JAKARTA. Indonesia merupakan penghasil rotan mentah terbesar di dunia. Sekitar 80% produksi rotan dunia dihasilkan dari hutan-hutan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatera hingga Papua. Namun sayangnya, meski kaya akan bahan baku, industri olahan rotan dalam negeri justru bernasib sebaliknya. Berbagai persoalan di dalam negeri dan krisis membuat industri olahan rotan kita kian terpuruk. Salah satu buktinya, nilai ekspor produk olahan rotan terus merosot dari tahun ke tahun. Ambil contoh, nilai ekspor produk keranjang rotan dan sejenisnya turun dari US$ 27,04 juta pada tahun 2007 menjadi US$ 19,22 juta di tahun 2008. Nilai ekspor kursi dan perabot rumah tangga rotan juga merosot dari US$ 155,16 juta di 2007 menjadi US$ 106,06 juta di 2008. Nilai ekspor yang terus menyusut membuat banyak produsen olahan rotan bertumbangan. Kalau tahun 2007 masih terdapat 614 unit usaha pengolahan rotan di tanah air, pada 2008, hanya tinggal 234 unit usaha yang tersisa.Sebagian pengusaha pengolah rotan menuding SK Menteri Perdagangan No.12 Tahun 2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan sebagai salah satu penyebab persoalan mereka. Sebab, lewat aturan itu, pemerintah membuka keran ekspor rotan mentah.Ketua Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Hatta Sinatra menyebut, produksi perajin olahan rotan semakin rendah sejak ekspor rotan mentah dibuka. Maklum, kebijakan ini membuat perajin rotan kesulitan bahan baku."Produsen lebih memilih ekspor rotan, karena dari segi harga lebih menguntungkan," ujar Hatta. Akibatnya, selain langka, harga rotan mentah pun menjadi naik. Jika sebelumnya perajin cukup menebus rotan mentah sekitar Rp 13.000 per kilogram (kg), kini mereka harus membeli seharga Rp 17.000 per kg.Wakil Ketua Asosiasi Produsen Rotan Indonesia (APRI) Julius Hoesan membantah tudingan ini. Menurutnya yang terjadi selama ini, perajin hanya mencari rotan dengan jenis dan ukuran tertentu. Barang inilah yang tidak bisa mereka sediakan. "Jika kami harus mencari rotan untuk kemudian diambil varian tertentu dalam jumlah sedikit, varian lainnya yang ikut terambil akan terbuang," ujarnya.Kenyataannya, nilai ekspor rotan mentah Indonesia terus meningkat, yakni dari US$ 24,10 juta pada 2007 menjadi US$ 27,94 juta di tahun 2008. Ekspor rotan periode Januari-April 2009 juga telah mencapai US$ 7,36 juta, meningkat dari US$ 7,20 juta pada periode yang sama 2008. Kalah bersaing
Indonesia Kaya Bahan Baku Rotan, Miskin Produk Olahan Rotan
JAKARTA. Indonesia merupakan penghasil rotan mentah terbesar di dunia. Sekitar 80% produksi rotan dunia dihasilkan dari hutan-hutan di Pulau Kalimantan, Sulawesi, Sumatera hingga Papua. Namun sayangnya, meski kaya akan bahan baku, industri olahan rotan dalam negeri justru bernasib sebaliknya. Berbagai persoalan di dalam negeri dan krisis membuat industri olahan rotan kita kian terpuruk. Salah satu buktinya, nilai ekspor produk olahan rotan terus merosot dari tahun ke tahun. Ambil contoh, nilai ekspor produk keranjang rotan dan sejenisnya turun dari US$ 27,04 juta pada tahun 2007 menjadi US$ 19,22 juta di tahun 2008. Nilai ekspor kursi dan perabot rumah tangga rotan juga merosot dari US$ 155,16 juta di 2007 menjadi US$ 106,06 juta di 2008. Nilai ekspor yang terus menyusut membuat banyak produsen olahan rotan bertumbangan. Kalau tahun 2007 masih terdapat 614 unit usaha pengolahan rotan di tanah air, pada 2008, hanya tinggal 234 unit usaha yang tersisa.Sebagian pengusaha pengolah rotan menuding SK Menteri Perdagangan No.12 Tahun 2005 tentang Ketentuan Ekspor Rotan sebagai salah satu penyebab persoalan mereka. Sebab, lewat aturan itu, pemerintah membuka keran ekspor rotan mentah.Ketua Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI) Hatta Sinatra menyebut, produksi perajin olahan rotan semakin rendah sejak ekspor rotan mentah dibuka. Maklum, kebijakan ini membuat perajin rotan kesulitan bahan baku."Produsen lebih memilih ekspor rotan, karena dari segi harga lebih menguntungkan," ujar Hatta. Akibatnya, selain langka, harga rotan mentah pun menjadi naik. Jika sebelumnya perajin cukup menebus rotan mentah sekitar Rp 13.000 per kilogram (kg), kini mereka harus membeli seharga Rp 17.000 per kg.Wakil Ketua Asosiasi Produsen Rotan Indonesia (APRI) Julius Hoesan membantah tudingan ini. Menurutnya yang terjadi selama ini, perajin hanya mencari rotan dengan jenis dan ukuran tertentu. Barang inilah yang tidak bisa mereka sediakan. "Jika kami harus mencari rotan untuk kemudian diambil varian tertentu dalam jumlah sedikit, varian lainnya yang ikut terambil akan terbuang," ujarnya.Kenyataannya, nilai ekspor rotan mentah Indonesia terus meningkat, yakni dari US$ 24,10 juta pada 2007 menjadi US$ 27,94 juta di tahun 2008. Ekspor rotan periode Januari-April 2009 juga telah mencapai US$ 7,36 juta, meningkat dari US$ 7,20 juta pada periode yang sama 2008. Kalah bersaing