KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perfilman Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan seiring meningkatnya jumlah produksi film. Namun, pertumbuhan tersebut menghadapi kendala berupa keterbatasan jumlah layar bioskop yang belum sebanding dengan volume film yang diproduksi. Pendiri sekaligus Presiden Direktur Ram Jethmal Punjabi atau Raam Punjabi mengatakan, potensi produksi film di Indonesia cukup besar. Saat ini, jumlah produksi telah mencapai lebih dari 200 judul film per tahun. Namun, pertumbuhan produksi tersebut belum diimbangi dengan penambahan infrastruktur bioskop. Menurut Ram, Indonesia membutuhkan sekitar 10.000 layar untuk dapat mengimbangi volume produksi film, sementara jumlah layar yang tersedia saat ini baru sekitar 2.600.
Baca Juga: Tripar Multifivison (RAAM) Perluas Jaringan Bioskop, Target Produksi 8-10 Film “Produksinya banyak. Layar bioskopnya sedikit. Jadi dia mentok,” ujar Raam dalam wawancara dengan Kontan, Rabu (7/10). Menurut dia, kondisi tersebut menjadi salah satu bottleneck utama industri film nasional. Dengan jumlah film yang terus bertambah, keterbatasan layar membuat tidak seluruh film dapat memperoleh ruang tayang yang optimal. Ram menilai, idealnya jumlah film yang ditayangkan di bioskop berada di kisaran satu hingga dua judul per pekan. Saat ini, setidaknya terdapat tiga film yang masuk ke bioskop setiap pekan, bahkan jumlahnya dapat mencapai empat hingga lima film. “Jadi yang dibutuhkan di Indonesia itu satu film satu minggu atau maksimal dua,” katanya. Selain produksi film domestik, pasar juga menghadapi persaingan dengan film impor. Menurut Raam, kondisi tersebut turut mempengaruhi daya beli penonton karena jumlah film yang tersedia dalam satu pekan cukup banyak. “Penonton mau nonton berapa film satu minggu. Itu minimal tiga, bisa empat, bisa kadang-kadang lima,” ujarnya. Raam menilai persoalan tersebut lebih berkaitan dengan keseimbangan antara pasokan film dan ketersediaan layar, bukan persoalan regulasi. Menurut dia, pembangunan bioskop membutuhkan waktu dan perencanaan, termasuk ketersediaan lahan serta perhitungan potensi pasar. Di sisi lain, Raam melihat peluang investasi di industri bioskop masih terbuka lebar. Dengan jumlah penduduk Indonesia sekitar 280 juta jiwa, potensi pasar perfilman dinilai masih besar. “Peluang untuk investor masuk di bidang ini besar sekali,” kata Raam. Namun, ia menekankan bahwa peluang tersebut tetap bergantung pada ketersediaan infrastruktur bioskop. Menurutnya, pertumbuhan produksi film saat ini lebih cepat dibandingkan dengan pengadaan layar. Raam mengatakan, industri film Indonesia juga masih menghadapi persoalan dari sisi variasi konten dan ketersediaan penulis skenario. Meski produksi film meningkat sejak penggunaan teknologi digital, variasi tema dinilai masih perlu diperluas. “Yang kurang itu di kontennya, di filmnya itu tema variatif dan penulis skenario. Masih kurang,” ujarnya. Dari sisi genre, film horor masih menjadi salah satu yang paling banyak diminati penonton Indonesia. Namun, Ram melihat mulai muncul minat terhadap film drama keluarga meski belum stabil. “Di sini masih dikuasai oleh horor. Tapi sedikit-sedikit sudah ada perhatiannya ke film drama,” katanya.
Ram menilai industri film nasional secara volume sudah menunjukkan perkembangan, tetapi masih membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan produksi dengan ketersediaan layar dan variasi film. Menurut dia, persoalan utama yang perlu diperhatikan adalah bagaimana pertumbuhan produksi dapat diimbangi dengan pembangunan infrastruktur bioskop agar film yang diproduksi memiliki ruang edar yang memadai.
Baca Juga: Sumber Mas Konstruksi (SMKM) Kejar Akuisisi Bisnis Udang, Ini Prospeknya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News