KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pelaku Reksadana dan Investasi Indonesia (APRDI) memperkuat literasi dan inklusi reksadana melalui program Sosialisasi dan Edukasi Reksadana (Sosedu) 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Pekan Reksadana 2026 yang didukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO). Sosialisasi dan edukasi reksadana APRDI 2026 digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, pada Senin (20/4/2026) menyasar jurnalis melalui kelas edukasi guna mendorong penyampaian informasi investasi yang akurat dan kredibel kepada masyarakat.
Baca Juga: Pefindo Sematkan Peringkat idA untuk Cemindo Gemilang (CMNT), Prospek Stabil Di tengah penguatan literasi, industri reksadana mencatat kinerja solid sepanjang 2025. Nilai dana kelolaan (
asset under management/AUM) reksadana tumbuh 35,06% menjadi Rp679,24 triliun, dari Rp502,92 triliun pada akhir 2024. Secara agregat, total dana kelolaan investasi menembus Rp1.007,65 triliun atau naik 25,19% secara tahunan, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Ketua Presidium APRDI, Lolita Liliana mengatakan pertumbuhan industri perlu diimbangi peningkatan pemahaman investor. "Momentum ini harus dijaga melalui penguatan literasi dan inklusi, khususnya di kalangan generasi muda yang kini mendominasi komposisi investor," ujar Lolita. Sebagai bagian dari kampanye #ReksaDanaAja, APRDI juga menggelar Pekan Reksadana 2026 pada 25 April–1 Mei 2026 dengan puncak acara pada 27 April di Main Hall Bursa Efek Indonesia. Agenda ini mencakup peluncuran program PINTAR Reksadana untuk memperluas akses dan partisipasi masyarakat.
Baca Juga: IHSG Melemah 0,52% ke 7.594 pada Senin (20/4), AMRT, SCMA, BRPT Jadi Top Losers LQ45 Rangkaian kegiatan turut digelar di sejumlah kota, antara lain Surabaya, Semarang, Medan, Makassar, Bandung, dan Palembang. APRDI juga menyelenggarakan kompetisi penulisan artikel bagi jurnalis serta konten Instagram Reels untuk mahasiswa. Dari sisi kinerja, data Pasardana.id menunjukkan reksadana saham mencatat imbal hasil tertinggi sebesar 17,23% pada 2025, diikuti reksadana campuran 12,48%, pendapatan tetap 6,96%, dan pasar uang 3,18%. Kinerja ini sejalan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 22,13% sepanjang tahun lalu.
Sementara itu, pertumbuhan AUM terbesar berasal dari reksadana pendapatan tetap (67,04%) dan pasar uang (60,03%), mencerminkan preferensi investor yang cenderung konservatif di tengah dinamika pasar. Reksadana indeks justru mengalami kontraksi 1,64%.
Jumlah investor terus meningkat
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat
Single Investor Identification (SID) mencapai 19,2 juta per akhir 2025, naik 3,23% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebanyak 54,24% investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. APRDI menilai tren ini menunjukkan meningkatnya kesadaran dan partisipasi generasi muda dalam berinvestasi, sekaligus menjadi dasar penguatan program literasi ke depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News