatt (GW) menjadi 200 GW . Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi pendorong utama perubahan lanskap industri ini. Beban kerja AI diperkirakan akan mencakup sekitar 50% dari total kapasitas global pada tahun 2030. Meski tumbuh cepat, fundamental sektor ini tetap dinilai sehat dan indikator properti tidak menunjukkan adanya risiko gelembung pasar. Pertumbuhan masif tersebut diperkirakan akan membutuhkan total investasi hingga US$ 3 triliun dalam lima tahun ke depan. Nilai tersebut mencakup US$ 1,2 triliun peningkatan nilai aset properti. Lalu sekitar US$ 870 miliar pembiayaan utang baru, yang menandai dimulainya fase
supercycle investasi infrastruktur.
“Kami tengah menyaksikan transformasi paling signifikan pada infrastruktur data center sejak migrasi
cloud pertama kali terjadi,” ujar Matt Landek,
Global Division President, Data Centers and Critical Environments di JLL, dalam rilis ke Kontan.co.id, Jumat (16/1). .
Baca Juga: Kapasitas Data Center RI Melonjak, IDPRO Dorong Percepatan Ekosistem Digital Skala permintaan yang muncul sangat luar biasa. Hyperscaler mengalokasikan hingga US$ 1 triliun untuk belanja data center hanya dalam periode tahun 2024 hingga 2026. "Di saat yang sama, keterbatasan pasokan dan lamanya proses koneksi jaringan listrik hingga empat tahun menciptakan kondisi menantang. Secara mendasar membentuk ulang pendekatan kami terhadap pengembangan, sumber energi, dan strategi pasar," papar Landek. Perkembangan global ini tercermin dalam prospek pasar Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memperkirakan, industri data center Indonesia akan tumbuh sekitar 14% per tahun hingga 2028. Sejalan dengan itu, Bank Dunia memproyeksikan permintaan data center di Indonesia tumbuh hingga 16,8% per tahun, yang menegaskan kuatnya fundamental jangka panjang sektor ini. Pasar investasi properti di Indonesia saat ini tengah mengalami tren diversifikasi. Investor semakin aktif menjajaki sektor-sektor alternatif yang menawarkan stabilitas serta potensi pertumbuhan jangka panjang. "Data center muncul sebagai salah satu segmen paling menarik, bersama dengan sektor logistik, kesehatan, dan pendidikan,” ujar Farazia Basarah,
Country Head JLL Indonesia.
Baca Juga: Hadapi Dinamika Properti, TRIN Garap Logistic Park dan Data Center Mulai 2026 Beban kerja AI diperkirakan akan mencakup sekitar 50% dari total kapasitas data center global pada 2030, dibandingkan sekitar 25% pada 2025. JLL memperkirakan, akan terjadi titik krusial pada 2027, ketika kebutuhan
AI inference melampaui
training sebagai kebutuhan utama. “Kami melihat munculnya paradigma infrastruktur baru. Fasilitas pelatihan AI membutuhkan kepadatan daya hingga 10 kali lebih besar dan mampu menghasilkan tarif sewa sekitar 60% lebih tinggi dibandingkan data center konvensional,” ujar Andrew Batson,
Global Head of Data Center Research di JLL. Di luar aspek ekonomi, AI kini telah menjadi isu strategis nasional, yang mendorong berbagai negara untuk mengembangkan kapabilitas domestik melalui investasi infrastruktur yang didukung pemerintah dengan peluang belanja modal (CapEx) hingga US$ 8 miliar pada 2030. Kontribusi pendapatan dari chip AI diproyeksikan meningkat dari sekitar 20% menjadi 50% dari total pasar semikonduktor pada 2030. Pada saat yang sama,
custom silicon diperkirakan akan menguasai sekitar 15% pangsa pasar, seiring hyperscaler mengembangkan prosesor mereka sendiri. Ke depan, teknologi baru seperti
neuromorphic computing juga berpotensi berkembang untuk kebutuhan
inference yang sangat efisien. Sehingga dapat menurunkan kebutuhan infrastruktur dan meningkatkan efisiensi penggunaan energi pada data center.
Baca Juga: Bedah Penyebab Investasi Data Center di Indonesia Kalah Saing dari Negara Tetangga Di Indonesia, percepatan adopsi AI turut mendorong meningkatnya permintaan akan infrastruktur digital yang skalabel dan berkapasitas tinggi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional. Dinamika global terkait energi dan infrastruktur ini semakin menegaskan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam pengembangan data center, khususnya dalam hal ketersediaan listrik, konektivitas, dan kesiapan talenta di tengah persaingan regional yang semakin ketat. “Ke depan, penguatan kesiapan infrastruktur (khususnya dalam ketersediaan listrik dan akses air bersih), konektivitas, serta pengembangan talenta akan menjadi faktor kunci untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif sebagai tujuan investasi data center di kawasan,” tambah Farazia Basarah. Sektor data center juga sedang mengalami penguatan aktivitas di pasar modal. Strategi investasi inti mencakup sekitar 24% dari aktivitas penggalangan dana, meningkat dari kisaran di bawah 10% sebelumnya. Sejak 2020, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) global telah melampaui US$ 300 miliar. Ke depan, arah investasi diperkirakan akan bergeser menuju rekapitalisasi dan kerja sama usaha
(joint venture) seiring semakin pergeseran struktur investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News