KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 menunjukkan posisi pasar modal Indonesia masih relatif kuat dibandingkan negara berkembang lainnya. Hal ini membuka peluang Indonesia untuk tetap bertahan dalam kategori Emerging Market (EM). Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Pasardana, Hans Kwee, menilai secara keseluruhan penilaian MSCI terhadap Indonesia masih tergolong baik. “Indonesia memiliki 10 kriteria ‘++’, 6 kriteria ‘+’, dan hanya 2 kriteria ‘-’. Ini menunjukkan posisi Indonesia masih cukup kompetitif dibandingkan negara emerging market lainnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (22/6/2026).
Ia membandingkan, capaian tersebut memang masih di bawah Hong Kong dan Malaysia, namun lebih unggul dibandingkan India, Korea Selatan, Filipina, Taiwan, dan Thailand.
Baca Juga: Cum Dividen Jumbo MKPI Hari Senin (22/6): Cek Profil Emiten Properti dan Kinerjanya Bahkan dibandingkan Vietnam yang berpotensi naik kelas ke emerging market, posisi Indonesia dinilai jauh lebih baik dari sisi aksesibilitas pasar. Meski demikian, terdapat satu indikator yang mengalami penurunan pada review tahun ini, yakni aspek
information flow yang turun dari “+” menjadi “-”. Hans menjelaskan, penurunan ini berkaitan dengan ketersediaan dan transparansi informasi bagi investor, khususnya dalam bahasa Inggris. Namun, ia menilai hal tersebut telah direspons oleh regulator melalui agenda reformasi pasar modal. “Untuk
information flow sebenarnya sudah dijawab oleh OJK dan SRO, sehingga ke depan berpotensi kembali membaik,” katanya. Di sisi lain, Indonesia mencatatkan nilai “++” pada sejumlah indikator kunci seperti
foreign ownership limits, capital flow restrictions, hingga trading dan settlement. Bahkan pada indikator
foreign ownership limits dan
foreign room, Indonesia dinilai lebih baik dibandingkan Hong Kong dan India. Mengacu pada tiga faktor utama MSCI, yakni perkembangan ekonomi, ukuran dan likuiditas, serta aksesibilitas pasar, Indonesia dinilai masih memenuhi syarat untuk tetap berada di kategori emerging market. Saat ini terdapat 11 saham Indonesia yang memenuhi kriteria ukuran dan likuiditas MSCI, jauh di atas ambang minimum yang disyaratkan. Dengan kondisi tersebut, Hans memperkirakan Indonesia tidak akan mengalami penurunan klasifikasi menjadi frontier market pada MSCI Market Classification Review yang dijadwalkan pada 23 Juni 2026. “Indonesia tidak mungkin turun ke frontier market. Peluang terbesar adalah tetap di emerging market,” jelasnya. Selain itu, ia juga melihat adanya peluang pencabutan interim freeze yang saat ini masih membatasi masuknya saham baru Indonesia ke dalam indeks MSCI. Namun demikian, terdapat kemungkinan Indonesia tetap bertahan di kategori emerging market tanpa diikuti pencabutan interim freeze.
Ia menegaskan, keberadaan interim freeze saat ini tidak lagi memberikan tekanan signifikan terhadap pasar saham domestik. “Interim freeze hanya menunda potensi saham-saham Indonesia untuk masuk ke dalam indeks MSCI pada review Agustus,” katanya.
Baca Juga: Esa Medika Mandiri (EMMI) Incar Rp 269 Miliar Lewat IPO Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News