KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah Indonesia menyiapkan implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) pada Januari 2027.
Proses ratifikasi perjanjian perdagangan tersebut dijadwalkan mulai dilakukan pada November 2026. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut IEU-CEPA menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperluas akses pasar sekaligus memperkuat daya saing industri nasional di tengah dinamika perekonomian global.
Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan Indonesia telah menandatangani 25 perjanjian perdagangan internasional, baik dalam bentuk Free Trade Agreement (FTA) maupun Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). "Indonesia telah menandatangani 25 perjanjian perdagangan internasional, baik FTA maupun CEPA, dan telah menyelesaikan proses ratifikasi untuk mendorong percepatan implementasi dalam upaya memperluas akses pasar," ujar Susiwijono dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026). Menurut dia, IEU-CEPA menjadi salah satu perjanjian perdagangan yang akan segera memasuki tahap implementasi.
Baca Juga: Prabowo Dorong Jerman Percepat Finalisasi IEU-CEPA untuk Perkuat Hubungan Ekonomi Pemerintah menargetkan proses ratifikasi dimulai pada November 2026 sehingga perjanjian dapat diterapkan mulai Januari 2027. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Terlebih, outlook perekonomian global pada 2027 diproyeksikan membaik dengan pertumbuhan di kisaran 3,2%-3,3%. Selain memperluas akses pasar melalui perjanjian perdagangan, pemerintah juga terus memperkuat fondasi ekonomi domestik yang saat ini masih ditopang oleh konsumsi dan investasi.
Baca Juga: RI-Irlandia Perkuat Kerja Sama Perdagangan & Investasi, Bersiap Implementasi IEU-CEPA Berbagai program bantuan sosial, subsidi, dan insentif fiskal disiapkan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat sisi permintaan. Di sisi lain, pemerintah mulai membuka ruang bagi sektor-sektor pertumbuhan baru, termasuk kecerdasan artifisial (AI) dan industri semikonduktor.
Indonesia telah menjalin kerja sama dengan ARM pada awal 2026, menjadi anggota WAICO, serta tengah melakukan penjajakan dan komunikasi dengan PAX Silica. Penguatan sektor teknologi tersebut dinilai relevan dengan perkembangan industri otomotif yang semakin bergantung pada semikonduktor dan teknologi cerdas.
Baca Juga: Jelang IEU-CEPA, RI dan Irlandia Bakal Perkuat Perdagangan serta Investasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News