Industri Manufaktur Jepang Kian Bergairah, Lonjakan Pesanan Baru Dorong PMI Juni 2026



KONTAN.CO.ID - Aktivitas manufaktur Jepang mempertahankan laju pertumbuhan yang kuat pada Juni 2026. Lonjakan pesanan baru ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun menjadi pendorong utama ekspansi sektor industri, meski tekanan biaya produksi masih tinggi akibat dampak konflik Iran.

Data survei S&P Global yang dirilis Selasa (23/6/2026) menunjukkan, indeks Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Jepang versi flash naik menjadi 54,9 pada Juni, dari 54,5 pada Mei.

Baca Juga: Booming AI Angkat Prestise Karyawan Samsung dan SK Hynix, Jadi Rebutan di Pasar Jodoh


Angka tersebut mendekati level 55,1 yang tercatat pada April, yang merupakan ekspansi terkuat sejak Januari 2022.

Sebagai catatan, PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas bisnis mengalami ekspansi, sedangkan angka di bawah 50 menandakan kontraksi.

Output pabrik meningkat dengan laju yang sedikit lebih cepat dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, pesanan baru melonjak pada tingkat tercepat dalam lebih dari empat tahun.

Menurut survei tersebut, peningkatan pesanan sebagian dipicu oleh upaya pelanggan menambah persediaan (stockpiling) karena khawatir terhadap potensi gangguan rantai pasok dan kenaikan harga di masa depan akibat perang Iran.

Di sisi lain, pertumbuhan pesanan ekspor baru masih mencatat kenaikan meski sedikit melambat dibandingkan Mei, ketika mencatat laju tercepat dalam lima tahun terakhir.

Baca Juga: Setelah Anjlok 3%, Harga Minyak Dunia Berbalik Naik di Tengah Harapan Damai AS-Iran

Tekanan Biaya Masih Tinggi

Meski inflasi biaya input dan harga jual produk mulai mereda, tingkat kenaikannya masih berada di dekat level tertinggi sejak akhir 2022.

Produsen melaporkan bahwa konflik di Timur Tengah telah meningkatkan biaya energi, bahan bakar, dan bahan baku, sehingga tetap memberikan tekanan terhadap biaya operasional perusahaan.

Di tengah meningkatnya aktivitas produksi, perusahaan manufaktur Jepang juga mempercepat perekrutan tenaga kerja. Tingkat pertumbuhan lapangan kerja pada Juni menjadi yang tercepat dalam lebih dari delapan tahun terakhir.

Baca Juga: Hitung-hitungan Portugal Lolos Piala Dunia 2026: Ronaldo Butuh Berapa Poin?

Sektor Jasa Kembali Berekspansi

Sektor jasa Jepang juga kembali tumbuh setelah stagnan pada Mei. PMI jasa versi flash naik menjadi 51,8 pada Juni dari 50,0 pada bulan sebelumnya.

Perbaikan kondisi domestik menjadi faktor utama yang mendukung pertumbuhan sektor jasa, meskipun permintaan dari luar negeri mengalami penurunan yang lebih tajam.

Secara keseluruhan, PMI komposit Jepang yang menggabungkan sektor manufaktur dan jasa meningkat menjadi 52,5 pada Juni dari 51,1 pada Mei.

Associate Director Economics S&P Global Market Intelligence Annabel Fiddes mengatakan, aktivitas bisnis Jepang secara umum kembali menguat untuk pertama kalinya sejak pecahnya perang di Timur Tengah.

Baca Juga: SpaceX Terbitkan Obligasi Perdana Usai IPO, Simpan Dana Rp1.801 Triliun

"Pertumbuhan aktivitas bisnis di Jepang meningkat kembali sejak pecahnya perang di Timur Tengah. Ini menunjukkan kinerja ekonomi kuartal II yang cukup kuat," ujarnya.

Namun, Fiddes mengingatkan bahwa sebagian pertumbuhan saat ini didorong oleh aktivitas penimbunan stok sebagai respons terhadap ketidakpastian geopolitik.

"Upaya penimbunan stok tersebut kemungkinan akan memudar dalam beberapa bulan mendatang," katanya.