Indonesia terima 15 juta dosis vaksin curah dari Sinovac, ini maksudnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menerima sebanyak 15 juta dosis vaksin dalam bentuk curah (bulk) yang dikirimkan oleh produsen vaksin asal China, Sinovac pada 15 Januari 2021. Apa itu vaksin curah?

Melansir situs resmi Satgas Penanganan Covid-19, yang dimaksud vaksin curah adalah bahan baku vaksin Covid-19. "Selanjutnya, bahan baku vaksin tersebut akan diproses dan dikemas oleh PT Bio Farma menjadi vaksin jadi yang siap digunakan," demikian penjelasan Satgas Penanganan Covid-19.

PT Bio Farma sendiri adalah BUMN dengan reputasi pembuatan vaksin kelas dunia. Bio Farma diakui sebagai 1 dari 29 produsen vaksin di dunia yang dapatkan prakualifikasi dari WHO sebagai syarat Good Manufacturing Practices (GMP) dan berbagai reputasi lainnya.


Baca Juga: Pengungsian bisa jadi pusat penularan Covid-19, ini langkah satgas

Tiga kemasan

Selain itu, ada hal lain yang perlu diketahui masyarakat soal kemasan vaksin Covid-19. Saat ini, ada tiga kemasan vaksin Covid-19 yang berbeda-beda. Hal tersebut menandakan tiga tahapan yang berbeda pula. 

Pertama, sebelum pelaksanaan vaksinasi dimulai, Sinovac melakukan uji klinis vaksinnya bersama Tim Uji Klinis Universitas Padjajaran. Vaksin yang digunakan untuk uji klinis ini dikemas dengan nama SARS-CoV-2 Vaccine.

Baca Juga: Respons Satagas Covid-19 terkait isu ada chip dalam vaksin Covid-19

Kedua, vaksin Covid-19 yang digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi adalah vaksin jadi yang diproduksi Sinovac langsung dan diberikan Persetujuan Penggunaan Darurat (EUA) dari Badan POM, yaitu dengan kemasan bernama CoronaVac.

Ketiga, Sinovac sudah mengirimkan 15 juta dosis vaksin Covid-19 dalam bentuk bahan baku (vaksin curah) untuk bisa diolah menjadi vaksin jadi dan didistribusikan PT Bio Farma pada pertengahan Januari. Yang ini akan mengenakan kemasan vaksin yang berbeda juga.

Selanjutnya: Inilah golongan masyarakat sipil yang berhak dan belum bisa dapat vaksin corona

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie