KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Industri kelapa sawit nasional masih menghadapi tantangan untuk meningkatkan produktivitas kebun sekaligus menjaga efisiensi operasional. Persoalan tersebut mencakup tingkat penyerbukan alami hingga kualitas bahan bakar yang dapat mempengaruhi kinerja genset dan alat berat di perkebunan maupun pabrik kelapa sawit (PKS). Kondisi tersebut turut membuka kebutuhan terhadap pemanfaatan teknologi dan solusi penunjang di sepanjang rantai industri sawit. Biochem by PT Prasetia Dwidharma melihat peningkatan produktivitas di sisi hulu perlu berjalan beriringan dengan efisiensi operasional kebun dan pabrik. Head of Business Development Biochem PT Prasetia Dwidharma, Ismy Agustin mengatakan, kebutuhan masing-masing sentra perkebunan sawit dapat berbeda sehingga solusi yang digunakan perlu menyesuaikan persoalan di lapangan.
"Baik di Riau maupun Kalimantan, kami ingin menghadirkan solusi yang menjawab kebutuhan spesifik masing-masing wilayah, mulai dari produktivitas kebun hingga efisiensi operasional kebun dan pabrik, sebagai bagian dari komitmen kami mendukung keberlanjutan industri sawit nasional dari hulu hingga hilir," ujar Ismy dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).
Baca Juga: Industri Agrikultur Perlu Genjot Digitalisasi untuk Bersaing Secara Global Untuk sisi hulu, salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah rendahnya tingkat penyerbukan alami. Kondisi tersebut dapat menekan nilai
fruit set kelapa sawit dan pada akhirnya berdampak terhadap berat tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan perkebunan. Biochem menawarkan Protecrop, solusi berbasis bahan alami yang dirancang untuk mendukung proses penyerbukan dan produktivitas tanaman kelapa sawit. Produk tersebut akan diperkenalkan dalam Sawit Indonesia Expo and Conference (SIEXPO) 2026 di Pekanbaru, Riau, pada 6–8 Agustus 2026. Selain produktivitas tanaman, perusahaan melihat efisiensi mesin menjadi aspek lain yang perlu diperhatikan pelaku industri sawit. Kualitas bahan bakar biodiesel dapat berpengaruh terhadap keandalan mesin yang digunakan dalam kegiatan perkebunan maupun pengolahan. Untuk kebutuhan tersebut, Biochem mengembangkan Imagina, aditif bahan bakar biodiesel berbasis minyak atsiri yang ditujukan untuk menjaga kualitas bahan bakar sekaligus performa genset dan alat berat. Menurut perusahaan, efektivitas Imagina telah melalui pengujian lapangan selama lebih dari 45.000 jam pada berbagai alat berat dan generator. Pengujiannya juga telah divalidasi laboratorium independen LEMIGAS dan SOS Trakindo.
Baca Juga: GAPKI: Mandatori Biodiesel Perlu Seimbang dengan Produksi Sawit dan Skema Pembiayaan Solusi tersebut akan dibawa Biochem dalam 9th Borneo Forum 2026 yang diselenggarakan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) se-Kalimantan di Balikpapan pada 6–7 Agustus 2026. Forum tahun ini mengangkat tema
Resilience, Innovation, and Transformation dengan pembahasan antara lain mengenai penguatan tata kelola perkebunan sawit berkelanjutan. Biochem akan mengikuti kedua pameran tersebut secara bersamaan. Selain Imagina yang menjadi salah satu fokus di Borneo Forum, perusahaan juga membawa Protecrop sebagai solusi untuk sisi hulu perkebunan. Melalui keikutsertaan di dua agenda industri tersebut, perusahaan membidik kebutuhan pelaku sawit dari dua sisi, yakni peningkatan produktivitas tanaman di perkebunan serta efisiensi penggunaan mesin dan bahan bakar pada kegiatan operasional kebun maupun PKS.
Baca Juga: Implementasi B50 Dongkrak Permintaan Sawit, Industri Waspadai Tantangannya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News