Industri sawit berkomitmen cegah kebakaran hutan



JAKARTA. Kalangan industri kelapa sawit, salah satunya PT Triputra Agro Persada menyatakan komitmen untuk melakukan pencegahan kebakaran lahan.

Managing Director Triputra Agro Persada (TAP) Sutedjo Halim di Jakarta, Jumat mengatakan, pihaknya menyadari bahwa pencegahan kebakaran lebih efektif, lebih murah dan akan sangat membantu penurunan emisi gas rumah kaca.

"Dengan mencegah kebakaran, akan memberikan dampak yang sangat besar untuk pengurangan emisi gas rumah kaca," katanya melalui keterangan tertulis.


Terkait hal itu, sebelumnya (Kamis, 4/2), Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Vidar Helgesen didampingi Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavikmengunjungi perkebunan swasta nasional PT Yudha Wahana Abadi (YWA) anak usaha PT TAP di, Desa Merapun, Kecamatan Kelay, Kabupaten Berau.

Turut mendampingi tamu dari Norwegia, yakni Bupati dan Wakil Bupati terpilih, Muharram dan Agus Tamtomo, Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, Agus Justianto serta Manajemen The Nature Conservation.

Di hadapan Menteri Perubahan Iklim dan Lingkungan Hidup Norwegia, Vidar Helgesen, Sutedjo menyatakan, TAP memiliki komitmen kuat dan berkelanjutan, yang meliputi kontribusi untuk pembangunan nasional, komitmen untuk memenuhi global mengakui standar keberlanjutan, mendukung komunitas lokal, mencapai kondisi ramah lingkungan dan selalu berupaya mencapai operasional yang "excellence".

"Kunjungan ini penting bagi industri kelapa sawit, agar Menteri Lingkungan Hidup Norwegia melihat dari dekat bahwa perkebunan sawit di Indonesia dikelola dengan komitmen kelestarian lingkungan (sustainability"," ujarnya.

Menurut dia, hal itu penting karena pemerintah Norwegia memberi dukungan bagi pemerintah Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Menurut Sutedjo, Group TAP memahami pentingnya pengurangan emisi gas. Terkait hal itu, beberapa hal yang dilakukan adalah, pertama, manajemen kebakaran.

"Belajar dari kebakaran hutan dan lahan dari tahun-tahun sebelumnya, manajemen pencegahan kebakaran adalah kuncinya. Untuk itu TAP menekankan pada pencegahan kebakaran dan secara aktif mendorong partisipasi masyarakat lokal di sekitar perkebunan," ucapnya.

Kemudian, lanjutnya, lebih menekankan kepada intensifikasi, bukan ekspansi atau ekstensifikasi, karena daerah untuk ekspansi memang sangat terbatas.

"Kami percaya bahwa menerapkan 'Good Agriculture Practices' (GAP) untuk perkebunan kelapa sawit selain akan meningkatkan produktivitas, juga akan mengurangi biaya dan ramah terhadap lingkungan," ujar Sutedjo.

Selain itu, pihaknya berkomitmen untuk "zero waste", dalam hal ini, TAP berencana membangun Unit Biogas dan kompos di salah satu anak perusahaan di Kalimantan Tengah sebagai "pilot project".

Managing Director PT YWA Disa Suherdis mengatakan, Indonesia adalah penghasil CPO terbesar di dunia dan menjadi sumber penghasilan bagi jutaan rakyat Indonesia.

"Sebanyak 43 persen dari kebun sawit di Indonesia dimiliki petani swadaya, yang sangat penting untuk perekonomian masyarakat. Karenanya, sustainability adalah keniscayaan agar industri ini menjadi berkelanjutan," paparnya.

Kehadiran perkebunan dan pengolahan kelapa sawit di Kabupaten Berau, menurut dia, tentunya dapat membantu perekonomian daerah, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dukungan terhadap adat dan kesehatan masyarakat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dikky Setiawan