KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perfilman Indonesia membidik pertumbuhan jumlah penonton sekitar 5%-10% pada 2026 setelah perolehan penonton film nasional cenderung stagnan pada tahun lalu. Peningkatan kualitas film, strategi pemasaran, dan perluasan akses penayangan menjadi sejumlah faktor yang dapat menopang pertumbuhan industri. Sekretaris Jenderal Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) sekaligus produser rumah produksi Citra Sinema, Zairin Zain, menilai industri film nasional masih memiliki peluang untuk tumbuh. Pada 2025, film Indonesia meraih sekitar 80,2 juta penonton, relatif stabil dibandingkan 2024.
Baca Juga: Batam Mati Lampu, Bahlil Ungkap Bakal Koordinasi dengan PLN Hari Ini Untuk 2026, Zairin melihat pertumbuhan penonton sebesar 5%–10% dapat menjadi skenario optimistis. Namun, angka tersebut merupakan perkiraan indikatif, bukan proyeksi resmi PPFI. “Saya melihat industri film Indonesia masih memiliki peluang tumbuh, tetapi tantangannya adalah menjaga momentum tersebut agar berkelanjutan,” ujar Zairin kepada Kontan, Senin (12/10). Menurut dia, pertumbuhan penonton tidak bisa terjadi secara otomatis hanya karena jumlah film yang diproduksi meningkat. Produser perlu memastikan film yang dihasilkan mampu menjangkau pasar melalui kualitas cerita, strategi pemasaran, serta akses penayangan yang memadai. Salah satu tantangan yang masih dihadapi industri adalah keterbatasan layar bioskop dan persebarannya yang belum merata. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat belum memiliki akses untuk menonton di bioskop, sementara produser harus bersaing mendapatkan jadwal dan durasi tayang. Zairin menilai Indonesia membutuhkan ekspansi layar bioskop secara bertahap dengan mempertimbangkan potensi penonton dan kelayakan ekonomi setiap daerah. Dalam jangka panjang, kebutuhan layar bioskop dapat mencapai 10.000–15.000 layar. Namun, penambahan layar perlu diikuti pemerataan kesempatan tayang bagi film nasional. PPFI juga mendorong transparansi data penonton dan jam tayang serta mekanisme distribusi layar yang lebih adil agar produser dapat bersaing secara sehat. Selain akses penayangan, variasi genre turut menjadi faktor penting untuk menjaga pertumbuhan pasar. Zairin melihat horor masih berpotensi menjadi salah satu genre kuat hingga 2027, disusul komedi, drama keluarga, dan romansa. Film animasi juga memiliki peluang untuk menjangkau penonton lintas generasi, sebagaimana ditunjukkan oleh keberhasilan film
Jumbo. Zairin menambahkan, penonton kini semakin selektif dalam memilih film. Keputusan menonton tidak hanya ditentukan genre, tetapi juga cerita yang menarik, kedekatan emosional, kualitas produksi, kekuatan pemain, dan strategi promosi. Karena itu, pelaku industri perlu mengembangkan beragam cerita dan memperkuat ekosistem perfilman, mulai dari pembiayaan, produksi, distribusi, hingga eksibisi. Dengan demikian, pertumbuhan penonton diharapkan dapat diikuti keberlanjutan usaha produser dan peningkatan daya saing film Indonesia di pasar internasional.
Baca Juga: Bahlil Ungkap Sumur Rakyat di Aceh Siap Diserap Medco dan Pertamina Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News