KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Sektor manufaktur Australia masih berada dalam fase ekspansi pada Agustus 2026. Meski produksi kembali menurun, perbaikan pesanan baru dan ekspor mendorong optimisme pelaku industri terhadap prospek bisnis dalam setahun ke depan. Berdasarkan rilis S&P Global, Selasa (1/9/2026), Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Australia berada di level 52,0 pada Agustus, tidak berubah dari Juli. Posisi indeks di atas level 50 menunjukkan kondisi sektor manufaktur masih mengalami perbaikan. Perbaikan kondisi bisnis terutama ditopang oleh meningkatnya pesanan baru. Indeks pesanan baru mencatat kenaikan yang solid dan lebih cepat, sekaligus menjadi pertumbuhan kedua dalam dua bulan berturut-turut. Bahkan, laju pertumbuhan pesanan baru pada Agustus merupakan yang tercepat sejak Januari.
Sejumlah perusahaan yang disurvei melaporkan membaiknya kondisi pasar. Selain itu, pesanan ekspor baru kembali tumbuh setelah mengalami penurunan marginal pada Juli. Pertumbuhan ekspor tersebut merupakan yang kedua dalam tiga bulan terakhir, meski masih tipis. Mulai pulihnya ekspor juga meningkatkan keyakinan perusahaan terhadap prospek ekonomi dalam setahun mendatang. “Perusahaan semakin percaya diri terhadap prospek satu tahun ke depan, meski dampak perang di Timur Tengah terhadap biaya dan rantai pasok masih berlangsung,” papar Andrew Harker,
Economics Director S&P Global Market Intelligence, dalam rilis pers, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Bursa Australia Tertekan Selasa (1/9), Sektor Teknologi dan Konsumer Jadi Beban Harker menambahkan, ketidakpastian masih tinggi. Namun, perkembangan pesanan baru dan ekspor menunjukkan mulai terbentuknya fondasi bagi pemulihan sektor manufaktur Australia. Perbaikan permintaan turut meningkatkan keyakinan produsen. Optimisme manufaktur terhadap kenaikan produksi dalam 12 bulan mendatang meningkat untuk bulan keempat berturut-turut sejak mencapai titik terendah pada April. Tingkat kepercayaan tersebut juga menjadi yang tertinggi sejak Februari. Penguatan pesanan baru juga menopang pasar tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur Australia meningkat untuk bulan keempat berturut-turut pada Agustus. Menurut keterangan perusahaan yang disurvei, penambahan pekerja merupakan kombinasi antara tenaga kontrak untuk menangani beban kerja saat ini dan perekrutan jangka panjang yang berkaitan dengan rencana ekspansi bisnis. Pertumbuhan tenaga kerja tersebut membantu perusahaan mengurangi pekerjaan yang belum terselesaikan.
Backlog turun secara signifikan dan mencatat penurunan terbesar dalam lebih dari satu tahun.
Baca Juga: Manufaktur Korea Selatan Ekspansi 9 Bulan, Ekspor Jadi Penopang Namun, perkembangan positif dari sisi permintaan dan tenaga kerja belum sepenuhnya tercermin pada produksi. Output manufaktur turun tipis pada Agustus, berbalik dari kenaikan marginal pada Juli. Sejumlah produsen mengatakan permintaan masih relatif lemah. Perusahaan lainnya menyoroti dampak negatif kenaikan harga terhadap produksi. Di sisi lain, tekanan biaya kembali meningkat pada Agustus. Tingkat inflasi biaya input meningkat sedikit dibandingkan Juli, meski menurut S&P Global masih berada di bawah tingkat yang biasanya terlihat sejak dimulainya perang di Timur Tengah. Kenaikan biaya terutama berasal dari biaya angkutan dan bahan bakar. Di sisi lain, inflasi harga output justru melandai untuk bulan ketiga berturut-turut dan mencapai tingkat paling rendah sejak Februari. Dengan produksi yang menurun, produsen juga kembali mengurangi pembelian input dan persediaan bahan baku. Perusahaan menyebut persediaan input saat ini masih cukup untuk menopang beban kerja yang ada.
Baca Juga: PMI Jepang: Bisnis Baru Manufaktur Jepang Naik dengan Laju Tercepat Sejak 2018 Upaya merampingkan persediaan juga menyebabkan stok barang jadi mencatat penurunan paling tajam sejak Maret. Gangguan rantai pasok menjadi persoalan lain bagi industri manufaktur Australia. Dampak perang di Timur Tengah terhadap jalur pasokan masih sangat besar. Waktu pengiriman pemasok kembali memanjang secara tajam pada Agustus, bahkan sedikit lebih parah dibandingkan Juli. Perusahaan yang disurvei banyak melaporkan keterlambatan pengiriman internasional. Kenaikan biaya juga membuat sebagian pemasok mengonsolidasikan pengiriman untuk menekan ongkos angkutan. Harker menilai penurunan produksi pada Agustus belum mengindikasikan pelemahan manufaktur yang berkelanjutan. “Meski mengecewakan melihat sedikit penurunan produksi manufaktur pada Agustus, kenaikan pesanan baru yang solid dan lebih cepat seharusnya berarti hal ini hanya menjadi gangguan sementara, bukan penurunan yang lebih berkelanjutan,” kata Harker.