Industri Otomotif Waspadai Dampak Kenaikan Suku Bunga terhadap Daya Beli



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,25% mulai membayangi industri otomotif nasional. Pelaku industri berharap perusahaan pembiayaan tidak terburu-buru menaikkan bunga kredit kendaraan bermotor agar daya beli masyarakat tetap terjaga.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie Sugiarto mengatakan, industri otomotif sangat bergantung pada penjualan kredit sehingga kenaikan bunga pembiayaan berpotensi menekan permintaan kendaraan.

“Kita harapkan agar perusahaan pembiayaan tidak terlalu cepat menaikkan suku bunga untuk kredit kendaraan bermotor,” ujar Jongkie kepada Kontan, Senin (25/5/2026).


Maklum, mayoritas pembelian kendaraan di Indonesia masih mengandalkan fasilitas kredit. Kenaikan bunga pinjaman berpotensi meningkatkan cicilan konsumen dan membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membeli kendaraan.

Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor, Yusak Billy mengungkapkan, kenaikan bunga membuat masyarakat menjadi lebih selektif dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan.

Baca Juga: Suku Bunga Naik, Toyota dan Honda Siapkan Strategi untuk Jaga Penjualan

“Dengan bunga yang lebih tinggi, cicilan konsumen juga dapat ikut meningkat sehingga masyarakat menjadi lebih selektif dalam mengambil keputusan pembelian kendaraan,” ujar Billy kepada Kontan, Senin (25/5/2026).

Meski demikian, Honda menilai kebutuhan mobilitas masyarakat masih tinggi sehingga pasar otomotif tetap memiliki peluang pertumbuhan walaupun persaingan industri menjadi semakin dinamis.

Untuk menjaga penjualan, Honda mengandalkan strategi menghadirkan kendaraan hemat bahan bakar, nyaman untuk penggunaan harian, hingga model hybrid dan elektrifikasi. Honda juga menawarkan program penjualan dan layanan purna jual yang kompetitif.

Namun, performa penjualan Honda masih tertekan. Berdasarkan data Gaikindo, penjualan wholesales Honda pada 2025 tercatat 56.500 unit atau turun 40,4% dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 94.742 unit.

Penjualan retail Honda juga turun 30,9% secara tahunan menjadi 71.233 unit pada 2025, dari sebelumnya 103.023 unit pada 2024.

Tekanan penjualan berlanjut pada tahun ini. Selama Januari-April 2026, Honda hanya mendistribusikan 15.893 unit kendaraan ke dealer atau turun 37,3% dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 25.336 unit.

Sementara itu, penjualan retail Honda pada empat bulan pertama 2026 tercatat 16.516 unit, merosot 43,5% dibandingkan Januari-April 2025 yang masih mencapai 29.215 unit.

Di sisi lain, Toyota Astra Motor masih melihat prospek pasar otomotif tetap positif. Vice President TAM, Jap Ernando Demily mengatakan, kebijakan kenaikan suku bunga acuan diharapkan dapat menjaga stabilitas rupiah, kepercayaan pasar, serta mengendalikan tekanan inflasi.

Baca Juga: Suku Bunga BI Naik, Toyota Andalkan DP Rendah dan Tenor Panjang

Menurut dia, Toyota masih terus mengamati implementasi kebijakan suku bunga tersebut di perbankan komersial maupun lembaga pembiayaan.

Di tengah kondisi tersebut, penjualan Toyota justru menunjukkan tren positif. Penjualan wholesales Toyota pada April 2026 mencapai sekitar 25.000 unit atau naik 42% dibandingkan Maret 2026 yang berada di level 17.000 unit.

Untuk menjaga momentum penjualan, Toyota bersama jaringan dealer dan perusahaan pembiayaan menghadirkan berbagai paket pembelian yang lebih kompetitif. Mulai dari opsi uang muka rendah, pilihan tenor lebih panjang, hingga skema cicilan fleksibel.

Toyota juga menawarkan program jaminan harga jual kembali untuk model hybrid seperti Toyota Veloz HEV.

Secara kumulatif, penjualan wholesales Toyota sepanjang Januari-April 2026 tercatat mencapai 86.000 unit.

Baca Juga: Kebijakan Pajak Baru Ancam Penjualan EV? Hyundai Kaji Dampak Komprehensif

Optimisme serupa juga datang dari PT Hyundai Motors Indonesia. Head of PR HMID Rouli Sijabat mengatakan, Hyundai memandang kenaikan suku bunga sebagai bagian dari dinamika pasar yang terus berkembang.

Untuk menjaga momentum penjualan, Hyundai menghadirkan lini produk yang sesuai kebutuhan konsumen dan didukung program penjualan kompetitif serta kerja sama dengan mitra pembiayaan.

Selain itu, Hyundai menawarkan program Triple Zero yang mencakup bunga 0%, biaya administrasi Rp 0, dan biaya provisi Rp 0 untuk sejumlah model seperti Hyundai Stargazer, Hyundai Creta, Hyundai Santa Fe, Hyundai Kona Electric, serta Hyundai Ioniq 5.

Rouli bilang, performa penjualan Hyundai hingga Mei 2026 masih menunjukkan tren positif dan perseroan berharap dapat terus menjaga momentum pertumbuhan ke depan.

Baca Juga: Hyundai: First Car Buyer Berkontribusi 40%-50%, Ditopang Stargazer dan Creta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News