Industri Pengolahan Nikel Hingga Semikonduktor Jadi Pendorong Ekspor Kuartal I-2026



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Industri pengolahan masih menjadi penopang kinerja ekspor Indonesia pada kuartal I-2026, dengan motor utama mulai dari pengolahan nikel hingga semikonduktor dan komponen elektronik.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan kenaikan nilai ekspor Indonesia sebesar 0,34% secara kumulatif Januari–Maret 2026 mencapai US$ 66,85 miliar, terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan.

“Ekspor sektor industri pengolahan yang naik cukup besar terutama nikel, kimia dasar organik dari hasil pertanian, minyak kelapa sawit, kimia dasar organik lainnya, serta semikonduktor dan komponen elektronik,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (4/5/2026).


Baca Juga: Kuartal I-2026 Diprediksi Lesu, Polytron: Justru Ini Musim Puncak Penjualan

Sepanjang kuartal I-2026, ekspor industri pengolahan tercatat sebesar US$ 54,93 miliar atau tumbuh 3,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 52,89 miliar.

Sektor ini menjadi satu-satunya penopang pertumbuhan ekspor di tengah melemahnya sektor lain.

Sebaliknya, ekspor sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami penurunan terdalam, yakni sebesar 32,18% menjadi US$ 1,14 miliar dari sebelumnya US$ 1,69 miliar.

Sementara itu, ekspor sektor pertambangan dan lainnya juga menurun 11,17% menjadi US$ 7,47 miliar dari US$ 8,41 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, kinerja ekspor pada Maret 2026 tercatat mengalami kontraksi secara tahunan. Nilai ekspor pada bulan tersebut mencapai US$ 22,53 miliar atau turun 3,10% dibandingkan Maret 2025 yang sebesar US$ 23,25 miliar.

Menurut Ateng, penurunan ekspor Maret terutama disebabkan oleh melemahnya sejumlah komoditas nonmigas.

Baca Juga: Penjualan Tetap Stabil, Pangsa Pasar Hyundai Naik Jadi 2,8% di Kuartal I-2026

“Penurunan nilai ekspor Maret 2026 secara tahunan terutama didorong oleh penurunan ekspor lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) yang turun 27,02%, kakao dan olahannya (HS 18) turun 50,89%, serta kopi, teh, dan rempah-rempah (HS 09) yang turun 54,69%,” jelasnya.

Meski begitu kinerja ekspor Indonesia pada awal 2026 masih bertumpu pada sektor industri pengolahan yang mampu mengimbangi pelemahan di sektor berbasis komoditas primer.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News