Indonesia Ubah Strategi Diplomasi Energi, Tak Lagi Sekadar Kejar Investasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menegaskan strategi baru dalam diplomasi energi bersih, yang menitikberatkan pada penguasaan teknologi, hilirisasi, dan penguatan industri nasional, bukan hanya sekadar investasi dan perdagangan. 

Hal ini mengemuka melalui dialog media yang digelar Synergy Policies bersama BSKLN Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dengan dukungan ViriyaENB sebagai bagian dari model kemitraan transformatif energi bersih dengan China.

Kepala Pusat Strategi Kebijakan Kawasan Asia Pasifik dan Afrika BSKLN Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menuturkan bahwa diplomasi energi ke depannya menjadi salah satu pilar utama posisi Indonesia di tengah dinamika global sekarang.


Baca Juga: Ngabuburit Sambil Lapor Pajak! Dirjen Pajak Antisipasi Lonjakan di Ramadan

“Keberhasilan kerja sama bukan diukur dari angka investasi semata, melainkan dari sejauh mana kemitraan itu memperkuat industri nasional, meningkatkan penguasaan teknologi, dan menempatkan Indonesia sebagai mitra strategis yang diperhitungkan di kancah global,” tutur Vahd dalam dialog Media Synergy Policies, Jakarta, Jumat (13/2/2026). 

Di lain sisi, Executive Director Synergy Policies, Dinna Prapto Raharja, menyebut target net zero emissions tidak bisa dicapai dengan pola kemitraan biasa. 

Diplomasi energi perlu diposisikan sebagai instrumen strategis untuk mendukung transformasi industri nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing. Indonesia harus memperkuat daya tawarnya

“Strategi nasional harus berjalan dalam kerangka jangka panjang, bertahap, dan fokus pada penguatan kapasitas nasional, terlepas dari siapa mitranya,” katanya. 

Sejak pertengahan 2025, Synergy Policies mendampingi Kementerian Luar Negeri merumuskan solusi terhadap energy trilemma yang mencakup ketahanan energi, keterjangkauan, dan keberlanjutan lingkungan, sekaligus membangun model kemitraan yang mempercepat akuisisi teknologi hijau. 

China dipilih sebagai mitra awal karena menjadi produsen teknologi energi bersih terbesar dunia, terutama dalam tenaga surya dan rantai pasok industri hijau. 

Pendekatan ini bersifat terbuka untuk negara lain sesuai strategi jangka panjang Indonesia.

Kerja sama ini akan mengupayakan sejumlah elemen strategis kemitraan energi bersih transformatif, termasuk peningkatan standar produk, riset dan inovasi teknologi bersama, kebijakan industri hijau berdaya saing, kolaborasi lintas pihak (People-to-People, Business-to-Business, Government-to-Government), hilirisasi mineral kritis, serta penguatan peran negara-negara Global South. 

Baca Juga: Bea Cukai Luncurkan Desain Pita Cukai 2026 Bertema Alat Musik Tradisional

Program domestik seperti percepatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW, kendaraan listrik, dan waste-to-energy dianggap dapat menjadi “champion” yang menghubungkan kemitraan strategis dengan penguatan kapasitas domestik.

Selanjutnya: Siloam (SILO) Telah Lakukan 500 Transplantasi Ginjal, Siap Ekspansi Rumahsakit

Menarik Dibaca: HP Android Bebas Iklan 2026: Rasakan Nyaman Tanpa Gangguan!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News