Indonesia Re teken MoU dengan ITB



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) (Indonesia Re) melakukan penandatangan perjanjian kerjasama metodologi penetapan tarif harta benda dengan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) di gedung FMIPA ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Jumat (13/7) kemarin.

Direktur Indonesia Re Kocu A. Hutagalung mengatakan, sebagai perusahaan reasuransi nasional, Indonesia Re terus berupaya agar seluruh aktivitas operasional dalam pengelolaan risiko berdasarkan ilmu pengetahuan dan metode-metode kuantitatif yang ada.

"Jadi bukan semata-mata kebiasaan cara lama, namun sudah menggunakan metode statistik dan aktuaria," Ujar Kocu.


Dia mengungkapkan, seluruh data asuransi kebakaran nasional dikelola oleh Badan Pusat Pengelola Data Asurasi Nasional (BPPDAN). Jika dilihat sejak tahun 1993, data tersebut diperkirakan bisa mencapai puluhan juta.

Melihat kondisi seperti ini, lanjut dia, Indonesia Re sudah seharusnya mengelola data tersebut untuk mendapatkan gambaran data realistis untuk risiko kebakaran.

"Itulah tujuan kita. Makanya kita datang ke ITB, kan ilmu untuk kuantitatifnya ada di ITB dan di Perguruan Tinggi," ucapnya.

Dia mengungkapkan, dalam hal ini, pihaknya ingin menentukan metodologi perhitungan tarif asuransi kebakaran. Indonesia Re memiliki usulan metodologi yang digunakan, dan hal ini akan di validasi oleh tim ITB.

"Sebenarnya yang ingin kita capai adalah kemampuan membuat tarif yang baik untuk asuransi kebakaran. Tarif yang baik itu yang merepresentasikan tingkat risiko. Untuk itu, digunakan statistik dan aktuaria," tambahnya.

Ditemui di tempat yang sama, Wakil Dekan Bidang Akademik FMIPA ITB Abdul Waris menambahkan, kerja sama ini adalah sebagai upaya pengembangan metodologi untuk penetapan tarif harta benda.

"Nanti akan digelar workshop juga. Akan ada semacam kunjungan dari sini ke kantor Indonesa Re, akan ada seminar dan lainnya. Intinya kita akan mengembangkan metodologi untuk menentukan tarif harta benda," tuturnya.

Ke depan, lanjut Abdul, pihaknya berkomitmen untuk membantu Indonesia Re mengembangkan metode perhitungan tarif.

"Tapi ini tentu bukan kerja sama sekali selesai, tapi akan terus berlanjut beberapa tahapan. Mungkin ini kerja sama pertama dan akan dilanjutkan dengan kerja sama lainnya," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto