Industri farmasi tahun ini tumbuh 12%-13%



JAKARTA. Pertumbuhan industri farmasi tahun ini diproyeksi tidak sekuat tahun lalu. Kenaikan beban biaya menjadi salah satu penyebab terhambatnya laju industri farmasi domestik.

Menurut Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Farmasi (GP Farmasi) Darojatun Sanusi, kenaikan biaya tersebut berasal dari kenaikan sektor energi serta upah pekerja tahun ini.

Alhasil, kini pebisnis farmasi sedang mengkalkulasi rencana ekspansi bisnis. "Kemungkinan ekspansinya tidak sekencang tahun lalu sehingga pertumbuhan indsutri pun tidak sekencang tahun lalu," katanya kemarin.


Hingga saat ini, dia bilang ada empat perusahaan farmasi nasional yang sedang mengkaji ulang rencana ekspansi bisnis mereka. Mulai dari menunda rencana ekspansi sampai ada yang mengurangi nilai investasi. Sayangnya, Darojatun tidak menyebut perusahaan farmasi tersebut.

Tak hanya itu, kenaikan biaya bahan baku impor yang didorong dari melemahnya kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat juga berpotensi mendongkrak biaya produksi industri farmasi.

Melihat kondisi ini, Darojatun memprediksi, pertumbuhan industri farmasi nasional tahun ini sedikit melempem, menjadi 12%-13%. Padahal tahun lalu pertumbuhan bisnis farmasi bisa mencapai 14%-15%.

Sedangkan untuk nilai penjualan produk farmasi, Darojatun masih meyakini pasar farmasi di dalam negeri tahun ini bisa mencapai Rp 50 triliun. Jumlah ini naik 6% dari proyeksi pasar farmasi sepanjang 2012 lalu yang bisa mencapai sebesar Rp 47 triliun.

Meski dihadapkan pada beberapa masalah, produsen farmasi nasional seperti PT Kalbe Farma Tbk, mengaku masih mengantungi beberapa rencana ekspansi di tahun ini. Langkah ekspansi ini di antaranya adalah rencana akuisisi beberapa perusahaan melanjutkan aksi mereka tahun lalu.

Direktur Kalbe Farma, Vidjongtius bilang, perusahaan masih terus menjajaki kemungkinan akuisisi beberapa perusahaan yang dibidik tahun ini. "Kami masih terus menjajaki akuisisi termasuk yang bergerak di bidang makanan kesehatan." katanya kepada KONTAN.

Tahun lalu, Kalbe Farma mengakuisisi 100% sahamĀ  PT Hale International, perusahaan penghasil minuman kesehatan, salah satunya adalah Original Love Juice, senilai Rp 93,9 miliar.

Di tahun yang sama, Kalbe juga membentuk perusahaan patungan dengan PT Milko Beverage Industry, bernama PT Kalbe Milko Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News