KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re menilai fenomena El Nino berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Namun, dampaknya terhadap lonjakan klaim asuransi dinilai relatif terbatas akibat masih lebarnya kesenjangan perlindungan (
protection gap) di Indonesia. Direktur Teknik Operasional Indonesia Re Delil Khairat menekankan pentingnya membedakan antara potensi kerugian ekonomi dan klaim asuransi.
Baca Juga: CNAF Ungkap Tantangan Penyaluran Pembiayaan Kendaraan Listrik 2026 Pasalnya, sebagian besar kerugian akibat bencana belum terlindungi oleh asuransi. “Kerugian ekonomi akibat El Nino bisa sangat besar, namun nyaris seluruhnya tidak diasuransikan karena penetrasi asuransi umum di Indonesia masih rendah,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (6/4/2026). Ia mencontohkan, fenomena El Nino pada 2015 menyebabkan kerugian hingga US$ 16,1 miliar atau setara 1,9% produk domestik bruto (PDB). Sementara pada 2019, kerugian tercatat mencapai US$ 5,2 miliar. Namun, sebagian besar kerugian tersebut tidak tercermin dalam klaim industri asuransi. Khusus pada lini asuransi pertanian, Indonesia Re melihat potensi lonjakan klaim tetap ada, terutama akibat risiko gagal panen karena kekeringan. Meski demikian, dampaknya terhadap industri dinilai terbatas karena cakupan program yang masih sempit.
Baca Juga: DPR Kaji Hapus Pungutan OJK dari Industri, Ini Skema Penggantinya Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) saat ini hanya mencakup sekitar 278.694 hektare lahan pada 2024, atau sekitar 3,7% dari total luas lahan sawah nasional. Dengan cakupan tersebut, eksposur klaim yang masuk ke industri relatif kecil dibandingkan potensi kerugian di lapangan. “Masalah utamanya bukan pada kemampuan membayar klaim, tetapi pada kecilnya cakupan asuransi,” jelas Delil. Lebih lanjut, Indonesia Re mengidentifikasi sejumlah lini bisnis yang berpotensi terdampak El Nino. Lini asuransi properti menjadi yang paling terekspos, terutama akibat risiko kebakaran hutan dan lahan saat musim kering. Selain itu, asuransi kesehatan juga berpotensi terdampak melalui peningkatan kasus penyakit pernapasan akibat kabut asap.
Baca Juga: Pembiayaan Paylater Perusahaan Pembiayaan Tumbuh 53,53% per Februari 2026 Adapun lini lain seperti asuransi marine dan business interruption turut menghadapi risiko gangguan operasional. Namun demikian, industri juga menghadapi tekanan struktural, seperti rugi bersih yang masih terjadi serta kenaikan
loss ratio di sejumlah lini bisnis utama. Kondisi ini membuat ruang penyerapan risiko menjadi lebih terbatas.
Di sisi lain, kesiapan industri dinilai belum optimal dari aspek regulasi. Hingga saat ini belum terdapat pengaturan khusus terkait risiko katastropik, baik dari sisi permodalan maupun kewajiban proteksi reasuransi. Ke depan, Indonesia Re menilai fenomena El Nino perlu menjadi momentum bagi industri untuk memperkuat manajemen risiko, termasuk melalui pengembangan produk inovatif seperti asuransi parametrik berbasis indikator cuaca. Selain itu, perusahaan juga mendorong penguatan kolaborasi antara industri dan pemerintah, serta percepatan pembenahan kerangka regulasi guna meningkatkan ketahanan terhadap risiko bencana. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News