KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri pergadaian masih memiliki peluang untuk mempertahankan pertumbuhan laba hingga akhir 2026. Namun, pencapaian tersebut akan bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari pergerakan harga emas, biaya pendanaan, hingga kemampuan perusahaan menjaga kualitas pembiayaan dan efisiensi operasional. Perkumpulan Perusahaan Gadai Indonesia (PPGI) menilai, upaya perusahaan dalam mengembangkan bisnis turut menentukan kinerja laba industri pergadaian ke depan. Selain faktor internal, kondisi eksternal juga berpengaruh terhadap profitabilitas perusahaan. Sekretaris PPGI Holilur Rohman mengatakan, sejumlah faktor eksternal yang memengaruhi kinerja industri pergadaian di antaranya pergerakan harga emas, harga barang elektronik, serta permintaan masyarakat.
"Misalnya, harga emas, harga barang elektronik yang dipengaruhi nilai tukar, hingga permintaan dari masyarakat," katanya kepada Kontan, Selasa (13/10/2026). Untuk mempertahankan kinerja laba yang sejauh ini positif, Holilur menilai perusahaan pergadaian perlu memperkuat literasi, edukasi, dan promosi. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaring nasabah baru sekaligus mempertahankan nasabah yang sudah ada. Dari sisi pelaku usaha, PT Gadai ValueMax Indonesia menyoroti biaya dana atau cost of fund sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi perolehan laba perusahaan. "Sebab, perubahan suku bunga acuan dan biaya pendanaan akan langsung berpengaruh terhadap margin perusahaan atau Net Interest Margin (NIM)," ungkap Direktur Utama Gadai ValueMax Indonesia Brian Wiraatmadja kepada Kontan, Sabtu (10/10). Brian menjelaskan, kualitas portofolio pembiayaan dan kemampuan nasabah melakukan pelunasan juga menjadi faktor penting dalam menjaga profitabilitas. Selain itu, perusahaan perlu memperhatikan tingkat persaingan, terutama dalam penetapan sewa modal dan taksiran barang jaminan. "Ditambah, biaya operasional, produktivitas cabang, dan pergerakan harga emas juga akan menjadi faktor yang perlu terus kami monitor dengan ketat," ucapnya. Meski menghadapi sejumlah tantangan, Brian tetap optimistis terhadap prospek industri pergadaian. Menurut dia, keberhasilan perusahaan ke depan tidak hanya ditentukan oleh kecepatan ekspansi, tetapi juga oleh kemampuan menjaga kesehatan bisnis dan efisiensi operasional. Dalam hal ini, Gadai ValueMax menargetkan peningkatan profitabilitas secara bertahap. Perusahaan juga berupaya menjaga kualitas pembiayaan dan memperkuat fondasi bisnis untuk mendukung ekspansi jangka panjang. Sementara itu, PT Budi Gadai Indonesia yang berasal dari Sumatera Utara (Sumut) menilai kondisi ekonomi, daya beli, kebutuhan pembiayaan masyarakat, serta perkembangan harga emas turut menentukan kinerja laba perusahaan pergadaian. "Selain itu, persaingan di industri pergadaian juga menjadi tantangan yang perlu diperhatikan," ungkap Direktur PT Budi Gadai Indonesia Budiarto Sembiring menerangkan kepada Kontan, Jumat (9/10). Budiarto mengatakan, tantangan dari sisi internal perusahaan meliputi upaya menjaga pertumbuhan pembiayaan tetap sehat, mempertahankan kualitas layanan dan pembiayaan, menjaga kualitas barang jaminan, serta mengendalikan biaya operasional. "Oleh karena itu, perusahaan akan terus menyesuaikan strategi dengan kondisi pasar dan kebutuhan nasabah agar pertumbuhan bisnis tetap berjalan dengan baik dan dapat mendukung peningkatan laba," tuturnya. Untuk meningkatkan profitabilitas, Budi Gadai Indonesia menerapkan sejumlah strategi, salah satunya dengan menjaga kualitas pelayanan agar kepercayaan dan loyalitas nasabah tetap terpelihara. Perusahaan juga berupaya meningkatkan penyaluran pembiayaan yang sehat dan berkualitas dengan tetap mempertimbangkan kemampuan nasabah serta kualitas barang jaminan. Di samping itu, optimalisasi kinerja setiap cabang dan efisiensi operasional menjadi bagian dari strategi perusahaan. Melalui berbagai langkah tersebut, Budiarto optimistis pertumbuhan pembiayaan dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan laba perusahaan.
Budiarto mengungkapkan, berdasarkan data hingga kuartal III-2026, laba Budi Gadai Indonesia tumbuh 21,1% secara tahunan atau year on year (YoY). Namun, dia tidak menyebutkan nilai laba yang berhasil dibukukan perusahaan. Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat laba industri pergadaian mencapai Rp 8,57 triliun per Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 69,73% secara tahunan atau YoY. Melihat perkembangan kinerja hingga Agustus 2026, OJK optimistis industri pergadaian masih memiliki ruang untuk mencatatkan pertumbuhan positif hingga akhir tahun ini. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News