Industri Alas Kaki RI Menanti Kepastian Tarif AS, Ini Dampaknya Terhadap Ekspor



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri alas kaki domestik tengah menanti kejelasan kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) yang akan ditetapkan 150 hari setelah putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif sebelumnya.

Ketidakpastian ini menjadi krusial lantaran AS masih menjadi kontributor utama terhadap kinerja ekspor alas kaki nasional. Sepanjang 2025, Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) mencatat nilai ekspor alas kaki Indonesia ke AS mencapai US$ 2,8 miliar.

Angka tersebut tumbuh 13,36% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan 2024 yang sebesar US$ 2,47 miliar.


Direktur Eksekutif Aprisindo Yoseph Billie Dosiwoda mengungkapkan bahwa pelaku industri masih bersikap wait and see terhadap prospek ekspor ke pasar AS tahun ini.

"Sebab, belum jelas, bagaimana tarif AS yang berlaku nanti, setelah 150 hari penetapan tarif 10% oleh Mahkamah Agung AS untuk semua negara," ungkapnya saat dihubungi Kontan, Rabu (8/4/2026).

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Optimalkan Armada Pasok LPG ke Wilayah dengan Akses Terbatas

Di sisi lain, Aprisindo mencatat bahwa tarif resiprokal sebesar 19% yang sebelumnya diterapkan kepada Indonesia sebenarnya memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan negara pesaing. Tarif tersebut tercatat lebih rendah 1% dibandingkan China yang berada di level 20%.

"Kalau hari ini kita 10% semua negara sama. Tapi waktu 19% itu, kita 1% lebih rendah dari pesaing," kata Billie.

Menurutnya, skema perjanjian dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan AS dengan tarif ekspor sebesar 19% justru sempat memperkuat posisi daya saing Indonesia di pasar global.

"Namun tidak sampai berselang beberapa hari, ada putusan pengadilan sehingga ART yang diterapkan Trump, sehingga semuanya 10%," jelasnya.

Dengan dinamika tersebut, prospek ekspor alas kaki Indonesia ke AS dinilai masih sangat bergantung pada kepastian arah kebijakan tarif impor Negeri Paman Sam ke depan.

Diversifikasi Pasar ke Uni Eropa

Di tengah ketidakpastian pasar AS, pelaku industri mulai melirik peluang ekspansi ke pasar Uni Eropa. Hal ini seiring dengan rencana implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Baca Juga: Tekanan Avtur Belum Reda, Tiket Pesawat Terancam Terus Naik

Perjanjian tersebut diperkirakan mulai berlaku efektif pada awal tahun depan, dengan dampak signifikan terhadap peningkatan ekspor yang baru akan terasa mulai kuartal I-2027.

"Nah itu harapannya nanti ada peningkatan permintaan ekspor ke Eropa. Bukan dalam arti penggantian pasar, tetapi perluasan," tutur Billie.

Langkah ini dinilai strategis sebagai bagian dari diversifikasi pasar ekspor guna mengurangi ketergantungan terhadap satu negara tujuan utama.

Risiko Geopolitik dan Biaya Energi

Selain faktor kebijakan perdagangan, industri alas kaki juga mencermati dampak konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mendorong kenaikan harga energi global.

Kenaikan harga energi menjadi perhatian serius karena sektor manufaktur, termasuk industri alas kaki, sangat bergantung pada pasokan energi dalam proses produksi.

Meski demikian, hingga saat ini belum terjadi kenaikan signifikan pada harga komoditas penting seperti bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.

Aprisindo juga mengingatkan pentingnya menjaga stabilitas pasar domestik agar tidak terjadi panic buying yang dapat memicu pembatasan distribusi barang di ruang publik.

Baca Juga: Lonjakan Harga Avtur Imbas Geopolitik, Industri Penerbangan Tertekan

"Jika terjadi, hal ini nantinya akan berdampak kepada industri manufaktur, termasuk alas kaki," imbuhnya.

Harapan Insentif Pemerintah

Sebagai langkah mitigasi, pelaku industri berharap pemerintah dapat memberikan dukungan melalui insentif fiskal, terutama terkait biaya energi seperti diskon harga gas dan listrik untuk sektor industri.

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing industri nasional di tengah tekanan global yang masih tinggi, baik dari sisi perdagangan maupun geopolitik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News