KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri mebel nasional membidik kebangkitan ekspor pada 2026 dengan target menembus kembali level di atas US$ 3 miliar. Target ini mencerminkan upaya pelaku industri untuk keluar dari tekanan global dan mengembalikan tren pertumbuhan yang sempat tertahan. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, pihaknya menargetkan ekspor mebel tahun 2026 mencapai lebih dari US$ 3 miliar atau sekitar Rp 51,45 triliun.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan target 2025 sebesar US$ 2,9 miliar dengan realisasi US$ 2,6 miliar.
Baca Juga: KKP Lapor Kinerja Ekspor Perikanan Tembus Rp 84,54 Triliun hingga Oktober 2025 “Target utama bukan sekadar lonjakan, tetapi mengembalikan ekspor ke lintasan naik dan menembus kembali level di atas US$ 3 miliar,” ujarnya kepada KONTAN, Rabu (15/4/2026). Ia menjelaskan, prospek pasar 2026 masih terbuka, namun tidak sepenuhnya tanpa tantangan. Di satu sisi, permintaan global mulai menunjukkan pemulihan dan membuka peluang bagi Indonesia sebagai alternatif pemasok. Namun di sisi lain, industri masih dibayangi tekanan biaya produksi, logistik, suku bunga tinggi, serta ketidakpastian geopolitik yang membuat ekspansi pembelian belum agresif. Dalam jangka menengah, HIMKI menargetkan ekspor furnitur nasional bisa mencapai US$ 6 miliar dalam lima tahun ke depan. Tahun 2026 pun diposisikan sebagai fase konsolidasi untuk mendorong rebound, memperluas pasar ekspor, serta memperkuat daya saing industri.
Baca Juga: Produksi Lewati Target, Pendapatan Vale (INCO) Tembus US$ 902 Juta per November 2025 Di tengah target tersebut, persoalan bahan baku menjadi perhatian utama. HIMKI menilai, tantangan bukan pada ketersediaan kayu secara nasional, melainkan pada kelancaran rantai pasok, kesesuaian kualitas, stabilitas harga, hingga prioritas distribusi ke industri hilir. Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kayu bulat dan kayu olahan masih tersedia. Namun, tata kelola distribusi dinilai belum optimal, sehingga menghambat pasokan ke industri mebel. HIMKI juga menyoroti kebijakan yang berpotensi mempercepat keluarnya bahan baku dari dalam negeri. Organisasi ini secara tegas menolak relaksasi ekspor kayu bulat/log karena dinilai dapat menekan industri hilir. Pasalnya, bahan baku kayu menyumbang sekitar 40%–60% dari total biaya produksi mebel. Jika pasokan terganggu atau harga melonjak, dampaknya langsung terasa pada utilisasi pabrik, daya saing produk, hingga penyerapan tenaga kerja.
Baca Juga: HIMKI Proyeksi Ekspor Industri Furnitur Bisa Tembus US$ 6 Miliar pada 2026 Sebagai solusi, HIMKI mendorong tiga langkah utama.
Pertama, menjaga pasokan kayu berkualitas untuk kebutuhan industri dalam negeri.
Kedua, memperkuat integrasi hulu–hilir serta meningkatkan efisiensi logistik agar distribusi bahan baku lebih lancar.
Ketiga, memperluas penggunaan material alternatif berkelanjutan seperti bambu dan engineered materials guna mengurangi ketergantungan pada kayu tertentu. Upaya ini dinilai krusial untuk memastikan keberlanjutan industri sekaligus mendukung ambisi ekspor yang lebih tinggi di tengah dinamika pasar global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News