KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri perbankan berhasil menorehkan kinerja positif pada Januari 2026, didorong penurunan biaya dana dan efisiensi biaya operasional. Sepanjang bulan pertama tersebut, industri meraup laba bersih sebesar Rp 22,7 triliun, tumbuh 8,92% secara tahunan atau
year on year (YoY). Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dikutip Sabtu (21/3/2026), pendapatan bunga industri perbankan pada Januari tahun ini tampak stabil di kisaran Rp 97,2 triliun. Namun, beban bunga susut 8,19% YoY menjadi Rp 47,8 triliun. Alhasil, pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) mencapai Rp 49,4 triliun, tumbuh 10,87% secara tahunan. Sayangnya, pendapatan nonbunga industri perbankan mengalami kontraksi 5,64% YoY, meski masih menjadi penyumbang pendapatan terbesar. Nilainya mencapai Rp 139,4 triliun. Adapun beban operasional selain bunga menyusut 3,11% menjadi Rp 161,1 triliun.
Jika dirinci, semua kelompok bank menorehkan pertumbuhan laba bersih pada Januari, dengan kinerja terbaik ditorehkan kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) III atau bank dengan modal inti di atas Rp 14 triliun hingga Rp 70 triliun.
Baca Juga: Kredit Berisiko Naik Industri di Awal Tahun, BTN Pastikan Tetap Terkendali KBMI III yang saat ini berjumlah 16 bank membukukan laba bersih Rp 4,19 triliun, meningkat 25,7% secara tahunan. Realisasi tersebut didukung kenaikan pendapatan NII hingga 21,9% YoY menjadi Rp 11 triliun dan lonjakan pendapatan nonbunga hingga 209,8% YoY menjadi Rp 20,3 triliun. Padahal, di saat yang sama, beban operasional kelompok ini juga meningkat pesat hingga 111,6% menjadi Rp 25,9 triliun. PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), salah satu bank di jajaran KBMI III, optimistis bisa menorehkan kinerja apik sepanjang 2026. Bank ini membidik pertumbuhan laba bersih 20%–22%. Optimisme ini ditopang penyelesaian kredit bermasalah masa lalu serta rencana ekspansi melalui pembentukan anak usaha baru. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menilai target tersebut realistis seiring fundamental yang semakin sehat. “Net profit kami masih berani menargetkan 20%–22% karena masalah kredit masa lalu sudah selesai. Jadi sudah bersih,” ujarnya saat rapat dengan Komisi VI DPR RI di awal tahun. BTN juga membidik pertumbuhan kredit 8%–9% YoY dengan rasio NPL dijaga di bawah 3%. Selain itu, BTN menargetkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 7%–8% dan biaya dana (
cost of fund) ditekan di bawah 3,6% melalui penguatan dana murah (CASA).
Baca Juga: Pembiayaan Berisiko Naik Imbas Bencana, BSI Perkuat Pencadangan Adapun KBMI II atau kelompok bank dengan modal inti di atas Rp 6 triliun hingga Rp 14 triliun mencetak laba bersih Rp 2,02 triliun atau tumbuh 22,7% YoY. Saat ini jumlah bank di kelompok ini mencapai 27 perusahaan. Capaian KBMI II tersebut didorong penurunan biaya dana hingga 24,4% yang membuat NII berhasil tumbuh 13,42% YoY menjadi Rp 6,1 triliun, di saat pendapatan bunga mengempis 9,56% YoY menjadi Rp 12,4 triliun. Kelompok bank bermodal inti di bawah Rp 6 triliun (KBMI I), yang berjumlah 58 bank, membukukan laba bersih Rp 1,47 triliun atau tumbuh 14,54% secara tahunan. Kinerja ini ditopang lonjakan pendapatan nonbunga sebesar 142,7% YoY menjadi Rp 10,5 triliun. Sementara NII turun 6,47% menjadi Rp 4,6 triliun, seiring kenaikan beban bunga sebesar 6,27% YoY yang tidak diimbangi pertumbuhan pendapatan bunga. Di sisi lain, beban operasional selain bunga melonjak 77,2% menjadi Rp 13,5 triliun.
Baca Juga: Margin Perbankan Membaik di Awal Tahun Kinerja KBMI IV tampak paling lesu. Laba bersih empat bank besar dengan modal inti di atas Rp 70 triliun pada Januari hanya tumbuh 3,02% secara tahunan menjadi Rp 15,05 triliun. Penyebab bottom line KBMI IV tumbuh tipis karena pendapatan nonbunga menyusut hingga 25,3% menjadi Rp 78,3 triliun. Sementara itu, operasional kelompok ini lebih efisien dengan biaya operasional selain bunga menyempit 21,4% YoY menjadi Rp 87,7 triliun. Pendapatan bunga bersihnya juga tumbuh 9,81% menjadi Rp 27,6 triliun seiring penurunan signifikan beban dana hingga 34,8% YoY menjadi Rp 13,9 triliun. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News