KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mewaspadai sederet tantangan yang masih membayangi prospek industri baja pada tahun ini. Di tengah kondisi industri yang masih menantang, GGRP mengambil pendekatan konservatif dalam menyusun target kinerja keuangan untuk tahun 2026.
Direktur & Corporate Secretary Gunung Raja Paksi, Harianto mengungkapkan bahwa GGRP mencermati volatilitas harga baja global dan tekanan impor yang masih tinggi. Guna menghadapi hal ini, fokus utama GGRP dari sisi penjualan adalah menjaga stabilitas volume dan mempertahankan pangsa pasar, sembari mengupayakan pertumbuhan secara bertahap apabila kondisi permintaan domestik membaik. Dari sisi
bottom line, GGRP memprioritaskan perbaikan margin dan pengendalian biaya secara disiplin guna memperkecil kerugian dan memperkuat struktur keuangan.
"Target untuk kembali mencatatkan laba bersih positif tetap menjadi prioritas. Namun sangat bergantung pada pergerakan harga baja dan dinamika pasar sepanjang 2026.," ungkap Harianto kepada Kontan.co.id beberapa hari lalu.
Baca Juga: Penjualan Mobil Februari 2026 Naik Dua Digit, Tembus 81.159 Unit Pada tahun ini, GGRP fokus melanjutkan penguatan bisnis inti baja berbasis hilirisasi dan peningkatan
value-added product. GGRP mengarahkan strategi ekspansi pada optimalisasi kapasitas produksi, efisiensi operasional, serta peningkatan penetrasi pasar, baik domestik maupun ekspor. GGRP juga terus memperkuat positioning sebagai produsen baja nasional yang mampu memenuhi kebutuhan proyek infrastruktur dan konstruksi skala besar, termasuk peluang pada proyek bangunan (
building project) di pasar internasional. Dari sisi komposisi penjualan, hingga akhir tahun lalu penjualan GGRP masih didominasi oleh pasar domestik dengan porsi sekitar 95%. Permintaan terhadap produk baja GGRP terutama datang dari sektor distributor, manufaktur, fabricator dan proyek kontruksi. Sementara itu, kontribusi penjualan dari pasar ekspor masih sekitar 5%. Tujuan ekspor GGRP meliputi Australia, Kanada, Malaysia, New Zealand, Singapura, Sri Lanka dan Vietnam. GGRP terus membuka peluang perluasan pasar ekspor secara selektif dengan mempertimbangkan potensi permintaan, stabilitas pasar, serta daya saing produk. Salah satu potensi pasar yang sedang dicermati adalah segmen proyek building di Amerika Serikat (AS), yang memiliki kebutuhan signifikan terhadap produk baja konstruksi berkualitas tinggi. "GRP memiliki sertifikasi yang dibutuhkan untuk bisa suplai market Amerika yaitu AISC (
American Institute of Steel Construction). Hal ini bisa memperkuat posisi GRP untuk segmen market konstruksi di AS," ungkap Harianto. Pada tahun ini GGRP memprioritaskan alokasi modal kerja pada pemeliharaan dan optimalisasi aset-aset existing untuk memastikan seluruh aset produksi dan infrastruktur tetap berada dalam kondisi prima. "Strategi ini bertujuan menjaga kualitas operasional, meningkatkan efisiensi, serta mendukung keberlangsungan produksi," imbuh Harianto.
Penurunan Kinerja pada 2025
GGRP ingin bangkit bertahap setelah mengalami penurunan kinerja yang cukup signifikan pada tahun 2025. Sebagai pengingat, penjualan bersih GGRP terjun 46,74% secara tahunan atau
year on year (yoy) dari US$ 351,80 juta menjadi US$ 187,35 juta sepanjang tahun lalu. Posisi
bottom line GGRP pun berbalik menjadi rugi. GGRP menanggung rugi bersih senilai US$ 36,83 juta pada tahun 2025. Padahal pada tahun sebelumnya, GGRP masih bisa meraih laba bersih sebesar US$ 122,27 juta. Secara operasional, volume produksi GGRP pada tahun 2025 turun sekitar 33% (yoy) dari 661.000 ton menjadi 446.000 ton. Sedangkan volume penjualan GGRP merosot sekitar 37% (yoy) dari 490.000 ton menjadi 309.000 ton pada 2025. Presiden Direktur Gunung Raja Paksi, Siti Humayah menyatakan bahwa 2025 merupakan tahun evaluasi dan transisi strategis yang menjadi pijakan penting menuju pertumbuhan keberlanjutan. Siti menjelaskan, kinerja GGRP tahun 2025 mengalami tekanan signifikan akibat kondisi industri baja yang kurang kondusif secara global maupun domestik. Penurunan penjualan terutama disebabkan oleh koreksi harga baja global serta meningkatnya tekanan dari produk impor dengan harga sangat kompetitif. Kondisi ini berdampak pada penurunan harga jual rata-rata GGRP. Di sisi lain, pelemahan permintaan dari sektor konstruksi dan manufaktur turut mempengaruhi volume penjualan.
Situasi ini berdampak pada penurunan margin, sementara GGRP tetap menanggung beban tetap operasional dan beban keuangan. Siti menyebut tahun 2025 merupakan periode konsolidasi untuk memperkuat fundamental GGRP melalui optimalisasi biaya produksi dan peningkatan efisiensi operasional. Selain itu, GGRP juga melakukan penyesuaian strategi pemasaran agar tetap kompetitif di tengah tekanan pasar. "Perseroan tetap fokus menjaga likuiditas dan memperbaiki struktur biaya sebagai landasan pemulihan kinerja ke depan," ungkap Siti.
Baca Juga: Medco Dapat Pinjaman US$100 Juta dari HSBC, Untuk Apa? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News