KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri di Indonesia memasang sikap wait and see mencermati dinamika geo-politik pasca penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS). Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pelaku industri mengantisipasi implikasi lanjutan jika eskalasi konflik berdampak ke rantai pasok dan harga komoditas global. Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Investasi, Hilirisasi, Energi dan Lingkungan Hidup Kadin Indonesia, Bobby Gafur Umar mengatakan sejauh ini ketegangan AS dengan Venezuela tidak berdampak secara langsung terhadap perdagangan dan industri Indonesia. Tetapi, perkembangan situasi ke depan akan tergantung dari reaksi dunia atas konflik AS dengan Venezuela.
Baca Juga: Ini Detail Aturan RKAB 2026: Kementerian ESDM Izinkan Operasi Tambang hingga 31 Maret Sektor yang paling rentan terdampak adalah komoditas energi, khususnya minyak bumi. "Jika pasar energi berfluktuasi dengan kenaikan harga minyak akibat suplai dari Venezuela terdampak, khususnya ke China, maka bisa memicu risiko yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi global," kata Bobby kepada Kontan.co.id, Senin (5/1/2026). Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa menegaskan bahwa pelaku usaha perlu mencermati dengan serius setiap eskalasi geo-politik yang melibatkan negara produsen energi, termasuk ketegangan antara AS dengan Venezuela. "Bukan semata pada peristiwa politiknya, tetapi implikasi lanjutan terhadap rantai pasok, harga komoditas, dan sentimen pasar internasional," ungkap Erwin. Erwin menyoroti tiga dampak yang berpotensi hadir dari eskalasi konflik AS vs Venezuela. Pertama, volatilitas harga komoditas energi dan pangan. Sebab, ketidakpastian geo-politik dapat memicu spekulasi pasar, mendorong fluktuasi harga minyak, gas, dan produk turunannya. Kedua, gangguan rantai pasok dan pembiayaan perdagangan. Konflik geo-politik seringkali berdampak pada sistem pembayaran internasional, asuransi pengiriman, dan akses pembiayaan. Hal ini berpotensi meningkatkan biaya transaksi perdagangan lintas negara.
Baca Juga: Sedang Berburu Tiket Pesawat Murah? Catat 4 Jadwal Travel Fair pada 2026 Ketiga, perubahan arah kebijakan dagang dan investasi. "Ketegangan geopolitik biasanya diikuti oleh pengetatan kebijakan, sanksi ekonomi, atau realokasi investasi global ke negara yang dianggap lebih stabil," terang Erwin. Erwin menjelaskan, Kadin Indonesia melihat dinamika geo-politik saat ini dari dua sisi, yakni risiko yang perlu diantisipasi serta peluang strategis. Dari sisi risiko, Erwin mengingatkan kenaikan harga energi dapat berdampak pada biaya produksi industri dan inflasi. Selain itu, volatilitas nilai tukar akibat sentimen global bisa memengaruhi dunia usaha, terutama yang bergantung pada impor bahan baku. Di sisi yang lain, Kadin memandang Indonesia justru berpotensi menjadi alternatif tujuan investasi dan produksi di tengah upaya dunia usaha global mencari negara yang stabil secara politik dan ekonomi. Komoditas unggulan Indonesia seperti energi, mineral, dan pangan juga dapat memperoleh nilai tambah jika dikelola dengan kebijakan hilirisasi dan diversifikasi pasar ekspor. Kadin Indonesia pun mendorong pelaku usaha untuk mencermati tiga hal penting dalam mengantisipasi gejolak geo-politik pada awal tahun 2026 ini. Pertama, memperkuat manajemen risiko geo-politik, termasuk diversifikasi pasar dan sumber bahan baku. Kedua, mengoptimalkan pasar domestik sebagai penyangga ketika pasar global bergejolak. Ketiga, bersinergi dengan pemerintah agar kebijakan fiskal, perdagangan, dan energi tetap menjaga daya saing industri nasional di tengah ketidakpastian global. Erwin menegaskan, konflik geo-politik termasuk ketegangan AS dengan Venezuela saat ini lebih berdampak pada volatilitas jangka pendek.
Baca Juga: Konflik Venezuela Berpotensi Kerek Biaya Logistik dan Harga BBM Nonsubsidi "Selama stabilitas domestik, kepastian kebijakan, dan daya beli masyarakat terjaga, agenda pertumbuhan 2026 masih relevan dan dapat dicapai. Outlook secara umum tetap positif dan realistis, meskipun dengan asumsi kehati-hatian yang lebih tinggi," tandas Erwin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News