Industri Intellectual Property Tumbuh,Kreator Hadapi Tantangan Kolaborasi & Ekosistem



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bisnis intellectual property (IP) Tanah Air tengah bergeliat. Meski begitu, ekosistem yang belum memadai hingga akses pengembangan pasar yang terbatas masih menjadi tantangan para kreator.

Kreator Tahilalatas, Nurfadli Mursiding bercerita, kesadaran akan potensi IP sebagai bisnis muncul seiring proses pemahamannya terhadap bagaimana industri IP berkembang. Dia menangkap, ada banyak peluang bisnis besar lewat kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Pada 2016 saat melihat banyak peluang kolaborasi bermunculan, sambil saya mengulik sendiri dan mempelajari bagaimana industri IP berjalan sejak dulu,” ujarnya kepada Kontan, Rabu, (14/1/2026).


Walau begitu, transformasi karya kreatif menjadi IP bisnis bukan tanpa tantangan. Salah satu pekerjaan terberat menurutnya adalah menjaga konsistensi karakter dan identitas Tahilalats di tengah beragam kebutuhan klien dan kolaborasi. 

“Ada banyak hal yang perlu dipikirkan seperti style guide, tone cerita, dan bagaimana cara mempertahankan DNA Tahilalats dengan banyaknya kebutuhan klien dalam sebuah kolaborasi,” jelasnya.

Tantangan lain muncul ketika Tahilalats memutuskan untuk membawa karyanya ke ranah offline. Ia menilai, ekosistem kolaborasi lintas sektor di Indonesia masih relatif terbatas, terutama karena belum banyak perusahaan yang memiliki sistem IP yang matang seperti Jepang.

Baca Juga: Ekonomi Kreatif Melesat, Hiburan Jadi Penggerak Baru Pertumbuhan

Akibatnya, proses membangun kepercayaan dan kredibilitas kerap berjalan lebih lambat ketimbang negara dengan industri IP yang sudah mapan.

Di lain pihak, kreator komik strip Duitto & Co, Thomdean, juga menemukan bahwa penghargaan masyarakat akan IP masih minim. Ia mengaku pernah mendapati karyanya dicatut secara serampangan.

“Kurang etis, ya, ada beberapa yang dia pakai sebagai poster kemudian sebagai tempat untuk karya lain, maksudnya sama dia diimprint begitu,” tuturnya.

Nurfadli menambahkan, skema kolaborasi IP dengan sektor lain di Indonesia juga masih sangat jarang terjadi.

Untuk menyiasatinya, Tahilalats memilih terus “jujur” dalam berkarya seraya berburu partner yang tepat. Kreator, menurutnya, tak bisa berjalan sendirian selamanya sehingga perlu membangun IP studio yang stabil dan tim bisnis yang tepat.

Lebih jauh, ia menilai tantangan terbesar IP lokal bukan pada kekurangan kreator, melainkan pada struktur industrinya. Indonesia memiliki basis kreator yang sangat melimpah, namun sebagian besar masih bekerja secara all in one seprti mengurus produksi kreatif, produk, hingga kolaborasi sendiri.

Baca Juga: Kampus dan Industri Bersinergi Kembangkan Talenta Ekraf

Di sisi lain, jumlah IP launcher atau pelaku bisnis yang fokus dan berpengalaman dalam mengembangkan IP juga menurutnya masih sangat terbatas.

“Kreator sangat berlimpah, tapi IP launcher yang punya passion dalam pengembangan IP masih langka. Banyak kreator juga belum sepenuhnya percaya jika karyanya dikelola oleh banyak orang,” ujarnya.

Kondisi ini, menurutnya, tak bisa sepenuhnya disalahkan pada kreator. Minimnya sistem yang matang membuat banyak kreator memilih tetap bergerak mandiri sebagai jalan yang dianggap paling aman.

“Memang masih banyak sistem yang belum matang, sehingga bergerak sendiri sering dipandang sebagai pilihan terbaik,” pungkasnya.

Untuk itu, bagi para kreator pemula, penting untuk menemukan partner bisnis yang tepat. Thomdean pun menimpali, perlu menemukan keunikan konten dan pasar yang tepat. 

Baca Juga: Peruri dan Kemenparekraf Berkolaborasi Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif Nasional

“Jadi mesti punya nilai lebih, apa sih yang mau kamu sampaikan dengan karyamu itu. Dari situlah kamu bisa menjual karyamu sebagai produk yang memiliki nilai lebih,” saran Thomdean.

Dari sisi pengelola studio IP, Co-Founder Studio Mind Blow On sekaligus pengelola Tahilalats, Rakhman Azhari menuturkan, pihaknya sempat kesulitan menemukan partner ekspansi yang tepat mengingat belum familiarnya bisnis IP di Tanah Air. 

“Untungnya dari grup kita juga bisa bantu provide di situ, kemudian the right businesses-nya juga, yang licensing-nya itu, kita juga untungnya kemarin punya partner yang di mana partnernya juga bisa bantu buat nge-train,” terang Rakhman.

Selain itu, konsistensi produksi konten para kreator juga menjadi tantangan lain. Terlebih, perputaran konten menarik di jagat dunia maya bergerak amat cepat dan bergantung pada algoritma. 

Untuk menutup kekurangan itu, Mind Blow On Studio membentuk tim riset dan pengembangan khusus untuk menelurkan ide-ide konten yang stabil dan segar. 

Tak berhenti di sana, kolaborasi dengan perusahaan maupun instansi publik juga turut menjadi kunci bagi pertumbuhan bisnis IP yang sehat. 

“Jadi memang kadang beberapa IP owner juga banyak yang introvert, tapi memang the point is kita harus memperkenalkan IP, kita harus represent IP kita, IP kita itu bisa membantu atau IP kita itu adalah problem solver buat brand atau instansi,” pungkasnya.

Baca Juga: Dua Animasi Indonesia Pikat Minat Investor di ATF 2025

Selanjutnya: Pentagon Siapkan 1.500 Tentara Hadapi Protes Besar-besaran di Minnesota AS

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News