Inflasi Afrika Selatan Naik, Bank Sentral Belum Tentu Lanjutkan Kenaikan Bunga



KONTAN.CO.ID - CAPE TOWN. Inflasi Afrika Selatan kembali meningkat pada Mei 2026 dan mencapai level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir. Lonjakan harga energi akibat konflik Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran menjadi pemicu utama kenaikan tekanan harga di negara tersebut.

Melansir Bloomberg (17/6), Data Statistics South Africa menunjukkan inflasi tahunan naik menjadi 4,5% pada Mei, lebih tinggi dibandingkan 4% pada April. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah perkiraan ekonom yang memprediksi inflasi mencapai 4,7%.

Kenaikan inflasi juga tercermin dari inflasi inti (core inflation) yang meningkat menjadi 3,8% dari 3,6% pada bulan sebelumnya. Indikator ini menjadi perhatian utama bank sentral karena mencerminkan tekanan harga yang lebih mendasar dan berpotensi bertahan lebih lama.


Meski inflasi meningkat, ruang bagi bank sentral Afrika atau South African Reserve Bank (SARB) untuk menahan suku bunga masih terbuka. Pasalnya, harga energi global mulai mereda setelah tercapainya kesepakatan sementara antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital yang menangani sekitar 20% perdagangan minyak dunia melalui laut dan sepertiga pengiriman pupuk global sebelum sempat diblokade.

Baca Juga: Malaysia Cari Sumber Minyak Baru, Pertimbangkan Pasokan dari Afrika & Rusia

SARB sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan menjadi 7% dari 6,75% pada bulan lalu guna menjaga stabilitas harga. Namun, meredanya risiko lonjakan harga energi dapat mengurangi urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan Juli mendatang.

Gubernur SARB Lesetja Kganyago menegaskan, pihaknya belum dapat memastikan arah kebijakan moneter selanjutnya. Menurut dia, keputusan suku bunga akan ditentukan berdasarkan perkembangan data ekonomi terbaru.

"Kami mengambil keputusan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya. Namun yang jelas, kami berkomitmen menjaga inflasi tetap rendah dan stabil," ujarnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa meski tekanan inflasi masih meningkat, bank sentral Afrika Selatan kini menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan menghindari pengetatan moneter yang berlebihan ketika risiko dari sisi energi mulai mereda.

Baca Juga: Investor China Mulai Lirik Afrika, Dominasi Nikel Indonesia Terancam Kebijakan Baru