KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Maybank Sekuritas Indonesia memproyeksikan kinerja industri di sektor otomotif mengalami pemulihan moderat pada tahun 2026. Pemulihan ini didorong oleh peluncuran sejumlah produk baru, potensi penurunan suku bunga hingga program unggulan pemerintah yang diharapkan dapat meningkatkan permintaan domestik. "Pada tahun 2026, kami memperkirakan adanya katalis pemulihan moderat dengan pertumbuhan volume industri sekitar 5%," tulis analis Maybank Sekuritas Indonesia, Paulina Margareta dalam risetnya, Rabu (4/2/2026).
Baca Juga: Pengetatan Aturan IPO Bisa Perlambat Laju Pencatatan Saham Baru Di samping itu, Paulina menerangkan porsi kendaraan listrik juga terus meningkat. Pada tahun 2025 lalu, kendaraan listrik berbasis baterai (BEV) muncul sebagai segmen dengan pertumbuhan paling menarik, dengan penetrasi pasar melampaui kendaraan
hybrid (HEV), yakni mencapai 13% dari total penjualan mobil, dibandingkan HEV sebesar 8%. Sejumlah tren struktural diperkirakan berlanjut pada 2026, antara lain,
pertama, produsen otomotif asal China terus memperbesar pangsa pasar melalui strategi harga agresif dan peluncuran BEV yang kompetitif.
Kedua, penetrasi kendaraan listrik terus meningkat.
Ketiga, konsumen semakin beralih ke model kendaraan yang lebih terjangkau, sehingga segmen
entry level lebih tangguh dibanding kendaraan kelas menengah hingga atas. "Kami memperkirakan pangsa pasar ASII masih akan menghadapi tekanan setelah turun menjadi 50,9% pada 2025, dari sebelumnya 55,8% pada 2024," ujar Paulina.
Dukungan kebijakan
Paulina juga menerangkan perkembangan terbaru menunjukkan regulasi pemerintah semakin menjadi fokus utama industri. Kendaraan listrik utuh impor (CBU BEV) tidak lagi mendapatkan pembebasan pajak impor dan diwajibkan melakukan perakitan lokal untuk tetap memperoleh insentif PPN, meskipun besaran insentif tersebut belum diumumkan secara rinci. Sebagian besar produsen otomotif telah atau sedang membangun fasilitas produksi di Indonesia maupun bekerja sama dengan perakit lokal. Tanpa insentif signifikan untuk kendaraan hybrid maupun kendaraan berbahan bakar konvensional, persaingan ketat dari kendaraan listrik diperkirakan akan terus menekan pangsa pasar produsen Jepang.
Baca Juga: BEI, KSEI dan OJK Siapkan Pembenahan Pasar Modal, Ini Hasil Pertemuan dengan MSCI Seluruh saham otomotif dalam cakupan pemantauan Maybank Sekuritas Indonesia saat ini diperdagangkan pada valuasi di bawah rata-rata historis, dengan diskon terdalam terlihat pada Astra International (
ASII) dan Astra Otoparts (
AUTO). "Kami memilih AUTO sebagai saham unggulan, didukung oleh valuasi yang menarik, tingkat dividen yang kompetitif, serta proyeksi pertumbuhan laba dengan CAGR tiga tahun sekitar 7%, seiring ekspansi pangsa pasar dan perbaikan margin melalui otomatisasi serta lokalisasi kendaraan listrik (EV)," ungkapnya. Dari sisi rasio P/E dan imbal hasil dividen, AUTO dinilai paling menarik dengan valuasi 5,3 kali P/E tahun 2025 serta
dividend yield sekitar 9%. "Kami juga tetap konstruktif terhadap ASII, seiring evaluasi strategis perusahaan dan aksi
buyback terbaru yang berpotensi membuka peluang peningkatan imbal hasil bagi pemegang saham," jelasnya.
Secara industri Paulina memasang posisi neutral pada sektor otomotif. Adapun saham pilihan Maybank Sekuritas yakni AUTO dipasang target Rp 3.200 per saham. Selanjutnya ASII diberi rekomendasi beli dengan target harga Rp 6.700 per saham. Satu lagi saham otomotif pilihan Maybank Sekuritas adalah DRMA dengan target harga Rp 1.150.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News