KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Inflasi pada Agustus 2026 meningkat menjadi 0,21% mtm, dari deflasi 0,14%
month to month (mtm) pada Juli 2026. Sedangkan inflasi secara tahunan naik dari 2,88%
year on year (yoy) pada Juli 2026 menjadi 3,19% yoy pada Agustus 2026. Adapun komoditas pangan merupakan kontributor terbesar, dipimpin oleh kenaikan harga daging ayam, cabai rawit, ikan, dan beras. Permintaan menguat selama liburan Maulid dan Hari Kemerdekaan, sementara program Makanan Bergizi Gratis (MBG) juga mendukung permintaan pangan.
Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman mengatakan, tekanan inflasi sisi penawaran diperkirakan masih akan berdampak pada harga konsumen, sehingga inflasi akhir tahun tetap di atas 3%. Menurutnya, kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan diperkirakan akan mendukung pertumbuhan pasokan uang (M2), yang dapat menambah tekanan inflasi. Program MBG juga dapat meningkatkan permintaan pangan, menciptakan risiko kenaikan inflasi harga yang bergejolak kecuali produksi pertanian dan ketahanan rantai pasokan meningkat secara memadai. “Selain itu, potensi terjadinya El Nino "Godzilla" harus dipantau secara cermat, karena dapat mengganggu produksi pertanian, menaikkan harga pangan, dan memperintensifkan tekanan inflasi,” tutur Faisal dalam keterangannya, Senin (1/9/2026).
Baca Juga: Harga Daging Ayam Ras Melonjak, Salah Satunya Imbas Program MBG Dari sisi eksternal, risiko inflasi impor tetap tinggi di tengah ketidakpastian yang berkelanjutan atas ketegangan geopolitik Timur Tengah dan prospek kebijakan Fed. Faktor-faktor ini telah berkontribusi pada lingkungan pasar yang menghindari risiko, membatasi arus masuk modal, dan memberi tekanan pada Rupiah. Tekanan pada rupiah diperkirakan akan tetap relatif tinggi hingga akhir tahun 2026, mengingat defisit transaksi berjalan atau
current account deficit (CAD) yang melebar dan sifat jangka pendek sebagian besar arus masuk modal, khususnya ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Faisal mengatakan, arus ini dapat berbalik dengan cepat jika The Fed menjadi lebih agresif dari yang diperkirakan. Disisi lain, perkembangan nilai tukar rupiah yang lebih lemah dinilai akan meningkatkan inflasi impor dan menaikkan biaya input impor. “Hal ini sudah tercermin dalam inflasi sisi penawaran, yang telah melampaui inflasi sisi permintaan, menunjukkan risiko yang semakin besar bahwa biaya produksi yang lebih tinggi, terutama untuk bahan baku impor, akan diteruskan ke harga konsumen,” jelasnya. Lebih lanjut, dengan asumsi pemerintah mempertahankan harga energi bersubsidi pada tingkat saat ini, Faisal memperkirakan inflasi utama akan mencapai sekitar 3,13% pada akhir tahun 2026, dibandingkan dengan 2,92% pada tahun 2025. Namun, jika ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat dan mengakibatkan kenaikan harga energi global yang berkepanjangan, inflasi dapat melebihi perkiraan kami saat ini. Hal ini akan meningkatkan tekanan pada pemerintah untuk menaikkan harga energi bersubsidi. “Setiap kenaikan harga energi bersubsidi domestik juga akan secara signifikan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga BI tambahan,” tambahnya.
Baca Juga: Impor Tiga Komoditas Utama Nonmigas Naik hingga Juli 2026 Melihat kondisi tersebut, Faisal menambahkan, aka nada kemungkinan kenaikan suku bunga BI lainnya pada tahun 2026 jika kondisi memburuk lebih lanjut. Meskipun demikian, skenario dasar tetap bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah di 5,75%. “Karena kami percaya kenaikan suku bunga terbaru telah memperhitungkan kemungkinan kenaikan Suku Bunga Dana Federal (FFR) pada kuartal keempat tahun 2026,” tandasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News