Indonesia Kalah dari Malaysia dan China dalam Daya Saing Global 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Posisi Indonesia dalam IMD World Competitiveness Ranking (WCR) 2026 kembali tertinggal dari sejumlah negara di kawasan Asia. 

Dalam pemeringkatan terbaru yang dirilis International Institute for Management Development (IMD), Indonesia berada di peringkat ke-48 dunia, jauh di bawah China yang menempati posisi ke-12 dan Malaysia di peringkat ke-15.

Hasil tersebut menunjukkan daya saing Indonesia belum mampu mengimbangi negara-negara pesaing utama dalam perebutan investasi global, pengembangan industri, dan peningkatan produktivitas ekonomi.


Baca Juga: Alarm Menyala! Daya Saing Indonesia Anjlok ke Peringkat 48

Padahal, Indonesia sempat mencatat perbaikan signifikan pada 2024 dengan menembus peringkat ke-27 dunia. 

Namun, tren tersebut berbalik dalam dua tahun terakhir. Posisi Indonesia turun ke peringkat 40 pada 2025 dan kembali merosot menjadi peringkat 48 pada 2026.

Sebaliknya, China berhasil memperbaiki posisinya dari peringkat 16 pada 2025 menjadi 12 pada 2026. Malaysia juga mencatat kemajuan dari posisi 23 menjadi 15 pada periode yang sama.

Laporan IMD menunjukkan kinerja ekonomi Indonesia sebenarnya relatif kuat. Pada faktor Economic Performance, Indonesia berada di peringkat 24 dunia, lebih baik dibanding sejumlah negara berkembang lainnya. 

Namun, keunggulan tersebut belum cukup untuk mendongkrak peringkat keseluruhan.

Salah satu faktor yang menekan daya saing Indonesia adalah memburuknya efisiensi bisnis. Pada 2024 Indonesia bahkan sempat berada di posisi 14 dunia untuk indikator Business Efficiency. Namun peringkat tersebut turun menjadi 26 pada 2025 dan anjlok ke posisi 50 pada 2026.

Efisiensi pemerintah juga menunjukkan pelemahan. Peringkat Indonesia pada faktor Government Efficiency turun dari posisi 23 pada 2024 menjadi 34 pada 2025 dan kembali merosot ke peringkat 38 pada 2026.

Sementara itu, infrastruktur masih menjadi tantangan besar. Indonesia hanya menempati peringkat 58 dunia pada aspek Infrastructure, jauh tertinggal dibanding banyak negara Asia yang menjadi tujuan utama investasi internasional.

Baca Juga: Perpres Stunting Berakhir pada 2024, BKKBN Akui Masih Menunggu Perpanjangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News