KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri sepatu Indonesia menghadapi persaingan dengan Vietnam, terutama dari sisi produktivitas dan jam kerja. Perwakilan Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) Hariyanto mengatakan, Indonesia saat ini tertinggal dalam jumlah jam kerja dibandingkan Vietnam yang mencapai 48 jam per minggu. “Saat ini kita kalah dalam hal jam kerja; satu minggu 48 jam di Vietnam, sedangkan kita 40 jam. Dari situ saja kita sudah kalah 20%. Saat ini kita ingin mengusulkan untuk menaikkan jam kerja menjadi 45 jam,” ujar Hariyanto dalam konferensi pers APINDO mengenai RUU Ketenagakerjaan, Rabu (30/9/2026). Selain jam kerja, Hariyanto menyoroti perbedaan pola kenaikan upah minimum antara Indonesia dan Vietnam. “Upah minimum di sana kenaikannya selalu tiap dua tahun dan kenaikannya selalu di bawah pertumbuhan ekonomi. Kalau kita di sini, tiap tahun naik dan selalu di atas pertumbuhan ekonomi. Contohnya tahun lalu kenaikan 6,5%, sedangkan pertumbuhan ekonominya 5%, karena tekanan dari demo dan tekanan dari serikat pekerja,” ujar Hariyanto. Baca Juga: Industri Alas Kaki Hadapi Tekanan Daya Saing Hariyanto mengatakan, tekanan biaya tenaga kerja akan mendorong pelaku industri melakukan penyesuaian untuk mempertahankan daya saing. Salah satunya melalui percepatan otomatisasi dan pengurangan biaya yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Langkah tersebut dinilai penting mengingat industri sepatu Indonesia berorientasi ekspor. “Karena di industri sepatu, orientasinya ekspor semua. Ekspor mencapai US$8 miliar dan 99% di antaranya adalah sepatu olahraga (sneakers),” jelasnya. Hariyanto menyebut nilai ekspor industri sepatu mencapai US$8 miliar, dengan mayoritas ekspor berupa sepatu olahraga atau sneakers. “Tapi kita otomatis akan bertahan dengan cara mempercepat otomatisasi dan mengurangi biaya-biaya yang berkaitan dengan ketenagakerjaan,” ujarnya.
Industri Sepatu RI Kalah Jam Kerja dari Vietnam, APRISINDO Usul Naik ke 45 Jam/Minggu
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri sepatu Indonesia menghadapi persaingan dengan Vietnam, terutama dari sisi produktivitas dan jam kerja. Perwakilan Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) Hariyanto mengatakan, Indonesia saat ini tertinggal dalam jumlah jam kerja dibandingkan Vietnam yang mencapai 48 jam per minggu. “Saat ini kita kalah dalam hal jam kerja; satu minggu 48 jam di Vietnam, sedangkan kita 40 jam. Dari situ saja kita sudah kalah 20%. Saat ini kita ingin mengusulkan untuk menaikkan jam kerja menjadi 45 jam,” ujar Hariyanto dalam konferensi pers APINDO mengenai RUU Ketenagakerjaan, Rabu (30/9/2026). Selain jam kerja, Hariyanto menyoroti perbedaan pola kenaikan upah minimum antara Indonesia dan Vietnam. “Upah minimum di sana kenaikannya selalu tiap dua tahun dan kenaikannya selalu di bawah pertumbuhan ekonomi. Kalau kita di sini, tiap tahun naik dan selalu di atas pertumbuhan ekonomi. Contohnya tahun lalu kenaikan 6,5%, sedangkan pertumbuhan ekonominya 5%, karena tekanan dari demo dan tekanan dari serikat pekerja,” ujar Hariyanto. Baca Juga: Industri Alas Kaki Hadapi Tekanan Daya Saing Hariyanto mengatakan, tekanan biaya tenaga kerja akan mendorong pelaku industri melakukan penyesuaian untuk mempertahankan daya saing. Salah satunya melalui percepatan otomatisasi dan pengurangan biaya yang berkaitan dengan ketenagakerjaan. Langkah tersebut dinilai penting mengingat industri sepatu Indonesia berorientasi ekspor. “Karena di industri sepatu, orientasinya ekspor semua. Ekspor mencapai US$8 miliar dan 99% di antaranya adalah sepatu olahraga (sneakers),” jelasnya. Hariyanto menyebut nilai ekspor industri sepatu mencapai US$8 miliar, dengan mayoritas ekspor berupa sepatu olahraga atau sneakers. “Tapi kita otomatis akan bertahan dengan cara mempercepat otomatisasi dan mengurangi biaya-biaya yang berkaitan dengan ketenagakerjaan,” ujarnya.