Industri Agrikultur Perlu Genjot Digitalisasi untuk Bersaing Secara Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemanfaatan teknologi digital mulai menyasar lebih banyak lini operasional industri kelapa sawit, mulai dari perkebunan hingga proses pengolahan. Teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) antara lain mulai digunakan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi energi hingga menekan risiko gangguan produksi.

PT Sinergi Teknologi Solusindo melihat kebutuhan digitalisasi tersebut semakin terbuka. Perusahaan memperkenalkan NextSense Intelligence Platform, sistem berbasis IoT dan AI yang mengintegrasikan sensor, perangkat lapangan, konektivitas serta analisis data dalam satu ekosistem.

Direktur PT Sinergi Teknologi Solusindo, Agustian Hermawan mengatakan, salah satu persoalan yang masih dihadapi pelaku industri adalah data operasional yang tersebar pada berbagai perangkat dan belum saling terhubung.


"Tujuan NextSense bukan hanya menampilkan banyak angka, tetapi membantu perusahaan memahami apa yang sedang terjadi, mana yang perlu diprioritaskan, dan tindakan apa yang sebaiknya dilakukan lebih dulu," kata Agustian dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).

Menurut Agustian, kebutuhan teknologi di industri sawit tidak hanya berada pada proses produksi. Digitalisasi dapat diterapkan di sepanjang rantai operasional, mulai dari perkebunan, pengolahan produksi, limbah, energi, utilitas hingga aspek lingkungan.

Baca Juga: Bioenergi Jadi Pasar Baru Industri Sawit, Apa Dampaknya bagi Petani?

Melalui integrasi berbagai jenis sensor, komunikasi satelit dan algoritma perangkat lunak, perusahaan dapat memperoleh data operasional secara real time.

Dalam pengolahan sawit, misalnya, sistem dapat digunakan untuk memantau boiler, turbin, screw press, proses clarification, tangki penyimpanan, konsumsi energi hingga utilitas air.

Perubahan tekanan uap, temperatur pada proses klarifikasi maupun getaran mesin dapat terdeteksi lebih dini. Dengan demikian, tim operasional bisa melakukan pemeriksaan sebelum gangguan berkembang menjadi downtime dan mempengaruhi proses produksi.

"Manfaatnya tentu meningkatkan produksi oil agar lebih terukur sesuai target, meminimalisir downtime, melihat efisiensi penggunaan energi secara lebih efektif, hingga memonitor pengolahan limbah agar lebih aman menggunakan teknologi monitoring yang kami kembangkan," ujar Agustian.

Tak hanya mengumpulkan data, teknologi machine learning juga dimanfaatkan untuk membaca pola dari ribuan sensor di lapangan. Data tersebut kemudian diolah menjadi informasi yang dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini.

Menurut Agustian, analisis tersebut antara lain dapat membantu perusahaan memprediksi potensi kerusakan mesin ataupun penurunan kualitas minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO).

Baca Juga: Limbah Sawit Capai 16 Juta Ton per Tahun, Hilirisasi Bisa Jadi Sumber Bisnis Baru

"Kami menerapkan model machine learning untuk membaca pola data dari sensor menjadi tren yang bisa memberikan insight kepada pengguna, misalnya memprediksi kerusakan mesin atau penurunan kualitas CPO sebelum benar-benar terjadi," jelasnya.

Teknologi digital juga mulai diterapkan pada sisi perkebunan melalui konsep Smart Agriculture. Sensor digunakan untuk mengukur kelembapan dan kandungan nutrisi tanah sehingga perusahaan dapat menentukan kebutuhan irigasi maupun pemupukan dengan lebih terukur.

Infrastruktur pendukung perkebunan, seperti reservoir air, pompa irigasi hingga performa mesin juga dapat dipantau. Sensor getaran dan RPM digunakan untuk mendeteksi potensi kerusakan sebelum mengganggu aktivitas operasional.

Agustian menilai pemanfaatan AI pada akhirnya akan semakin dibutuhkan industri untuk mengejar produktivitas dan daya saing.

"AI sudah bukan hal yang mewah. Teknologi ini sudah menjadi sesuatu yang umum dan sudah saatnya semua industri memanfaatkan machine learning untuk meningkatkan produktivitas," katanya.

Saat ini, NextSense telah digunakan oleh sejumlah perusahaan swasta di industri kelapa sawit maupun kelapa. Selain agrikultur, platform tersebut dikembangkan secara modular agar dapat diterapkan pada sektor manufaktur, gedung komersial, energi, utilitas hingga pengelolaan limbah.

Ke depan, Sinergi Teknologi Solusindo melihat peluang adopsi teknologi digital di sektor agrikultur masih dapat berkembang. Namun, Agustian mengakui pemahaman pelaku industri mengenai kebutuhan transformasi digital masih menjadi salah satu tantangan.

"Kami ingin industri agrikultur Indonesia menjadi lebih terdigitalisasi agar mampu bersaing secara global. Tantangan terbesar memang mengedukasi pelaku industri mengenai pentingnya digitalisasi, tetapi kami optimistis karena kesadaran terhadap teknologi terus meningkat," pungkasnya.

Baca Juga: Indonesia Punya Potensi Biomassa Sawit Terbesar di Dunia, Hilirisasi Jadi Kunci

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News