Industri FMCG Hadapi Tekanan Daya Beli, Produk Premium & Saset Jadi Penopang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek industri fast moving consumer goods (FMCG) hingga akhir 2026 diperkirakan masih menghadapi tantangan. Pelemahan daya beli masyarakat, terutama di segmen menengah, membuat pelaku industri harus menyesuaikan strategi produk agar tetap mampu menjaga penjualan. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan tekanan terhadap daya beli terlihat dari semakin banyaknya produk FMCG yang dipasarkan dalam kemasan kecil atau saset. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan konsumen semakin mengutamakan penghematan di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan. “Semakin banyak produk FMCG yang dijual dalam kemasan kecil atau saset. Itu menunjukkan memang ada persoalan daya beli sehingga masyarakat mulai lebih banyak berhemat,” ujar Bhima kepada KONTAN, Jumat (31/7/2026). Bhima menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah turut mendorong kenaikan biaya produksi yang akhirnya memengaruhi harga jual produk. Akibatnya, konsumen, khususnya kelompok menengah, lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan pokok dibandingkan produk konsumsi lainnya.

Baca Juga: Emiten FMCG Tetap Optimistis Hadapi Semester II-2026 Meski Daya Beli Melemah Di sisi lain, permintaan dari kelompok masyarakat berpendapatan tinggi masih relatif kuat. Menurut Bhima, produk premium seperti kosmetik, skincare, hingga pasta gigi premium tetap diminati karena menawarkan nilai tambah dan eksklusivitas. “Segmen atas justru masih banyak menyerap produk premium. Sementara segmen menengah lebih sensitif terhadap harga sehingga strategi produknya harus berbeda,” katanya. Bhima menilai perusahaan FMCG perlu menerapkan strategi diversifikasi produk untuk menghadapi kondisi tersebut. Selain tetap menawarkan produk premium bagi konsumen berpendapatan tinggi, pelaku usaha juga perlu menghadirkan produk dengan ukuran dan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat kelas menengah. Ia juga mendorong perusahaan memperluas pasar ke kota-kota tier 2 dan tier 3 yang masih mencatatkan pertumbuhan konsumsi domestik. Menurutnya, sejumlah daerah tersebut masih mempunyai potensi permintaan yang lebih baik dibandingkan kota besar yang mulai mengalami perlambatan konsumsi.

Baca Juga: Buyung Poetra (HOKI) Fokus Perkuat Pengembangan Produk FMCG pada 2026 “Pelaku industri harus membidik segmen pasar yang pertumbuhannya masih cukup kuat, termasuk kota tier 2 dan tier 3 yang konsumsi rumah tangganya masih positif,” jelasnya. Meski demikian, Bhima memperkirakan industri FMCG masih akan menghadapi tantangan hingga akhir 2026. Selain lemahnya daya beli, kenaikan biaya bahan baku dan biaya distribusi diperkirakan masih menjadi tekanan bagi pelaku usaha. Menurutnya, perusahaan juga perlu menyesuaikan strategi pemasaran dengan perubahan perilaku konsumen, terutama generasi Z dan generasi Alpha yang semakin banyak mengakses informasi melalui media sosial dan kanal digital. “Situasi FMCG pada 2026 masih cenderung survival. Efisiensi tetap menjadi strategi utama di tengah kenaikan biaya produksi dan perubahan pola konsumsi masyarakat,” tutup Bhima.


Baca Juga: Danone Perkuat Strategi Digital, Optimalkan E-Commerce di Tengah Persaingan FMCG

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News