Industri Pelayaran Tak Yakin Janji Trump Kawal Kapal Bisa Jadi Solusi



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Industri pelayaran global menanggapi pesimistis janji Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengamankan, bahkan mengawal angkutan energi agar aman melalui Teluk Persia. Industri pelayaran menilai ini hanya solusi parsial.

Sejak Selat Hormuz ditutup, perdagangan maritim antara beberapa produsen minyak dan gas terbesar di dunia dan seluruh dunia hampir terputus. “Tidak ada yang pasti dan kita membutuhkan kejelasan segera,” kata Khalid Hashim, Direktur Pelaksana Precious Shipping Pcl, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (4/3/2026).

Precious Shipping Pcl merupakan perusahaan Thailand yang memiliki kapal pengangkut curah. Perusahaan tersebut saat ini memiliki beberapa kapal di Teluk Persia, dan telah berjuang untuk mendapatkan perlindungan risiko perang sebelum berlayar dari wilayah tersebut.


Baca Juga: Italia Siap Kirim Sistem Pertahanan Udara ke Negara Teluk Hadapi Serangan Iran

“Nyawa berisiko, kargo berisiko, kapal berisiko. Kita membutuhkan perlindungan segera yang melindungi kita dari semua ini,” kata Khalid.

Karena kapal tidak mampu atau tidak mau melintasi selat tersebut, produsen tidak dapat mengirimkan produk ekspor. Biaya supertanker juga meroket, dan penyimpanan di banyak kilang Teluk Persia cepat penuh.

Perusahaan asuransi mutual terbesar di dunia juga telah mematok premi perlindungan asuransi risiko perang untuk kapal-kapal di daerah tersebut. “Hal utama yang dipikirkan pemilik kapal adalah risiko kerugian yang sebenarnya,” kata Karnan Thirupathy, mitra di Kennedys Law LLP yang mengkhususkan diri dalam sektor komoditas, pelayaran, dan asuransi.

Baca Juga: Apakah Serangan Militer AS terhadap Iran Sah Secara Hukum?

Dampaknya sangat cepat. Irak, produsen minyak terbesar di Timur Tengah setelah Arab Saudi, telah mulai melakukan pengurangan produksi besar-besaran. Irak berpotensi mengurangi produksi lebih jauh lagi. Ini jadi tanda paling jelas dari tekanan pada pemasok di kawasan tersebut.

Untuk memenuhi biaya asuransi yang meningkat, Trump berniat menggunakan US International Development Finance Corporation, sebuah lembaga yang biasanya membantu sektor swasta untuk menyediakan pembiayaan bagi negara-negara berkembang. Perusahaan ini diminta mendukung penyewa kapal, pemilik kapal, dan perusahaan asuransi maritim utama.

“Meskipun komentar Presiden Trump tentang asuransi dan pengawalan kapal tanker menyebabkan penurunan harga minyak, kami mempertanyakan seberapa banyak perencanaan yang telah dilakukan terkait jaminan asuransi sejauh ini dan berpikir mungkin ada sejumlah tantangan dalam melaksanakan rencana ini dengan cepat,” kata analis RBC Capital Markets LLC dalam risetnya.

Baca Juga: Mojtaba Khamenei Masih Hidup dan Muncul sebagai Kandidat Pemimpin Baru Iran

Dengan informasi yang terbatas, pemilik kapal juga berhati-hati terhadap ketentuan asuransi dan biayanya. Beberapa juga mengatakan masalah kepercayaan tidak mudah diselesaikan dengan angkatan laut AS, mengingat serangan Iran yang terus berlanjut dan kapasitas terbatas untuk pengawalan yang ketat, terutama karena banyak kapal tanker bukan milik AS atau berbendera AS.

“AS saat ini memimpin kampanye melawan Iran, dan pertanyaan kuncinya adalah apakah ada cukup aset Angkatan Laut untuk mengawal kapal serta melanjutkan operasi melawan Iran,” kata analis RBC Capital Markets.