KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri perusahaan otobus (PO) masih menghadapi tantangan pada paruh pertama 2026. Minimnya pertumbuhan jumlah penumpang membuat pelaku usaha memilih menunda pembelian armada baru dan lebih fokus melakukan peremajaan serta perbaikan bus yang sudah beroperasi. Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) menilai kondisi bisnis pada semester I 2026 masih belum menggembirakan. Bahkan, pada periode angkutan Lebaran 2026, jumlah penumpang dinilai tidak mengalami lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Ketua Umum IPOMI Kurnia Lesani Adnan mengatakan, kondisi tersebut membuat sebagian besar perusahaan otobus memilih menahan investasi pembelian kendaraan baru. “Semester I 2026 suram. Penumpang tidak mengalami lonjakan signifikan, termasuk pada angkutan Lebaran 2026 yang justru turun dibandingkan Lebaran 2025. Karena itu kami menahan diri untuk investasi kendaraan baru, yang dilakukan hanya memperbaiki unit atau armada yang sudah ada,” ujarnya kepada KONTAN, Jumat (10/7/2026). Baca Juga: APTI: Permenkes Kemasan Polos Berisiko Tekan Serapan Tembakau Jelang Panen Raya Menurut Kurnia, maraknya perusahaan otobus yang berekspansi belum dapat dijadikan indikator bahwa permintaan bus nasional sedang meningkat. Pasalnya, ekspansi tersebut umumnya dilakukan oleh perusahaan baru yang sebelumnya bergerak di angkutan pariwisata dan kini mulai masuk ke layanan antarkota antarprovinsi (AKAP). Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan tersebut masih berada pada tahap pengembangan bisnis sehingga keberlanjutannya baru dapat dinilai dalam beberapa tahun ke depan. “PO yang melakukan ekspansi relatif merupakan perusahaan baru. Indikasi ini tidak bisa dijadikan tolok ukur karena mereka baru masuk dan masih harus mengembangkan jalur bisnisnya. Akan terlihat dalam lima tahun ke depan apakah terus berkembang atau justru surut. Banyak perusahaan baru yang ekspansif pasca-Covid, tetapi sekarang sudah hilang,” katanya. Di sisi lain, pembelian armada baru yang masih dilakukan perusahaan otobus saat ini lebih banyak ditujukan untuk mengganti armada lama dibandingkan memperbesar kapasitas usaha. “Pembelian unit baru tahun ini hanya untuk kebutuhan peremajaan perusahaan yang sudah eksisting,” ujarnya. Menurut Kurnia, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas pelayanan kepada penumpang sekaligus mempertahankan tingkat keterisian penumpang (load factor).
Industri Otobus Lesu: Penumpang Turun, Investasi Armada Baru Tertahan
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Industri perusahaan otobus (PO) masih menghadapi tantangan pada paruh pertama 2026. Minimnya pertumbuhan jumlah penumpang membuat pelaku usaha memilih menunda pembelian armada baru dan lebih fokus melakukan peremajaan serta perbaikan bus yang sudah beroperasi. Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) menilai kondisi bisnis pada semester I 2026 masih belum menggembirakan. Bahkan, pada periode angkutan Lebaran 2026, jumlah penumpang dinilai tidak mengalami lonjakan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Ketua Umum IPOMI Kurnia Lesani Adnan mengatakan, kondisi tersebut membuat sebagian besar perusahaan otobus memilih menahan investasi pembelian kendaraan baru. “Semester I 2026 suram. Penumpang tidak mengalami lonjakan signifikan, termasuk pada angkutan Lebaran 2026 yang justru turun dibandingkan Lebaran 2025. Karena itu kami menahan diri untuk investasi kendaraan baru, yang dilakukan hanya memperbaiki unit atau armada yang sudah ada,” ujarnya kepada KONTAN, Jumat (10/7/2026). Baca Juga: APTI: Permenkes Kemasan Polos Berisiko Tekan Serapan Tembakau Jelang Panen Raya Menurut Kurnia, maraknya perusahaan otobus yang berekspansi belum dapat dijadikan indikator bahwa permintaan bus nasional sedang meningkat. Pasalnya, ekspansi tersebut umumnya dilakukan oleh perusahaan baru yang sebelumnya bergerak di angkutan pariwisata dan kini mulai masuk ke layanan antarkota antarprovinsi (AKAP). Ia menambahkan, perusahaan-perusahaan tersebut masih berada pada tahap pengembangan bisnis sehingga keberlanjutannya baru dapat dinilai dalam beberapa tahun ke depan. “PO yang melakukan ekspansi relatif merupakan perusahaan baru. Indikasi ini tidak bisa dijadikan tolok ukur karena mereka baru masuk dan masih harus mengembangkan jalur bisnisnya. Akan terlihat dalam lima tahun ke depan apakah terus berkembang atau justru surut. Banyak perusahaan baru yang ekspansif pasca-Covid, tetapi sekarang sudah hilang,” katanya. Di sisi lain, pembelian armada baru yang masih dilakukan perusahaan otobus saat ini lebih banyak ditujukan untuk mengganti armada lama dibandingkan memperbesar kapasitas usaha. “Pembelian unit baru tahun ini hanya untuk kebutuhan peremajaan perusahaan yang sudah eksisting,” ujarnya. Menurut Kurnia, langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas pelayanan kepada penumpang sekaligus mempertahankan tingkat keterisian penumpang (load factor).
TAG: