Industri Mebel RI Bidik Ekspor US$ 6 Miliar, Daya Saing Masih Jadi Tantangan



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri mebel dan kerajinan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk meningkatkan ekspor di tengah target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6% pada 2027.

Namun, peningkatan produktivitas dan daya saing menjadi pekerjaan rumah utama industri.

Baca Juga: Jelang HUT Kemerdekaan, PLN Pulihkan Sebagian Besar Kelistrikan Flores Pascabencana


Pemerintah menempatkan industrialisasi dan hilirisasi sebagai salah satu prioritas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan tersebut menuntut sektor manufaktur, termasuk industri mebel, untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat daya saing di pasar global.

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan yang menjadi modal penting untuk mengembangkan industri mebel.

Keunggulan tersebut antara lain ketersediaan bahan baku kayu tropis dan rotan, kemampuan craftsmanship, desain, serta produk handmade dan sustainable furniture.

Namun, Indonesia masih menghadapi kesenjangan dengan negara pesaing seperti China dan Vietnam, terutama dari sisi skala produksi, produktivitas, kecepatan pengiriman dan integrasi rantai pasok.

"Kalau persaingan hanya dilihat dari skala produksi, produktivitas, kecepatan delivery, integrasi supply chain dan kemampuan produksi massal, kita masih memiliki gap yang cukup besar," ujar Sobur kepada KONTAN, Senin (17/8/2026).

Baca Juga: Hilirisasi Diproyeksi Jadi Penopang Utama Target Investasi Rp 2.322 Triliun pada 2027

Ekspor Furnitur RI Masih Kuat

Meski menghadapi tantangan produktivitas, industri mebel Indonesia memiliki basis ekspor yang cukup kuat.

Ekspor furnitur yang mencakup produk kursi, tempat duduk dan berbagai jenis furnitur lainnya mencapai US$ 1,91 miliar pada 2024.

Sementara itu, sepanjang Januari-November 2025, nilai ekspor furnitur Indonesia mencapai sekitar US$ 1,67 miliar. Amerika Serikat menjadi pasar terbesar dengan kontribusi mencapai 54,6%.

HIMKI melihat, peluang ekspor masih terbuka lebar, terutama dengan meningkatnya permintaan global terhadap produk furnitur yang memiliki nilai desain, berkelanjutan dan menggunakan bahan baku alami.

Dari sisi investasi, Sobur mengatakan ekspansi industri mebel belum merata. Sejumlah perusahaan dengan basis pesanan yang kuat mulai melakukan modernisasi mesin dan meningkatkan kapasitas produksi.

Namun, sebagian pelaku usaha masih menahan belanja modal karena permintaan global dan tingkat utilisasi kapasitas produksi belum sepenuhnya optimal.

Baca Juga: HAKA Auto Perluas Jaringan BYD ke Jawa, Kalimantan dan Sulawesi

HIMKI Bidik Ekspor US$ 6 Miliar

HIMKI menilai industri furnitur dan kerajinan dapat berkontribusi terhadap target pemerintah meningkatkan kontribusi sektor manufaktur hingga lebih dari 20%.

Potensi tersebut didukung oleh rantai nilai industri furnitur yang panjang dan kemampuan menyerap tenaga kerja.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian 2024, industri furnitur dan kerajinan menyerap sekitar 819.800 tenaga kerja IKM.

Untuk memperkuat daya saing, HIMKI mendorong sejumlah langkah, mulai dari modernisasi teknologi, penyediaan pembiayaan murah, efisiensi logistik, penguatan desain dan merek, hingga perluasan pasar ekspor.

Melalui berbagai strategi tersebut, HIMKI menargetkan nilai ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia dapat mencapai sekitar US$ 6 miliar dalam lima tahun ke depan.

Baca Juga: Jelang Libur Akhir Tahun, Taiwan Bidik 9,16 Juta Perjalanan Wisatawan Indonesia

"Tantangannya adalah bagaimana kemampuan itu kita industrialisasikan, kita scale-up, dan kita ubah menjadi kekuatan pasar global," kata Sobur.

Dengan basis bahan baku, kemampuan produksi dan pasar ekspor yang telah terbentuk, tantangan industri mebel Indonesia kini bukan lagi sekadar meningkatkan volume produksi.

Industri juga perlu mempercepat peningkatan produktivitas, nilai tambah dan daya saing agar mampu mengambil porsi lebih besar di pasar global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News