Indonesia masih jadi favorit investor global



JAKARTA. Indonesia masih jadi tujuan investasi investor global. Salah satu indikatornya, hasil penawaran awal surat utang denominasi dollar AS yang kelebihan permintaan (oversubscribed).

Global bond 2015 berhasil mendapatkan permintaan senilai US$ 19,3 miliar atau oversubscribed 4,8 kali lipat dari realisasi dan target penerbitan yang sebesar US$ 4 miliar.

Pengamat ekonomi Lana Soelistianingsih mengatakan banjirnya permintaan pada global bond 2015 disebabkan oleh beberapa faktor. "Yang pertama jelas karena likuiditas global sedang sangat tinggi," ujar Lana.


Ia menambahkan, banjir likuiditas terjadi di Eropa dan Jepang yang masing-masing bank sentralnya mengeluarkan stimulus. "Mereka juga tidak masalah menukarkannya ke dollar AS karena mata uang safe haven," kata Lana.

Faktor kedua, harapan investor terhadap peringkat surat utang Indonesia. Harapan ini muncul terkait kebijakan pemerintah yang mencabut subsidi Bahan Bakar Minyak. Nah kebijakan ini, memicu harapan bahwa lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P) akan meningkatkan peringkat surat utang Indonesia dari BB ke level investment grade BBB.

Maka penerbitan Surat Utang Negara (SUN) valas saat ini sangat menarik lantaran masih memberikan kupon relatif tinggi. "Investor global berpikir, SUN valas sekarang kuponnya masih tinggi. Nanti kalau sudah investment grade, Indonesia tidak bakal menawarkan kupon setinggi sekarang," ujar Lana.

Jika dibandingkan dengan negara lain, peringkat utang Indonesia sejajar dengan Turki dan Colombia. Menurut Lana, dibandingkan dua negara tersebut, Indonesia masih paling menarik karena potensi investment grade tadi.

Sebagai perbandingan, global bond Filipina bahkan oversubscribed hingga 7 kali. Menurut Lana, ini karena peringkat utang Filipina yang lebih tinggi yakni BBB. "Investor surat utang itu sangat sensitif terhadap peringat utang," ujarnya.

"Indonesia juga tidak bisa dibandingkan dengan India karena peringkat utang India sudah BBB. Apalagi Malaysia yang sudah A," tambahnya.

Pemerintah masih menyimpan 3 SUN valas lagi pada 2015 ini yakni global sukuk, samurai bond dan euro bond. Dari 3 SUN valas ini menurut Lana yang paling diburu investor adalah global sukuk. Ini karena denominasinya masih dollar AS dan target pasarnya yang merupakan negara timur tengah. Negara di kawasan ini, menurut Lana, selalu dipandang kebanjiran likuiditas karena sebagai produsen minyak.

"Asalkan global sukuk diterbitkan sebelum Fed fund rate naik," ujar Lana. Kebijakan Bank Sentral Amerika tersebut dipandang akan mengalihkan perhatian investor untuk berinvestasi di Amerika Serikat.

Sedangkan pada euro bond dan samurai bond, masih punya potensi oversubcribed asalkan tingkat likuiditas global masih setinggi sekarang.

"Sebenarnya mata uang yen dan euro sedang tidak menarik bagi investor karena melemah terus. Tapi jika kupon yang ditawarkan pemerintah cukup tinggi di tengah banjirnya likuiditas, maka masih punya potensi oversubcribed," lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News