Inflasi Agustus 3,2%, Maybank Proyeksi BI Rate Ditahan 5,75% Hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Inflasi Indonesia kembali meningkat pada Agustus 2026. Kenaikan harga pangan menjadi pendorong utama inflasi, membuat inflasi umum semakin mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia (BI).

Ekonom Maybank Sekuritas Indonesia Brian Lee Shun Rong dalam riset 1 September 2026 mencatat inflasi umum (headline inflation) meningkat menjadi 3,2% secara tahunan pada Agustus 2026, dari 2,9% pada Juli 2026.

Level tersebut menjadi yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir dan semakin mendekati batas atas target inflasi BI sebesar 1,5%-3,5%.


Sementara itu, inflasi inti juga melanjutkan tren kenaikan secara bertahap. Inflasi inti naik menjadi 2,9% dari 2,8% dalam dua bulan sebelumnya.

Baca Juga: Ahok Kritik Pengetatan Restitusi Pajak, Bisa Bikin Pengusaha Bangkrut

"Inflasi headline dan inti masih dapat meningkat dalam beberapa bulan mendatang," tulis Brian Lee Shun Rong dalam riset tersebut.

Menurut Brian, angka inflasi Agustus secara umum sesuai dengan perkiraan Maybank Sekuritas Indonesia. Namun, realisasinya sedikit lebih tinggi dibandingkan konsensus median Reuters yang memperkirakan inflasi headline sebesar 3,13% dan inflasi inti 2,8%.

Secara bulanan, tekanan harga juga mulai meningkat. Inflasi headline tercatat 0,2% month-on-month (MoM) pada Agustus, berbalik dari deflasi 0,1% pada Juli. Inflasi inti juga naik 0,2% MoM, lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,14% pada Juli.

Harga pangan jadi biang inflasi

Kenaikan inflasi terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Inflasi kelompok tersebut mencapai 3,9% secara tahunan pada Agustus, naik dari 3% pada Juli.

Secara bulanan, harga kelompok ini meningkat 0,6%, menjadi kenaikan tertinggi sejak Maret 2026. Kenaikan tersebut terjadi seiring meningkatnya harga sejumlah komoditas pangan pokok akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Inflasi volatile food bahkan melonjak menjadi 4,1% pada Agustus dari hanya 2,5% pada Juli.

Baca Juga: Masyarakat Berpenghasilan Rp 4 Juta-Rp 6 Juta Dominasi Penerima PPN DTP Rumah

Di sisi lain, inflasi transportasi sedikit melandai menjadi 4,8% dari 5,1% pada Juli. Meski demikian, inflasi sektor transportasi masih relatif tinggi akibat kenaikan harga bensin dan tarif penerbangan.

Sejumlah kelompok pengeluaran lainnya juga mencatat kenaikan inflasi. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya meningkat menjadi 9,3% dari 9% pada Juli. Inflasi informasi dan komunikasi naik menjadi 1,7% dari 1,5%, sementara peralatan rumah tangga meningkat menjadi 2% dari 1,7%.

Inflasi pakaian dan alas kaki serta pendidikan masing-masing naik menjadi 1,2% dari 1%. Kenaikan tipis juga terjadi pada inflasi jasa makanan menjadi 2,7%, kesehatan menjadi 2,1%, serta rekreasi dan olahraga menjadi 1,3%.

Neraca dagang kembali surplus

Di tengah kenaikan inflasi, neraca perdagangan barang Indonesia kembali mencatat surplus pada Juli 2026 setelah mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut.

Brian mencatat surplus perdagangan Juli mencapai US$ 121,9 juta, sekaligus menjadi capaian terbaik sejak Maret 2026.

Ekspor tumbuh 6,1% secara tahunan dan 3% secara bulanan. Namun, pertumbuhan impor masih jauh lebih tinggi, yakni mencapai 27% secara tahunan, meski melambat dari 34,3% pada Juni. Secara bulanan, impor hanya tumbuh 0,7%.

Baca Juga: DJP Catat Setoran Pajak Kelas Kakap Capai Rp 468,1 Triliun hingga Agustus 2026

Defisit perdagangan minyak dan gas menyempit menjadi US$ 2,98 miliar dari US$ 3,5 miliar pada Juni. Sementara itu, surplus perdagangan nonmigas meningkat menjadi US$ 3,1 miliar dari US$3 miliar dan menjadi yang tertinggi dalam tiga bulan.

Kinerja ekspor ditopang sejumlah produk manufaktur. Ekspor besi dan baja meningkat 20,3%, mesin dan peralatan listrik tumbuh 22,5%, sedangkan produk kimia lainnya naik 15,8%.

Ekspor bahan bakar mineral di luar minyak dan gas, yang mencakup batubara, juga tumbuh kuat sebesar 34,9% secara tahunan.

Namun, ekspor minyak dan lemak hewani atau nabati, termasuk minyak sawit, turun 2,4% secara tahunan dan 6,2% secara bulanan setelah pada Juni masih tumbuh 10,5%.

Ekspor nikel dan barang berbahan nikel juga turun 12,9% secara tahunan. Ini merupakan kontraksi pertama sejak November 2025 setelah mencatat pertumbuhan dua digit selama tujuh bulan berturut-turut.

Menurut Brian, pelemahan ekspor nikel kemungkinan sebagian disebabkan keterlambatan proses clearance ekspor akibat kebingungan terkait persyaratan baru pengujian rare earth. Namun, keterlambatan tersebut sebagian besar telah terselesaikan.

Dari sisi pasar utama, ekspor nonmigas ke China masih tumbuh dua digit, yakni 17,5% secara tahunan, meski melambat dari 19,1% pada Juni. Ekspor ke Amerika Serikat tumbuh 8,6%, sementara ekspor ke India turun 7,8%.

Dari sisi impor, lonjakan masih didorong barang antara yang tumbuh 32,3% serta barang modal yang meningkat 17,4%.

Prospek neraca dagang masih penuh tantangan

Maybank memperkirakan surplus perdagangan barang masih dapat dipertahankan pada Agustus. Salah satu penopangnya adalah berakhirnya keterlambatan ekspor nikel serta kemungkinan percepatan ekspor batubara, minyak sawit, dan nikel sebelum penerapan persyaratan pelaporan yang lebih ketat oleh DSI pada 1 September.

Baca Juga: DJP Rombak Penempatan 1.261 Pegawai di Berbagai Jabatan Fungsional

Harga komoditas utama seperti batubara dan nikel yang lebih tinggi serta kuatnya permintaan impor China untuk kebutuhan industri dan belanja modal juga menjadi faktor pendukung ekspor Indonesia.

Namun, prospek neraca perdagangan ke depan dinilai masih penuh ketidakpastian.

Kenaikan harga minyak akibat kembali memanasnya ketegangan Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperlebar tekanan dari impor minyak. Di saat yang sama, impor barang modal diperkirakan tetap kuat seiring meningkatnya investasi industri China di Indonesia, pembangunan pusat data, serta investasi terkait hilirisasi bauksit.

Dari sisi ekspor, peningkatan konsumsi biodiesel domestik juga berpotensi menekan ketersediaan komoditas untuk pasar ekspor. Pemerintah menargetkan penerapan biodiesel B50 di seluruh stasiun pengisian bahan bakar pada 1 Oktober.

Risiko lainnya berasal dari gangguan cuaca akibat El Niño yang dapat memperketat pasokan komoditas ekspor.

Implementasi bursa komoditas baru juga perlu dicermati. Menurut Brian, jika upaya penetapan harga terlalu jauh dari mekanisme pasar, kondisi tersebut dapat berdampak terhadap ekspor komoditas dan mendorong pembeli beralih ke pemasok alternatif.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Maybank menaikkan proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia 2026 menjadi 2% dari produk domestik bruto (PDB), dari proyeksi sebelumnya 1%.

Sementara itu, neraca perdagangan barang berdasarkan basis kepabeanan BPS diperkirakan mencatat surplus sekitar 0,5% dari PDB sepanjang 2026.

Inflasi berpotensi naik lagi

Brian memperkirakan inflasi headline dan inti masih berpotensi meningkat dalam beberapa bulan mendatang. Hal ini dipengaruhi proses penerusan kenaikan biaya input dan logistik oleh pelaku usaha yang masih berlangsung.

Baca Juga: DJP Targetkan Penerimaan Pajak Rp 806 Triliun dari Wajib Pajak Besar

Kenaikan harga energi akibat ketegangan Amerika Serikat dan Iran juga berpotensi memberikan tekanan tambahan.

"Inflasi pangan dapat menghadapi tekanan ke atas akibat gangguan cuaca terkait El Niño ketika fenomena tersebut semakin intensif pada paruh kedua 2026," tulis Brian.

Tekanan harga energi juga mulai terlihat dari kenaikan harga Pertamina Dex non-subsidi sebesar 19% pada 1 September. Meski porsi konsumsi nasionalnya relatif kecil, kenaikan tersebut tetap menjadi salah satu sumber tekanan biaya.

Namun, permintaan konsumen yang masih relatif lemah diperkirakan dapat membatasi laju kenaikan inflasi.

Maybank mempertahankan proyeksi inflasi headline sebesar 3,5% pada 2026 dan 3% pada 2027. Dalam delapan bulan pertama 2026, rata-rata inflasi telah mencapai 3,4%.

BI diprediksi tahan bunga 5,75%

Meski inflasi semakin mendekati batas atas sasaran, Maybank Sekuritas Indonesia memperkirakan BI belum akan menaikkan maupun menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Baca Juga: OJK Lantik Pejabat Baru, Perkuat Pengawasan Bursa Mineral dan Komoditas

Brian memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75% pada rapat 22-23 September 2026.

Rupiah yang relatif stabil dan meredanya tekanan arus keluar portofolio memberikan ruang bagi BI untuk mempertahankan suku bunga pada level saat ini.

"Base case kami sekarang adalah BI akan mempertahankan suku bunga di 5,75% hingga akhir tahun selama USD/IDR tetap berada dalam kisaran 17.500-18.000," tulis Brian.

Tim valuta asing Maybank sendiri memperkirakan nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp17.800 per dolar AS pada akhir 2026.

Menurut Brian, inflasi yang tinggi serta ketidakpastian pasar global akan membatasi ruang BI untuk melonggarkan kebijakan moneter tahun ini. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta mengharuskan BI kembali menaikkan suku bunga.

Pasalnya, BI masih dapat menggunakan instrumen alternatif seperti memperluas transaksi lindung nilai foreign exchange swap.

Selain itu, pengaturan kebijakan moneter BI saat ini telah memperhitungkan satu kali kenaikan suku bunga The Federal Reserve tahun ini.

BI juga diperkirakan tidak akan merespons kenaikan inflasi yang bersumber dari sisi pasokan akibat El Niño dengan mengetatkan kebijakan moneter. Sebab, suku bunga pada dasarnya merupakan instrumen yang bekerja melalui sisi permintaan.

Untuk 2027, Maybank masih memperkirakan BI akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Proyeksi tersebut didasarkan pada perkiraan inflasi yang lebih rendah, yakni 3% pada 2027, sehingga membuka ruang bagi BI untuk kembali mengarahkan kebijakan moneternya guna mendukung pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, DPR telah menyetujui pengangkatan mantan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Gubernur BI yang baru pada 1 September 2026. Masa jabatan Destry akan berlaku selama lima tahun untuk periode 2026-2031.

Baca Juga: DJP Kantongi Rp 825,28 Miliar dari Penanganan Pajak Sektor Besi dan Baja

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News