Indonesia Masih Jadi Pasar Produk Halal Terbesar, Industri Didorong Naik Kelas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Potensi pasar halal Indonesia yang besar belum sepenuhnya diimbangi dengan kapasitas produksi dalam negeri. Kondisi ini membuat Indonesia masih berperan sebagai konsumen, sementara peluang industri halal global terus berkembang. Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan mengatakan, pertumbuhan populasi muslim dunia menjadi peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan industri halal. Potensi tersebut mencakup makanan, fesyen, farmasi, kosmetik hingga pariwisata. Menurut Haikal, industri halal juga tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan konsumen muslim. Produk halal dapat menjadi standar kualitas yang mencakup aspek kesehatan, transparansi dan ketertelusuran.

Baca Juga: Gelar RUPSLB, Sandiaga Uno Resmi Jadi Komisaris MUTU, Ekspansi Jadi Fokus Perseroan “Halal bukan hanya untuk umat Muslim, tetapi merupakan standar kesehatan, standar peradaban modern, serta mencakup transparansi, ketertelusuran dan kepercayaan,” ujar Haikal dalam Diskusi Publik Industri Halal yang digelar Universitas Paramadina, Senin (24/8/2026). Haikal menilai peluang tersebut perlu diikuti dengan penguatan kapasitas industri domestik. Dengan begitu, Indonesia tidak hanya mengandalkan produk halal dari luar negeri, tetapi juga mampu meningkatkan ekspor. Peneliti CSED INDEF Abdul Hakam Naja mengatakan, posisi Indonesia saat ini masih menunjukkan besarnya peran sebagai konsumen produk halal. Kondisi tersebut menjadi tantangan agar pengembangan sertifikasi halal dapat diikuti pertumbuhan produksi dalam negeri. “Negara-negara OKI (Organisasi Kerja Sama Islam) termasuk Indonesia itu masih menjadi konsumen. Jadi belum menjadi produsen,” kata Hakam dalam Diskusi Publik Industri Halal yang digelar Universitas Paramadina, Senin (24/8). Hakam menambahkan, pengembangan industri halal membutuhkan dukungan lintas kementerian dan pelaku usaha. Peran BPJPH sebagai regulator dan pemberi jaminan halal perlu diikuti penguatan industri, agar produk halal semakin banyak diproduksi di dalam negeri. Dalam diskusi tersebut, Hakam juga memaparkan posisi Indonesia dalam State of the Global Islamic Economy (SGIE). Indonesia disebut berada di peringkat keempat, turun dari posisi ketiga sebelumnya. Meski demikian, Indonesia masih memiliki peluang memperkuat industri halal melalui peningkatan produksi, pengembangan rantai pasok dan perluasan pasar ekspor. Haikal pun mendorong pengembangan ekosistem halal tidak hanya terpusat di Jakarta dan sekitarnya. Pengembangan klaster serta kawasan industri halal di daerah dinilai dapat membantu pemerataan industri dan membuka peluang bagi pelaku usaha lokal.

Baca Juga: Secure Parking Targetkan Bisnis Tumbuh 10% pada Tahun 2026


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News