KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pemerintah memberikan insentif pembelian hingga 1 juta motor listrik produksi dalam negeri berpotensi membuka pasar bagi industri suku cadang dan aksesori kendaraan listrik di Indonesia. Namun, peningkatan produksi kendaraan listrik perlu dibarengi dengan penguatan industri komponen lokal agar pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan pasar bagi pelaku usaha domestik. Dewan Penasihat Gabungan Industri Alat-Alat Mobil & Motor (GIAMM) Agus Tjahajana Wirakusumah mengatakan, peluang bagi industri suku cadang motor listrik akan semakin besar jika jumlah kendaraan listrik yang beredar telah mencapai skala yang cukup.
"Kalau jumlahnya sudah cukup, enggak disuruh pun mereka bikin," ujar Agus kepada Kontan, pekan lalu. Menurut Agus, terdapat tiga komponen utama pada motor listrik, yakni motor DC (direct current), controller, dan baterai. Ketiga komponen tersebut pada dasarnya sudah dapat diproduksi atau dirakit di dalam negeri. Namun, tantangannya adalah masih banyak motor listrik yang menggunakan komponen dari China dan hanya melakukan proses perakitan di Indonesia.
Baca Juga: Insentif Motor Listrik Turun jadi Rp 3 juta Per Unit, Begini Efeknya ke Penjualan Agus mencontohkan Gesits sebagai salah satu motor listrik yang sebelumnya memiliki tingkat kemandirian komponen cukup tinggi. Saat itu, motor dan baterai dapat dibuat di dalam negeri, sementara controller masih mengandalkan impor. Ia menilai, semakin banyak merek motor listrik yang mengandalkan komponen dari China, semakin terbatas pula peluang bagi industri komponen lokal untuk masuk ke rantai pasok. Karena itu, target produksi 1 juta unit motor listrik pada tahun depan menurut Agus perlu disertai dengan kebijakan yang mendorong peningkatan permintaan. Salah satunya melalui harga kendaraan yang lebih kompetitif dan pembangunan infrastruktur pengisian daya atau charging yang memadai. Agus menilai, pembangunan infrastruktur charging tidak bisa dipisahkan dari target penjualan kendaraan listrik. Pasalnya, keterbatasan fasilitas pengisian daya, terutama untuk perjalanan antarkota, dapat menjadi salah satu pertimbangan masyarakat ketika hendak membeli kendaraan listrik. Selain mendorong permintaan, pemerintah juga perlu memberikan dukungan fiskal pada tahap awal pengembangan industri komponen. Agus mencontohkan keringanan perpajakan, termasuk pembebasan PPN bagi pelaku usaha yang mulai memproduksi komponen atau kendaraan listrik.
Baca Juga: Insentif Motor Listrik Turun Jadi Rp 3 Juta, AISMOLI: Pasti Berpengaruh ke Penjualan Di sisi lain, Agus melihat peluang pertumbuhan juga terbuka bagi industri suku cadang mobil listrik seiring meningkatnya penjualan kendaraan listrik. Ia mengatakan, pertumbuhan permintaan komponen akan mengikuti perkembangan penjualan kendaraan listrik. Menurut dia, pemerintah dapat mendorong sisi suplai dan permintaan melalui berbagai instrumen. Untuk mobil listrik, insentif fiskal berupa pajak yang lebih rendah serta kebijakan nonfiskal seperti bebas dari ketentuan ganjil-genap sudah bagus. Namun, pembangunan infrastruktur charging tetap menjadi pekerjaan penting. Agus menilai fasilitas pengisian daya perlu diperbanyak, terutama untuk mendukung perjalanan antarkota. Bahkan dengan fasilitas fast charging, pengguna mobil listrik masih perlu menunggu sekitar 30-60 menit hingga baterai terisi penuh.
Agus juga melihat masuknya lebih banyak produsen mobil listrik ke Indonesia sebagai perkembangan positif bagi industri. Saat ini, sejumlah merek seperti Jaecoo, Wuling, AION, Hyundai, dan BYD telah masuk ke pasar Indonesia, sementara Toyota dan Honda juga berpotensi memperluas kendaraan listriknya. Menurut Agus, bertambahnya produsen akan membuat persaingan harga kendaraan listrik semakin ketat. Namun, di tengah persaingan tersebut, pembangunan infrastruktur charging tetap menjadi salah satu faktor kunci untuk memperluas pasar kendaraan listrik sekaligus mendorong pertumbuhan industri komponennya.
Baca Juga: AISMOLI: Insentif Motor Listrik Rp 3 Juta Kurang Efektif Jika Cair September Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News