KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan pajak air tanah (PAT) di sejumlah daerah memicu kekhawatiran pelaku industri air minum dalam kemasan (AMDK). Lonjakan tarif yang mereka nilai cukup tinggi berpotensi menekan biaya produksi di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku. Sehingga dapat berdampak pada harga jual hingga keberlangsungan usaha. Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara), Karyanto Wibowo mengatakan, kenaikan PAT yang signifikan akan berdampak langsung terhadap peningkatan biaya produksi. Mengingat air merupakan bahan baku utama dalam industri AMDK. “Kenaikan PAT itu pasti akan menyebabkan biaya operasional naik tajam,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (17/4). Menurut Karyanto, dampak kenaikan PAT juga akan terasa seluruh rantai industri. Terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang memiliki margin terbatas. "Juga ancaman kelangsungan usaha khususnya bagi produsen skala kecil dan menengah yang marginnya tipis. Banyak yang terpaksa mempertimbangkan pengurangan volume produksi atau bahkan penutupan pabrik,” katanya.
Industri AMDK Usulkan, Penerapan Kenaikan Pajak Air Tanah Secara Bertahap
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan pajak air tanah (PAT) di sejumlah daerah memicu kekhawatiran pelaku industri air minum dalam kemasan (AMDK). Lonjakan tarif yang mereka nilai cukup tinggi berpotensi menekan biaya produksi di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku. Sehingga dapat berdampak pada harga jual hingga keberlangsungan usaha. Ketua Umum Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (Amdatara), Karyanto Wibowo mengatakan, kenaikan PAT yang signifikan akan berdampak langsung terhadap peningkatan biaya produksi. Mengingat air merupakan bahan baku utama dalam industri AMDK. “Kenaikan PAT itu pasti akan menyebabkan biaya operasional naik tajam,” ujar dia dalam keterangannya, Jumat (17/4). Menurut Karyanto, dampak kenaikan PAT juga akan terasa seluruh rantai industri. Terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang memiliki margin terbatas. "Juga ancaman kelangsungan usaha khususnya bagi produsen skala kecil dan menengah yang marginnya tipis. Banyak yang terpaksa mempertimbangkan pengurangan volume produksi atau bahkan penutupan pabrik,” katanya.