Industri EV Indonesia Masuki Masa Konsolidasi Tahun Ini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Undustri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) nasional diprediksi bakal memasuki fase konsolidasi pada 2026. Hal ini didukung dengan berakhirnya masa berlaku sejumlah insentif impor di penghujung 2025.

Di sisi lain, ini akan berpengaruh pada munculnya momentum krusial bagi pendalaman struktur ekosistem industri otomotif berbasis baterai domestik.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pasar otomotif 2025 menunjukkan performa solid dengan penjualan wholesales mencapai 803.687 unit.


Dari jumlah tersebut, segmen kendaraan ramah lingkungan (Low Carbon Emission Vehicle/LCEV) tumbuh signifikan hingga 122.686 unit atau menguasai 15,3% pangsa pasar.

Baca Juga: Wadah Industri Semen Berganti Nama dari ASI Jadi Asperssi, Ini Alasannya

Sebagai informasi, insentif impor kini hanya dialokasikan bagi produsen yang memiliki komitmen manufaktur di Indonesia. Saat ini, setidaknya ada tujuh pabrikan yang terpantau gencar membangun fasilitas produksi lokal, yakni VinFast, Volkswagen (VW), BYD, Citroen, AION, Maxus, dan Geely.

Menanggapi berakhirnya subsidi impor, Direktur Eksekutif Center of Energy Policy (CEP), Kholid Syeirozi menymapikan bahwa hal ini merupakan momentum Transformasi Indonesia Jadi salah satu Produsen kendaraan listrik global.

Dengan kebijakan ini, pasar akan melakukan penyesuaian secara alamiah melalui hukum skala industri. Dia mencontohkan bagaimana pergerakan harga jenama seperti Wuling yang kian kompetitif seiring dengan besarnya volume pasar dan efisiensi biaya teknologi.

"Awalnya memang butuh afirmasi melalui insentif fiskal, namun seiring market yang membesar, harga akan turun secara alamiah. Kendaraan listrik harus siap bersaing secara kinerja dan harga dengan kendaraan konvensional (ICE)," kata Kholid dalam keterangan tertulis, Kamis (15/01/2026).

Kholid berharap kondisi ekonomi makro saat ini dapat terus stabil agar mendukung tren industrialisasi ini semakin baik. Jika daya beli masyarakat terjaga, permintaan akan tetap tumbuh, dana akan memperkuat industri hulu hingga hilir yang menjadi penopang dari kendaraan listrik.

Baca Juga: Target Asaki Tarik Investasi Rp 5 Triliun, Utilisasi Keramik Tembus 80% pada 2026

Untuk diketahui level strategis, Indonesia melalui pemerintah melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) Anggota dari Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID terus memperkuat integrasi ekosistem baterai kendaraan listrik.

Proyek Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM-IBC-CBL dikembangkan melalui 6 (enam) proyek, yama mana 5 (lima) proyek di Kawasan FHT Halmahera Timur dan 1 (satu) proyek di Karawang.

Head of Transportation and Sustainable Mobility, Institute for Essential Services Reform (IESR) Faris Adnan, menekankan bahwa keberadaan pabrik baterai domestik adalah syarat mutlak terciptanya ekosistem EV di Indonesia.

Faris mengingatkan pentingnya penerapan standar Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) agar produk baterai Indonesia kompetitif di pasar global, khususnya Eropa yang akan menerapkan "paspor baterai" pada 2030.

"Integrasi rantai pasok ini akan meningkatkan efisiensi produksi karena dekat dengan sumber daya alam," papar Faris.

Selanjutnya: Wadah Industri Semen Berganti Nama dari ASI Jadi Asperssi, Ini Alasannya

Menarik Dibaca: Daftar HP Murah Spek Dewa Harga 4 Juta: Ada yang Tawarkan Baterai Jumbo 7300 mAh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News