KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah berpotensi mempengaruhi kinerja asuransi umum, khususnya pada lini
marine cargo. Pengamat Asuransi Irvan Rahardjo mengungkapkan, pelemahan rupiah akan berdampak pada dua sisi sekaligus, yaitu penurunan pendapatan premi dan peningkatan biaya klaim. Menurutnya, nilai tukar yang melemah membuat biaya impor menjadi lebih mahal sehingga pelaku usaha cenderung menahan atau mengurangi volume impor. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menekan kebutuhan perlindungan asuransi pengangkutan barang.
Baca Juga: BSI Kelola Payroll Karyawan di Lebih dari 27.000 Institusi pada April 2026 "Pelemahan rupiah menekan kinerja asuransi
marine cargo dengan menurunkan volume premi akibat mahalnya biaya impor dan meningkatkan biaya klaim," ujarnya kepada Kontan, Kamis (11/6/2026). Selain berdampak pada premi, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan nilai klaim yang harus dibayar perusahaan asuransi. Pasalnya, sebagian besar barang impor, biaya perbaikan, maupun penggantian komponen masih mengacu pada mata uang asing, terutama dolar Amerika Serikat. Akibatnya ketika terjadi kerusakan atau kehilangan barang yang diasuransikan, nilai ganti rugi dalam rupiah menjadi lebih tinggi dibandingkan saat polis diterbitkan. Irvan juga mengingatkan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya reasuransi yang dibayarkan perusahaan asuransi kepada reasuradur global karena mayoritas transaksi dilakukan dalam mata uang asing.
Baca Juga: Bank BJB Gandeng Askrindo Perluas Pembiayaan Rumah dan UMKM Menurut dia, kombinasi antara penurunan premi dan kenaikan nilai klaim pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan rasio klaim industri. Meski demikian, sejumlah pelaku industri menyebut dampak pelemahan rupiah terhadap bisnis
marine cargo belum terlihat secara signifikan hingga saat ini. Sekretaris Perusahaan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), Brellian Gema Widayana, mengatakan pelemahan rupiah sejauh ini belum memberikan pengaruh signifikan terhadap kinerja bisnis marine cargo perusahaan. "Sejauh ini, pelemahan Rupiah tidak berdampak signifikan terhadap kinerja bisnis
marine cargo Asuransi Jasindo," ujarnya. Menurut Brellian, kebutuhan perlindungan terhadap pengangkutan barang masih tetap terjaga sehingga prospek bisnis
marine cargo masih positif. Meski begitu, Jasindo mengakui pelemahan rupiah dapat mempengaruhi nilai pertanggungan yang pada akhirnya berpotensi berdampak pada besaran premi maupun nilai klaim. Namun, perusahaan menegaskan bahwa penetapan premi tetap mempertimbangkan berbagai aspek risiko dan tidak hanya ditentukan oleh pergerakan kurs. Karena itu, hingga saat ini Jasindo belum berencana melakukan penyesuaian tarif premi secara umum akibat pelemahan rupiah. Evaluasi tarif tetap dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan perkembangan risiko dan kondisi pasar. Senada, Presiden Direktur PT Asuransi Wahana Tata (Aswata), Christian Wanandi juga menyatakan pelemahan rupiah belum memberikan dampak langsung terhadap bisnis
marine cargo perusahaan.
Namun, Christian menilai kondisi tersebut bisa mempengaruhi kinerja lini
marine cargo apabila aktivitas ekspor mengalami penurunan. "Yang bisa mempengaruhi jika bisnis ekspor menurun," ujarnya. Dengan kondisi saat ini, pelaku industri menilai pelemahan rupiah memang belum memberikan dampak signifikan terhadap bisnis
marine cargo. Namun, perkembangan aktivitas perdagangan dan potensi kenaikan nilai klaim tetap menjadi faktor yang perlu diwaspadai apabila tekanan terhadap nilai tukar berlanjut dalam jangka panjang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News