Industri keramik keluhkan Filipina terapkan safeguard ke produk Indonesia



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) melihat ada kendala yang akan dihadapi industri keramik karena Filipina yang menerapkan safeguard.

Edy Suyanto, Ketua Umum Asaki menuturkan bahwa tahun ini industri keramik Indonesia kembali menghadapi hambatan lantaran penerapan safeguard di Filipina. Padahal Filipina merupakan negara tujuan ekspor potensial pemain Indonesia.

"Sekiranya ada sekitar 5 industri yang ekspor ke sana," ujarnya usai 'open house' di rumah dinas Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, Kamis (5/6).


Oleh sebab itu, ia menilai penerapan safeguard tersebut akan memiliki dampak. Walaupun begitu, untuk antisipasi pihaknya juga sedang berupaya memasukan India ke daftar safeguard. Menurutnya langkah tersebut lantaran ekspor keramik dari India naik signifikan setelah penerapan safeguard pada China. Adapun peningkatannya dibandingkan tahun lalu hingga ratusan persen. Untuk saat ini, pihaknya juga tengah menghitung dampak riil dari penerapan safeguard yang diterapkan Filipina. "Karena penerapannya baru Juni ini dan saat ini semua libur jadi kami belum dapat memastikan data akurat dari teman-teman industri," terangnya. Sekedar informasi dari penerapan safeguard itu terjadi peningkatan biaya masuk hingga 30% melebihi biaya masuk ke Indonesia yang hanya 23%. Padahal sebagai sesama ASEAN sebelumnya tidak ada biaya masuk. Adapun harga per kilogram disebutnya sebesar PHP 30. Elisa Sinaga, Ketua Dewan Pembina Asaki menambahkan penerapan safeguard yang dilakukan Filipina lantaran ingin melindungi pemainnya sendiri. Walaupun begitu, ia menilai sebenarnya hal tersebut tidak perlu dilakukan."Karena mereka juga masih sangat kekurangan," ujarnya.

Ia bilang bahwa untuk saat ini memang secara hukum penerapan safeguard pada Indonesia belum ditetapkan. Hanya saja, selama proses penetapan hukum itu Filipina disebutnya berani memberlakukan tarif sementara. Walaupun begitu, dari Asaki masih belum melihat untuk membuka pasar ekspor baru. Menurut Edy, lantaran masih sementara pihaknya bersama pemerintah juga tengah berupaya agar Indonesia tak masuk daftar safeguard Filipina. Namun, hingga akhir tahun nanti pihaknya juga masih optimis dapat mencapai peningkatan 5% di industri keramik. Adapun faktornya yakni proyek-proyek pembangunan perumahan akan mulai berjalan di semester II ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli