KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten telekomunikasi, PT Indosat Tbk (
ISAT) telah merampungkan transaksi divestasi PT Infra Fiber Teknologi (IFT) sebagai bagian dari strategi memperkuat fokus pada bisnis inti telekomunikasi dan digital per 2 Juli 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi, Indosat bersama PT Aplikanusa Lintasarta menjual sebanyak 11,70 juta saham atau setara 84,9% kepemilikan di IFT kepada PT Nusantara Fiber Teknologi (NFT). Nilai transaksi penjualan saham mencapai Rp 11,70 triliun. Selain transaksi jual beli saham, ISAT dan Lintasarta juga melakukan inbreng atas sisa 15,1% saham IFT ke NFT. Sebagai imbalannya, ISAT memperoleh 49,1% saham NFT, sedangkan Lintasarta menguasai 0,8% saham perusahaan tersebut.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.995, Tekanan Global dan Sentimen Domestik Membayangi Setelah transaksi selesai, Indosat masih memiliki satu saham secara langsung di IFT. Secara efektif, ISAT tetap memiliki kepemilikan langsung maupun tidak langsung sebesar 49,68% di IFT melalui kepemilikan pada NFT. Transaksi ini merupakan kelanjutan dari perjanjian investasi yang telah ditandatangani pada Desember 2025 dan diamandemen pada Mei 2026. Penyelesaian transaksi dilakukan setelah seluruh persyaratan pendahuluan terpenuhi. Retail Research Analyst CGS International Sekuritas Indonesia Andrian Saputra menyebut transaksi ini termasuk menarik karena meningkatkan pro-forma kas ISAT dari Rp 5,8 triliun menjadi Rp 17,5 triliun. “Sehingga tanpa perlu menambah utang, fleksibilitas ISAT menjadi lebih besar untuk kebutuhan spektrum di masa depan,” jelasnya dalam paparan, Senin (6/7/2026).
Baca Juga: IHSG Menguat 0,69% ke 5.916 pada Senin (6/7/2026), AKRA, BBRI, BUMI Top Gainers LQ45 Manajemen ISAT memperkirakan mendapatkan keuntungan satu kali alias one-off gain sekitar Rp 1,65 triliun pada 2026. Dalam hitungan CGS International Sekuritas,
one-off gain ISAT setelah pajak mencapai Rp 1,2 triliun. “Namun jika
one-off ini diabaikan, dampaknya relatif kecil terhadap bisnis ISAT karena kenaikan biaya sewa dan depresiasi sebagian besar diimbangi oleh penurunan beban bunga,” jelas Andrian. Equity Research Analyst BRI Danareksa Sekuritas Kafi Anantara dan Erindra Krisnawan menambahkan kas sebesar Rp 11,7 triliun dari transaksi tersebut memperkuat fleksibilitas ISAT dalam mengalokasikan modal. “Dana tersebut diperkirakan akan digunakan untuk membayar biaya di muka spektrum serta tambahan belanja modal alias
capital expenditure (capex) untuk pengembangan jaringan” tulisnya dalam riset yang dirilis pada Senin (6/7/2026). Biaya spektrum yang harus dibayarkan di muka mencapai sekitar Rp 2,4 triliun dalam skenario dasar atau Rp 1,7 triliun dalam skenario optimistis. Selain itu, tambahan capex ISAT diperkirakan mencapai Rp 4,4 triliun secara kumulatif sepanjang tahun buku 2026–2028. “ISAT memiliki
excess cash sekitar Rp 4,9 triliun hingga Rp 5,6 triliun yang berpotensi dibagikan sebagai dividen spesial. Nilai tersebut setara dengan potensi
dividend yield sekitar 7,6%–8,7%,” tulis Kafi dan Erindra.
Baca Juga: HRTA Yakin Prospek Bisnis Emas Tetap Cerah Meski Harga Terkoreksi Mereka bilang berkat transaksi ini ISAT dapat merealisasikan nilai ekonomis aset fiber sekaligus tetap mempertahankan kendali operasional dan mendukung strategi jangka panjang berbasis jaringan terbuka alias
open access. Lebih lanjut, BRI Danareksa Sekuritas masih mempertahankan beli ISAT dengan target harga di Rp 3.00 per saham. Pada akhir perdagangan Senin (6/7), ISAT parkir di level Rp 1.885 per saham atau melemah 5,04% dibanding penutupan hari sebelumnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News