Industri SKT Berkontribusi Ke Penyerapan Tenaga Kerja



KONTAN.CO.ID - Industri hasil tembakau terutama sigaret kretek tangan (SKT) memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam sejarah Indonesia. Seperti yang digambarkan dalam serial Gadis Kretek, keberadaan industri ini turut memutar roda perekonomian Indonesia terutama lewat penyerapan tenaga kerja.

I Ketut Budhyman Mudhara, Ketua Umum Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) menyebut setidaknya 6 juta tenaga kerja terlibat dalam industri hasil tembakau. Mulai dari petani cengkih dan tembakau, pekerja manufaktur hingga pekerja sektor kreatif.  Menurutnya, salah satu segmen yang berpengaruh besar adalah Sigaret Kretek Tangan (SKT). 

Budhyman menyebut SKT merupakan segmen padat karya yang menjadi tumpuan ladang kerja bagi ratusan ribu tenaga kerja. Segmen SKT dalam penyerapan tenaga kerjanya juga menerapkan inklusivitas pekerja.


Baca Juga: AMTI Soroti Larangan Restriktif dari Hulu sampai Hilir di Ekosistem Pertembakauan

"Pertama, sektor ini banyak melibatkan pekerja perempuan yang kini juga menjadi ibu rumah tangga. Pekerja dengan karakteristik tekun, ulet dan rapi sangat dibutuhkan dalam proses produksi rokok SKT. Kedua, sektor SKT banyak ditemukan mempekerjakan pekerja yang berkebutuhan khusus atau penyandang disabilitas,” katanya.

Melihat hal ini, Budhyman memandang bahwa kontribusi industri SKT berdampak besar akan penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Dia menyoroti regulasi terkait pertembakauan saat ini belum mampu secara maksimal melindungi dan memberdayakan para ratusan ribu pekerja di segmen SKT. Oleh karena itu, sebagai bagian dari elemen ekosistem pertembakauan, SKT  perlu dilindungi dan diberdayakan agar semakin mampu menyerap tenaga kerja dan menggerakkan perekonomian daerah serta nasional. 

"Sangat penting memastikan bahwa dari sisi kebijakan, pemerintah pusat maupun daerah perlu mengupayakan untuk menjaga sektor padat karya ini demi kesejahteraan para tenaga kerja di dalamnya. Termasuk perlindungan melalui regulasi yang adil, berimbang, dan mendorong pemberdayaan serta daya saing SKT. Dengan demikian, eksistensi industri SKT dan pekerjanya dapat terus tumbuh dan  berdaya saing," tegas Budhyman.

Baca Juga: Tolak RPP UU Kesehatan, AMTI Soroti Kesejahteraan Tenaga Kerja Tembakau

Hal serupa juga diungkapkan Ketua Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan dan Minuman Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP-RTMM SPSI) Yogyakarta Waljid Budi Lestarianto. Menurutnya, perkembangan bisnis sigaret kretek tangan berpengaruh besar dalam terciptanya lapangan kerja. Khusus di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Waljid Budi menyebut jumlah serapan tenaga kerja di tujuh pabrik SKT capai 5.200 orang.

“Paling banyak serapan tenaga kerja di pabrik kawasan Kabupaten Bantul,” kata Waljid Budi kepada KONTAN, belum lama ini.

Dia menambahkan hampir 97% serapan tenaga kerja di pabrik SKT didominasi kaum perempuan. Alasannya, produk rokok SKT merupakan produk asli yang terbuat dari tangan dan membutuhkan keterampilan tangan perempuan.

Disamping itu juga, Waljid Budi menyebut kontribusi bisnis SKT menjadi solusi bagi orang yang membutuhkan pekerjaan namun minim keterampilan dan pendidikan.

“Teman-teman pekerja di pabrik SKT itu umumnya tidak memiliki kapasitas yang cukup. Maksudnya strata pendidikan tidak tinggi. Tetapi selama ada niat kerja dan pelatihan bisa jadi solusi lapangan pekerjaan baru,” ungkap Waljid.

Karena itu, bagi Waljid kontribusi SKT berperan besar bagi penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraan tenaga kerja di dalamnya. Waljid mencatat setidaknya ribuan tenaga kerja di pabrik SKT DIY bisa mengantongi upah Rp 2,2 juta setiap bulannya.

Pernyataan serupa pun dilontarkan Sriyadi Purnomo, Ketua Mitra Produksi Sigaret I Indonesia. Dia menilai bahwa kontribusi bisnis SKT sangat berdampak luar biasa terhadap kesejahteraan tenaga kerja dibawah naungan pabrik SKT. “Rokok segmen SKT dibuat dengan bahan baku lokal yakni tembakau, petani hingga tenaga kerja sangat bergantung hidup pada keberadaan bisnis SKT,” sebut Yadi Purnomo kepada KONTAN, Rabu (29/11).

Baca Juga: Kenaikan Cukai Rokok 2024 Tunggu Restu DPR

Yadi yang juga merupakan Direktur Koperasi Kareb Bojonegoro menuturkan bahwa penyerapan tenaga kerja di industri SKT Bojonegoro, Jawa Timur cukup banyak. Dia perkirakan ada puluhan ribu di belasan pabrik rokok yang memproduksi rokok SKT. “95% pekerja SKT perempuan karena keahliannya dalam memproduksi rokok SKT,” tuturnya.

Salah satu tenaga kerja SKT di MPS Kapas, Bojonegoro yakni Masnah bercerita bahwa keberadaan industri SKT berperan besar dalam perekonomiannya. Sejak 2004 menjadi tenaga kerja di pabik SKT Bojonegoro memberi dampak besar bagi kehidupan Masnah.

“SKT sangat membantu keuangan saya. Karena pekerjaan suami sebagai kuli bangunan dan tiga anak yang harus disekolahkan maka saya memilih untuk bekerja di pabrik SKT,” tutur perempuan berusia 45 tahun ini.

Dia pun berharap keberlangsungan industri SKT tetap tumbuh meski gunjang ganjing regulasi UU Kesehatan menganggu aktivitas SKT. “Harapannya regulasi atau kebijakan yang dibuat Pemerintah tidak memberatkan industri SKT. Kalau banyak larangan dan aturan yang memberatkan, kami bingung akan kerja dimana lagi,” celotehnya.

Ekspansi Sampoerna

Industri SKT yang berkontribusi menyerap tenaga kerja yakni PT HM Sampoerna Tbk sebagai produsen SKT dengan merek dagang Dji Sam Soe dan Sampoerna Kretek. Emiten dengan kode saham HMSP ini mengumumkan rencana penyerapan puluhan ribu tenaga kerja baru. Lokasinya tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat untuk fasilitas produksi SKT.

Realisasi rencana tersebut akan dimulai dengan pembukaan fasilitas produksi baru SKT Sampoerna di Kota Blitar, Jawa Timur, dan Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Perusahaan menjadwalkan fasilitas ini mulai beroperasi pada Semester 1 2024. Saat ini, Sampoerna mengoperasikan 4 fasilitas produksi SKT di Surabaya, Malang, dan Probolinggo; 2 fasilitas produksi sigaret mesin di Pasuruan dan Karawang; serta 1 fasilitas produksi produk tembakau inovatif bebas asap di Karawang. Selain itu, Sampoerna juga bermitra dengan 38 Mitra Produksi Sigaret (MPS) yang tersebar di 28 Kabupaten/Kota di Pulau Jawa.

Presiden Direktur Sampoerna Vassilis Gkatzelis mengatakan fasilitas ini akan menelan investasi hingga Rp638 miliar (sekitar US$42 juta) dan sudah memasuki tahap persiapan. “Kami optimistis bahwa langkah Sampoerna ini akan meningkatkan kesempatan kerja di sektor formal bagi masyarakat setempat sekaligus menciptakan multiplier effect yang kuat bagi pertumbuhan ekonomi,” katanya dalam keterangan resmi.

Baca Juga: Aliasi Masyarakat Tembakau Sebut RUU Kesehatan Jadi Regulasi Diskriminatif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Jane Aprilyani