KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren konsumsi makanan hewan peliharaan di Beijing menunjukkan pergeseran signifikan ke produk lokal. Seiring meningkatnya jumlah pemilik hewan peliharaan, merek domestik China kini semakin mendominasi pasar yang nilainya telah melampaui US$24 miliar. Liu Xin, seorang warga Beijing berusia 25 tahun, mengaku rutin membeli makanan siap saji berbahan daging sapi dan ayam untuk anjing terrier miliknya. Ia menghabiskan setidaknya US$250 per bulan untuk kebutuhan tersebut. Menurutnya, produk lokal menawarkan kualitas segar dengan variasi yang lebih banyak dibandingkan produk Barat yang dinilai lebih mahal. Fenomena ini mencerminkan perubahan preferensi konsumen di China, di mana semakin banyak pemilik hewan peliharaan beralih ke merek lokal. Tren ini mendorong pertumbuhan pesat industri makanan hewan peliharaan di negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut.
Pertumbuhan Pesat di Tengah Tekanan Ekonomi
Penjualan tahunan makanan hewan di China tercatat meningkat enam kali lipat sepanjang periode 2014 hingga 2024. Industri ini menjadi salah satu sektor paling menjanjikan di tengah tekanan ekonomi akibat krisis properti, stagnasi upah, dan ketidakpastian lapangan kerja.
Baca Juga: Kekayaan Miliarder Rusia Tembus Rekor di Tengah Sanksi Barat dan Perang Ukraina Lonjakan permintaan ini menarik minat berbagai perusahaan besar domestik untuk masuk ke pasar makanan hewan sebagai sumber pendapatan baru. Produsen minuman keras nasional China, Kweichow Moutai, misalnya, berencana mengembangkan produk makanan hewan dari limbah protein hasil fermentasi. Sementara itu, perusahaan daging babi Wens Foodstuff mengakuisisi produsen makanan hewan Qingdao Shuang’an Biotechnology. Perusahaan lain seperti WH Group—pemilik Smithfield Foods—juga berinvestasi di Zhongyu Pet Food. Selain itu, perusahaan susu Mengniu dan Yili, serta produsen farmasi Yunnan Baiyao Group turut meluncurkan lini produk makanan hewan dalam beberapa tahun terakhir.
Brand Global Kehilangan Pangsa Pasar
Dominasi merek lokal berdampak pada penurunan pangsa pasar brand internasional seperti Orijen dan Purina milik Nestle. Bahkan, General Mills menghentikan operasional merek Blue Buffalo di China pada April lalu. Produsen Jerman Animonda Carny juga melaporkan penurunan penjualan hingga 30% pada 2025. Menurut pelaku industri, tren ini mirip dengan sektor elektronik dan otomotif, di mana konsumen China semakin percaya pada produk dalam negeri.
Strategi Lokal: Variasi dan Inovasi
Produsen lokal mengandalkan strategi pemasaran agresif, termasuk kemasan menarik, variasi rasa, serta bentuk produk yang beragam. Mereka juga aktif memanfaatkan platform e-commerce seperti ByteDance melalui aplikasi Douyin. Selain itu, beberapa produsen mulai meningkatkan kualitas dengan menambahkan kandungan daging lebih tinggi dan bahan yang lebih segar. Beberapa produk makanan kucing bahkan diklaim mengandung lebih dari 90% protein hewani.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Bursa Asia Terkoreksi di Tengah Ketegangan Iran-AS Tantangan Regulasi dan Keamanan
Meski berkembang pesat, industri ini masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait standar keamanan. Saat ini, makanan hewan peliharaan di China masih dikategorikan sebagai pakan ternak dan diatur berdasarkan pedoman industri tersebut.
Tidak adanya standar nasional khusus menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas produk. Pelaku industri menilai regulasi yang ada belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan makanan hewan peliharaan yang berfokus pada kesehatan jangka panjang.
Persaingan Masih Berlanjut
Di tengah tekanan terhadap merek global, tidak semua pemain asing mengalami penurunan. Merek Royal Canin milik Mars masih menjadi pemimpin pasar di China. Keberhasilan ini didukung strategi lokalisasi, termasuk pembangunan pabrik di dalam negeri, penguatan distribusi di toko hewan, serta edukasi kepada dokter hewan dan pusat pembiakan. Analis menilai era di mana merek asing hanya mengandalkan ekspor kini telah berakhir. Untuk bertahan, perusahaan global perlu beradaptasi dengan preferensi lokal dan meningkatkan investasi di pasar domestik China.