KONTAN.CO.ID – TANGERANG. Industri farmasi dan alat kesehatan (alkes) Indonesia berpeluang memperluas ekspor ke ASEAN dan Afrika. Ketergantungan sejumlah negara terhadap produk impor membuka peluang bagi produsen nasional untuk memasok obat-obatan, suplemen, alat kesehatan, hingga produk diagnostik. Direktur Ketahanan Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Wenny Indriasari mengatakan, Indonesia memiliki kapasitas untuk menjadi pemasok produk kesehatan bagi pasar global.
“Indonesia bukan hanya pasar kesehatan yang terus tumbuh, tetapi juga pemasok global,” ujarnya dalam
Indonesia Health Business Forum 2026, rangkaian
Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga: IMX 2026 Digelar di BSD, Industri Modifikasi Otomotif Indonesia Bidik Pasar Global Wenny memaparkan, pasar farmasi Indonesia mencapai sekitar Rp 146 triliun pada 2024. Sementara itu, pasar alat kesehatan diproyeksikan mencapai Rp 38 triliun pada 2025 dan pasar diagnostik laboratorium sebesar Rp 40 triliun pada 2028. Di ASEAN, Malaysia menjadi pasar potensial bagi produk farmasi, suplemen kesehatan, dan jamu Indonesia. Atase Perdagangan RI di Kuala Lumpur Aziza Rahmaniar Salam mengatakan, kedekatan geografis, kesamaan budaya, dan sertifikasi halal menjadi keunggulan produk Indonesia. Pasar suplemen kesehatan Malaysia diperkirakan mencapai US$ 1,1 miliar pada 2026 dan meningkat menjadi US$ 6,5 miliar pada 2030. Namun, eksportir harus memenuhi persyaratan registrasi National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA) dan menggandeng mitra lokal untuk mendukung pemasaran serta distribusi. “Tanpa mitra lokal, kita tidak bisa mendaftarkan produk maupun menemukan jaringan untuk menjual atau mendistribusikan produk,” ujar Aziza.
Baca Juga: Dexa Group Terus Perkuat Industri Farmasi Halal Peluang juga terbuka di Filipina. Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Manila Victorina Hasti Dewayani menyebut, pasar farmasi Filipina diperkirakan bernilai US$ 3,3 miliar, dengan sekitar 90% kebutuhannya masih dipenuhi melalui impor. Produk potensial meliputi obat generik seperti amoxicillin, amlodipine, atorvastatin, ibuprofen, dan paracetamol, serta suplemen kesehatan. Produsen alat kesehatan juga berpeluang memasok masker, alat tes, swab, alat pelindung diri (APD), dan tempat tidur rumah sakit. Namun, produk farmasi dan alat kesehatan harus memperoleh persetujuan Philippine Food and Drug Administration (FDA). Victorina mengingatkan eksportir agar melakukan riset pasar dan memilih mitra lokal sejak awal. Di Afrika, Afrika Selatan berpotensi menjadi pintu masuk ke pasar yang lebih luas. Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Pretoria Starlet Gunardi memaparkan, pasar obat resep negara tersebut diproyeksikan mencapai US$ 6,77 miliar, sedangkan pasar alat kesehatan bernilai sekitar US$ 1,5 miliar. Dari jumlah itu, sekitar US$ 1,3 miliar dipenuhi melalui impor. Peluang ekspor mencakup obat-obatan, perangkat diagnostik, peralatan bedah, dan produk perawatan penyakit kronis. Meski demikian, eksportir harus memperhitungkan persaingan harga dan proses registrasi melalui South African Health Products Regulatory Authority (SAHPRA), yang dapat memakan waktu dua hingga tiga tahun.
Baca Juga: BPOM Resmikan Fasilitas Produksi Injeksi Milik PT Ethica Industri Farmasi Starlet menegaskan, eksportir perlu membangun keberadaan pasar dan kemitraan jangka panjang, bukan sekadar mengejar transaksi awal. “Harus ada keberlanjutan pasar, market presence harus ada, dan kemitraan bisnis berkelanjutan juga harus terus ada,” katanya.
Sementara itu, Mesir membuka peluang bagi sarung tangan medis, pakaian tenaga kesehatan, stetoskop, disinfektan, inkubator bayi, vaksin unggas, dan produk kesehatan hewan. Koordinator Fungsi Ekonomi KBRI Kairo Olvy Andrianita mengatakan, produk Indonesia berpeluang bersaing dari sisi kualitas, tetapi harus menyesuaikan harga dan spesifikasi dengan kebutuhan pasar. Eksportir juga wajib menyiapkan izin produk dan distributor lokal sebelum masuk ke pasar Mesir. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News