JAKARTA. Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga kerja di bidang pelayaran hingga lima tahun ke depan. Selain karena kemampuan yang terbatas dari sekolah pelayaran untuk mencetak lulusan, sebagian besar lulusan sekolah pelayaran di Indonesia lebih suka bekerja di perusahaan pelayaran luar negeri karena gaji yang lebih tinggi.Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP SDM) Kemenhub Bobby R Mamahit mengatakan saat ini sekolah pelayaran di Indonesia hanya mampu meluluskan sekitar 700 hingga 1.000 tenaga di bidang pelayaran dalam waktu satu tahun. Sayangnya, dengan jumlah lulusan yang terbatas itu, sebagian besar lulusan memilih bekerja ke perusahaan asing di luar negeri. "Dalam satu kelas yang berisi 20 siswa, yang bekerja ke perusahaan asing setelah lulus bisa mencapai 15 siswa," jelas Bobby. Alasan lulusan sekolah pelayaran lebih memilih bekerja pada perusahaan asing daripada perusahaan nasional menurut Bobby karena persoalan gaji yang lebih tinggi. Sebagai contoh, gaji pelaut di perusahaan Indonesia ada yang terendah Rp 500.000. Sedangkan di perusahaan asing, gajinya bisa mencapai Rp 5 juta. Bahkan untuk perwira bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta.Untuk mengatasi permasalahan itu, Bobby mengatakan pemerintah semestinya melakukan penyesuaian gaji untuk mencegah para pelaut Indonesia lari ke luar negeri. Selain itu, langkah menahan lulusan agar bekerja di perusahaan pelayaran nasional adalah dengan mengikat mereka melalui pembiayaan pendidikan yang diberikan oleh perusahaan nasional. Jadi setelah lulus, mereka dapat langsung bekerja di perusahaan pelayaran lokal.Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Arifin Sunardjo mengatakan untuk menaikkan gaji di perusahaan pelayaran nasional tidak mudah. Menurutnya perusahaan pelayaran nasional tidak bisa begitu saja menaikkan gaji karena biaya hidup yang diperlukan di Indonesia berbeda dengan di luar negeri. "Yang harus dilakukan adalah meningkatkan jumlah lulusan sekolah pelayaran," ungkap Arifin.Untuk meningkatkan jumlah lulusan menurut Arifin sekolah pelayaran dapat menempuh program percepatan kelulusan. Dengan program percepatan itu, siswa yang biasanya harus menempuh pendidikan 4 tahun hingga 5 tahun bisa lulus dalam 2,5 tahun. Dengan program percepatan itu, maka jumlah lulusan sekolah pelayaran akan bisa ditingkatkan.
Indonesia kekurangan SDM di bidang pelayaran
JAKARTA. Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga kerja di bidang pelayaran hingga lima tahun ke depan. Selain karena kemampuan yang terbatas dari sekolah pelayaran untuk mencetak lulusan, sebagian besar lulusan sekolah pelayaran di Indonesia lebih suka bekerja di perusahaan pelayaran luar negeri karena gaji yang lebih tinggi.Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP SDM) Kemenhub Bobby R Mamahit mengatakan saat ini sekolah pelayaran di Indonesia hanya mampu meluluskan sekitar 700 hingga 1.000 tenaga di bidang pelayaran dalam waktu satu tahun. Sayangnya, dengan jumlah lulusan yang terbatas itu, sebagian besar lulusan memilih bekerja ke perusahaan asing di luar negeri. "Dalam satu kelas yang berisi 20 siswa, yang bekerja ke perusahaan asing setelah lulus bisa mencapai 15 siswa," jelas Bobby. Alasan lulusan sekolah pelayaran lebih memilih bekerja pada perusahaan asing daripada perusahaan nasional menurut Bobby karena persoalan gaji yang lebih tinggi. Sebagai contoh, gaji pelaut di perusahaan Indonesia ada yang terendah Rp 500.000. Sedangkan di perusahaan asing, gajinya bisa mencapai Rp 5 juta. Bahkan untuk perwira bisa mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta.Untuk mengatasi permasalahan itu, Bobby mengatakan pemerintah semestinya melakukan penyesuaian gaji untuk mencegah para pelaut Indonesia lari ke luar negeri. Selain itu, langkah menahan lulusan agar bekerja di perusahaan pelayaran nasional adalah dengan mengikat mereka melalui pembiayaan pendidikan yang diberikan oleh perusahaan nasional. Jadi setelah lulus, mereka dapat langsung bekerja di perusahaan pelayaran lokal.Direktur Perkapalan dan Kepelautan, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub, Arifin Sunardjo mengatakan untuk menaikkan gaji di perusahaan pelayaran nasional tidak mudah. Menurutnya perusahaan pelayaran nasional tidak bisa begitu saja menaikkan gaji karena biaya hidup yang diperlukan di Indonesia berbeda dengan di luar negeri. "Yang harus dilakukan adalah meningkatkan jumlah lulusan sekolah pelayaran," ungkap Arifin.Untuk meningkatkan jumlah lulusan menurut Arifin sekolah pelayaran dapat menempuh program percepatan kelulusan. Dengan program percepatan itu, siswa yang biasanya harus menempuh pendidikan 4 tahun hingga 5 tahun bisa lulus dalam 2,5 tahun. Dengan program percepatan itu, maka jumlah lulusan sekolah pelayaran akan bisa ditingkatkan.