KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri barang mewah global diperkirakan memasuki fase transisi pada 2026 dengan pertumbuhan yang lebih moderat. Perubahan perilaku konsumen, tekanan ekonomi, hingga meningkatnya ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang membayangi laju ekspansi sektor ini. Berdasarkan laporan Global Luxury Industry Outlook 2026 dari firma konsultan global Kearney, pertumbuhan industri barang mewah pada 2026 diproyeksikan hanya berada di kisaran 2%–4%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan sejumlah proyeksi eksternal yang memperkirakan pertumbuhan 3%–5%. Pertumbuhan industri barang mewah juga diperkirakan tidak merata. Ekspansi cenderung terkonsentrasi pada segmen tertentu serta wilayah yang memiliki daya beli kuat dan kondisi ekonomi lebih stabil.
Perlambatan ini terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian konsumen dalam membelanjakan dana untuk kebutuhan diskresioner. Selain itu, industri juga menghadapi tekanan dari volatilitas pasar saham, pergerakan nilai tukar, risiko geopolitik, hingga gangguan rantai pasok global.
Baca Juga: IHSG Rebound 0,17% ke 7.634, Top Gainers LQ45: SCMA, NCKL dan BREN, Jumat (17/4) Riset Kearney menunjukkan bahwa permintaan barang mewah memiliki korelasi kuat dengan pergerakan pasar ekuitas, terutama di Amerika Serikat. "Saat kita mempelajari pasar ekuitas, kita melihat korelasi 87% antara S&P 500 dan permintaan barang mewah di AS. Pasar ekuitas AS naik lebih dari 20 persen pada tahun 2024–2025, menghasilkan kekayaan yang signifikan bagi para individu dengan kekayaan sangat tinggi (Ultra High Net Worth Individual/UHNWI)," tulis Kearney dalam riset 11 Maret 2026. Temuan ini menunjukkan bahwa kenaikan pasar saham berpotensi mendorong konsumsi barang mewah, terutama di kalangan individu dengan aset besar yang memperoleh tambahan kekayaan dari investasi. Di kawasan Asia, faktor nilai tukar juga menjadi perhatian utama. Konsumen asal Tiongkok masih mengalokasikan sekitar 36% belanja barang mewah mereka di luar negeri, sehingga fluktuasi mata uang dapat memengaruhi pola belanja mereka secara signifikan. Dari sisi kategori, segmen pengalaman diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan industri barang mewah. Hotel dan restoran mewah diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi dengan compound annual growth rate (CAGR) sekitar 8% hingga 2028. Tren ini mencerminkan perubahan preferensi konsumen yang semakin mengutamakan pengalaman dibandingkan kepemilikan barang fisik sebagai simbol status sosial. Selain itu, sektor perhiasan diperkirakan tumbuh sekitar 7% dan tetap menunjukkan daya tahan yang kuat. Produk perhiasan dinilai memiliki nilai emosional dan budaya yang tinggi, sehingga tetap diminati di tengah ketidakpastian ekonomi. Kategori kecantikan dan aksesori juga diproyeksikan tumbuh stabil di kisaran menengah satu digit. Pertumbuhan ini didukung oleh harga produk yang relatif lebih terjangkau serta frekuensi pembelian yang lebih tinggi dibandingkan kategori barang mewah lainnya. Sebaliknya, segmen pakaian siap pakai dan barang kulit diperkirakan hanya tumbuh di kisaran satu digit rendah. Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya sensitivitas konsumen terhadap harga dan kecenderungan untuk menunda pembelian.
Baca Juga: Gen Z Kuasai 60% Pasar Kripto di Indonesia, Ini Alasan Mereka Agresif Kearney juga menyoroti perubahan perilaku konsumen aspiratif. Kelompok ini tidak sepenuhnya meninggalkan produk mewah, namun menjadi lebih selektif dalam memilih produk yang dianggap relevan dan memiliki nilai lebih. Konsumen kini semakin memperhatikan proposisi nilai yang ditawarkan oleh merek, mulai dari kualitas, eksklusivitas, hingga relevansi produk dengan gaya hidup mereka.
"Kami memperkirakan merek-merek mewah kelas menengah akan terus tumbuh 2 hingga 3 kali lebih cepat daripada merek-merek tradisional pada tahun 2026, terutama di kalangan rumah tangga dengan pendapatan kurang dari $150.000," tulis Kearney dalam risetnya. Di tengah tekanan tersebut, kondisi pasar justru dapat menjadi momentum bagi pelaku industri barang mewah untuk melakukan penyesuaian strategi. Sejumlah rumah mode mulai menyegarkan identitas merek, memperkuat arah kreatif, dan menyesuaikan penawaran produk dengan preferensi konsumen yang terus berubah. Ke depan, pertumbuhan industri barang mewah global akan sangat dipengaruhi oleh stabilitas makroekonomi, kondisi pasar keuangan, serta kemampuan pelaku usaha dalam merespons perubahan perilaku konsumen secara tepat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News