Industri Kosmetik Masih Menjanjikan, MBTO Waspadai Daya Beli dan Biaya Bahan Baku



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Martina Berto Tbk (MBTO) melihat industri beauty and personal caremasih memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan hingga akhir 2026, meski pelaku industri masih menghadapi tekanan daya beli masyarakat serta kenaikan biaya produksi.

Direktur Utama PT Martina Berto Tbk Bryan Tilaar mengatakan, kondisi daya beli masyarakat secara umum memang masih menjadi tantangan bagi industri. Namun, kebutuhan terhadap produk kecantikan dan perawatan diri tetap memberikan ruang pertumbuhan bagi industri kosmetik.

“Kebutuhan konsumen tetap terus kita monitor, sambil kita manage risiko dengan sangat baik. Memang ada penurunan daya beli di konsumsi masyarakat secara umum, dan untuk industri beauty personal care pertumbuhan industrinya tetap sangat menjanjikan,” ujar Bryan kepada KONTAN, Kamis (17/9/2026).


Menurut Bryan, prospek tersebut tercermin dari kinerja MBTO pada semester I 2026. MBTO mencatat penjualan bersih Rp 254 miliar, tumbuh 36,55% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp 186 miliar.

Baca Juga: Martina Berto (MBTO) Bidik Penjualan Rp 501 Miliar, Lanjutkan Efisiensi di 2026

Pertumbuhan penjualan tersebut juga diikuti perbaikan profitabilitas. Laba usaha MBTO berbalik positif menjadi sekitar Rp 25 miliar pada semester I 2026, dari sebelumnya rugi Rp 6,5 miliar.

Meski melihat peluang pertumbuhan, industri kosmetik masih dibayangi tekanan biaya. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta dinamika global dapat memengaruhi biaya bahan baku dan biaya produksi.

MBTO pun melakukan sejumlah langkah untuk menjaga biaya produksi tetap terkendali. Perseroan memantau perkembangan harga bahan baku, mencari alternatif pemasok dan melakukan negosiasi dengan pemasok.

“Gonjang-ganjing global dan melemahnya kurs Rupiah terhadap USD terus kita monitor, supplier pun kita cari alternatif, negosiasi, sehingga COGM kita, kita coba terus usaha tetap terjaga baik,” kata Bryan.

Selain mengelola biaya produksi, efisiensi dilakukan pada biaya pemasaran dan penjualan serta biaya umum. Strategi tersebut dilakukan sembari menjaga pertumbuhan penjualan agar tetap sesuai dengan target perseroan.

Untuk 2026, MBTO menargetkan penjualan bersih mencapai Rp 501 miliar, tumbuh sekitar 24% dibandingkan penjualan tahun 2025. MBTO juga menargetkan laba usaha Rp 47 miliar dan laba setelah pajak Rp 24 miliar.

Bryan mengatakan, strategi tersebut akan dilanjutkan pada semester II 2026 untuk menjaga kinerja perseroan tetap sesuai dengan target.

“Efisiensi di marketing sales, biaya umum, COGM tetap terus kita lakukan sambil menjaga pencapaian sales supaya tetap on track sampai YTD Desember 2026,” katanya.

Dengan demikian, MBTO melihat pertumbuhan industri beauty personal care masih menjadi peluang di tengah tekanan konsumsi. Namun, pelaku industri perlu menjaga keseimbangan antara daya beli konsumen, biaya bahan baku dan strategi harga agar pertumbuhan penjualan tetap dapat diikuti dengan perbaikan profitabilitas.

Baca Juga: Produsen Minuman Memperluas Kanal Penjualan Melalui Bioskop

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: